Selasa, 28 November 2017

MAKALAH Tasawuf “tasawup masa rasul &sahabat,”

KATA PENGANTAR
                Segala puja, puji dan syukur hanya untuk Allah, karena dengan taufik dan hidayah-Nya dapatlah diselesaikan penulisan makalah ini. Selamat dan sejahtera semoga selalu tercurah kepada Muhammad, Rasul terakhir, pembawa ajaran Tuhan, sebagai  pembawa rahmat ntuk semesta alam. Juga selamt dan sejahtera semoga senantiasa tercurah kepada keluarga, sahabat dan  pengikut-pengikut beliau, yang begitu besar jasanya terhadap beliau dan perkembangan agama islam..
            Kehidupan Nabi pada awal diangkat menjadi Rasul sudah sangat sederhana dilihat dari keseharian nya yang hidup zuhd terhadap kehidupan dunia yang ditiru oleh para sahabatnya yakni para Khulafaur Rasyidin, dengan diikuti oleh para sufisme selanjutnya sehingga melahirkan keunggulan terhadap kesederhanan pada abad-abad selanjutnya Semoga dengan tugas makalah ini, penulis semakin bertambah rasa keingin tahuan terhadap kezuhudan para ulama dengan mengaplikasikan nya di era modern ini.





penulis












A.    PENDAHULUAN
Sejarah timbulnya tasawuf dalam islam, yaitu semenjak Nabi Muhammad SAW diutus menjadi rasul., untuk mengasingkan diri dari masyarakat kota mekkah yang sibuk dengan hawa nafsu keduniaan ia bersemedi di gua hira. Kehidupan nabi yang seperti itu bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh seorang sufi. Corak kehidupan kerohanian nabi itulah yang dijadikan sebagai pedoman dalam hidup kerohanian sesudahnya sebagai materi dalam tasawuf Tasawuf itu merupakan ajaran yang diikuti oleh orang sufi
Jika mencermati sirah, sejarah hidup Nabi maka akan terpapar dengan jelas bahwa ada hubungan erat antara pola hidup Rasulullah yang penuh kejuhudan dan kesederhanaan, dengan kehidupan kaum zuhud dimasa permulaan Islam, kemudian kaum sufi sejati setelah mereka yang menempa diri mereka dengan aneka macam riyadhah dengan tujuan meminimalisir tuntutan-tuntutan fisik agar jiwa mereka mudah menjalankan berbagai macam ibadah, berkomunikasi dengan Allah dan berdekatan dengan-Nya.
Tidak ada yang lebih menunjukkan fakta ini daripada deretan khabar tentang perilaku kehidupan beliau yang dimuat dalam sejumlah hadis shahih.











BAB II
PEMBAHASAN
A. Tasawuf Masa Nabi
Sejarah Tasawuf dimulai imam Ja’far Al-Shadiq ibnu Muhamad Bagir ibnu Ali Zaenal Abidin ibnu Husain ibnu Ali bin Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai guru dari keempat imam Ahlulsunnah, yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, dan ibnu Hambali.
Kaitan Imam Ja’far dengan tasawuf terlihat silsilah tariqah, seperti Naqsyabandiyah yang berujung pada sayyidina Abu Bakar As-Syiddiq ataupun yang berujung pada Imam Ali selalu melewati Imam Ja’far. Kakek buyut Imam Ja’far dikenal mempunyai sifat dan sikap sebagai sufi. Bahkan (mesti sulit untuk dibenarkan) beberapa ahli menyebutkan Hasan Ali Bashri, sufi-zahid pertama sebagai murid Imam Ali. Sedangkan Ali Zaenal Abidin (ayah Imam Ja’far)”.
Tasawuf lahir dan sebagai suatu yang disiplin ilmu sejak abad ke-2 H. Lewat pribadi Hasan Al-Bashri, Sufyan As-Tsauri, Al-Harits ibnu As’ad Al-Muhasibi, Yazid Busthami. Tasawuf tidak pernah bebas dari kritikan para ulama’ ahli fiqih, Hadits, dll.
Praktik-praktik Tasawuf dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama islam, yaitu Makkah dan Madinah.
Lahirnya Tasawuf di dorong oleh beberapa faktor berikut :
1.      Reaksi atas kecenderungan hidup hedonis (kesenangan) yang mengumbar syahwat.
2.      Perkembangan dari aspek moral spiritual.
3.       dari realitas umat yang secara politis didominasi oleh nalar kekerasan.

Menurut Hamka, kehidupan sufistik sebenarnya lahir bersama dengan lahirnya islam itu sendiri. Sebab, ia tumbuh dan berkembang dari pribadi Nabi Muhammad Saw.Benih-benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan perilaku nabi Muhammad SAW.
Peristiwa dan perilaku hidup nabi. sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat (mengasingkan diri) di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadhan disana nabi banyak berzikir dan bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pengasingan diri Nabi SAW di gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalawat. Kemudian puncak kedekatan Nabi SAW dengan Allah SWT tercapai ketika melakukan Isra Mikraj. Di dalam Isra Mikraj itu nabi SAW telah sampai ke Sidratulmuntaha (tempat terakhir yang dicapai nabi ketika mikraj di langit ke tujuh), bahkan telah sampai kehadiran Ilahi dan sempat berdialog dgn Allah. Dialog ini terjadi berulang kali, dimulai ketika nabi SAW menerima perintah dari Allah SWT tentang kewajiban shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Atas usul nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW memohon agar jumlahnya diringankan dengan alasan umatnya nanti tidak akan mampu melaksanakannya. Kemudian Nabi Muhammad SAW terus berdialog dengan Allah SWT. Keadaan demikian merupakan benih yang menumbuhkan sufisme dikemudian hari.
Perikehidupan (sirah) nabi Muhammad SAW juga merupakan benih-benih tasawuf yaitu pribadi nabi SAW yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona dengan kemewahan dunia. Dalam salah satu Doanya ia memohon: ”Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin” (HR.at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim).
“Pada suatu waktu Nabi SAW datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterimanya dengan sabar, lalu ia menahan lapar dengan berpuasa” (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i) .
Ibadah Nabi Muhammad SAW. Ibadah nabi SAW juga sebagai cikal bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam nabi SAW mengerjakan shalat malam, didalam salat lututnya bergetar karena panjang dan banyak rakaat salatnya. Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakan salat sampai azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat nabi SAW demikian tekun melakukan salat,
Aisyah bertanya: ”Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah, mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan salat?” nabi SAW menjawab:” Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur” (HR.Bukhari dan Muslim).Selain banyak salat nabi SAW banyak berzikir. Beliau berkata: “Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali” (HR.at-Tabrani).
Akhlak nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Akhlak nabi SAW bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT yang artinya: “Dan sesungguhnya kami (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS.Al Qalam:4) ketika Aisyah ditanya tentang Akhlak Nabi SAW, Beliau menjawab: Akhlaknya adalah Al-Qur’an”(HR.Ahmad dan Muslim). Tingkah laku nabi tercermin dalam kandungan Al-Qur’an sepenuhnya.
Dalam diri nabi SAW terkumpul sifat-sifat utama, yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun dan tidak mabuk pujian. Nabi SAW selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha.
Oleh karena itu, Nabi SAW merupakan tipe ideal bagi seluruh kaum muslimin, termasuk pula para sufi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.”.




B. Tasawuf Masa Sahabat
Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu perilaku kehidupan mereka dapat dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, Setidaknya kehidupan para sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW karena mereka menyaksikan langsung apa yang diperbuat dan dituturkan oleh Nabi SAW. :

1. Abu Bakar as-Siddiq
Sejak hari-hari pertama telah kelihatan bahwa diantara sahabat Nabi, Abu Bakar adalah yang terdekat kepada Nabi. Ia yang pertama memeluk agama islam diantara orang laki-laki yang dewasa, ia yang paling banyak memberikan pengorbanannya, baik kepada Nabi khususnya, maupun kepada islam umumnya. Tidak saja ia melindungi Nabi berdua dalam gua Hira’ waktu Hijrah ke Madina, tidak saja ia merupakan orang yang pertama membenarkan Rasulullah sepulang dari Isra’ dan Mi’raj, tetapi seorang yang telah memberi pengorbanan yang tidak terbatas kepada Nabi.
Pada mulanya ia adalah salah seorang Kuraisy yang kaya. Setelah masuk islam, ia menjadi orang yang sangat sederhana. Ketika menghadapi perang Tabuk, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, Siapa yang bersedia memberikan harta bendanya dijalan Allah SWT. Abu Bakar lah yang pertama menjawab:”Saya ya Rasulullah.” Akhirnya Abu Bakar memberikan seluruh harta bendanya untuk jalan Allah SWT. Melihat demikian, Nabi SAW bertanya kepada: ”Apalagi yang tinggal untukmu wahai Abu Bakar?” ia menjawab:”Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya.”
Diriwayatkan bahwa selama enam hari dalam seminggu Abu Bakar selalu dalam keadaan lapar. Pada suatu hari Rasulullah SAW pergi kemesjid. Disana Nabi SAW bertemu Abu Bakar dan Umar bin Khattab, kemudian ia bertanya:”Kenapa anda berdua sudah ada di mesjid?” Kedua sahabat itu menjawab:”Karena menghibur lapar.”
Diceritakan pula bahwa Abu Bakar hanya memiliki sehelai pakaian. Ia berkata:”Jika seorang hamba begitu dipesonakan oleh hiasan dunia, Allah membencinya sampai ia meninggalkan perhiasan itu.” Oleh karena itu Abu Bakar memilih takwa sebagai ”pakaiannya.” Ia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat rendah hati, santun, sabar, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah dan zikir.

2. Umar bin Khattab
Umar bin Khattab yang terkenal dengan keheningan jiwa dan kebersihan kalbunya, sehingga Rasulullah SAW berkata:” Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.” Ia terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya. Diriwayatkan, pada suatu ketika setelah ia menjabat sebagai khalifah, ia berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan.
Diceritakan, Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khatab, ketika masih kecil bermain dengan anak-anak yang lain. Anak-anak itu semua mengejek Abdullah karena pakaian yang dipakainya penuh dengan tambalan. Hal ini disampaikannya kepada ayahnya yang ketika itu menjabat sebagai khalifah. Umar merasa sedih karena pada saat itu tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian anaknya. Oleh karena itu ia membuat surat kepada pegawai Baitulmal (Pembendaharaan Negara) diminta dipinjami uang dan pada bulan depan akan dibayar dengan jalan memotong gajinya.
Pegawai Baitulmal menjawab surat itu dengan mengajukan suatu pertanyaan, apakah Umar yakin umurnya akan sampai bulan depan. Maka dengan perasaan terharu dengan diiringi derai air mata , Umar menulis lagi sepucuk surat kepada pegawai Baitul Mal bahwa ia tidak lagi meminjam uang karena tidak yakin umurnya sampai bulan yang akan datang.
Disebutkan dalam buku-buku tasawuf dan biografinya, Umar menghabiskan malamnya beribadah. Hal demikian dilakukan untuk mengibangi waktu siangnya yang banyak disita untuk urusan kepentingan umat. Ia merasa bahwa pada waktu malamlah ia mempunyai kesempatan yang luas untuk menghadapkan hati dan wajahnya kepada Allah SWT.



3.Usman bin Affan
Usman bin Affan yang menjadi teladan para sufi dalam banyak hal. Usman adalah seorang yang zuhud, tawaduk (merendahkan diri dihadapan Allah SWT), banyak mengingat Allah SWT, banyak membaca ayat-ayat Allah SWT, dan memiliki akhlak yang terpuji. Diriwayatkan ketika menghadapi Perang Tabuk, sementara kaum muslimin sedang menghadapi paceklik, Usman memberikan bantuan yang besar berupa kendaraan dan perbekalan tentara.
Diriwayatkan pula, Usman telah membeli sebuah telaga milik seorang Yahudi untuk kaum muslimin. Hal ini dilakukan karena air telaga tersebut tidak boleh diambil oleh kaum muslimin.
Dimasa pemerintahan Abu Bakar terjadi kemarau panjang. Banyak rakyat yang mengadu kepada khalifah dengan menerangkan kesulitan hidup mereka. Seandainya rakyat tidak segera dibantu, kelaparan akan banyak merenggut nyawa. Pada saat paceklik ini Usman menyumbangkan bahan makanan sebanyak seribu ekor unta.
Tentang ibadahnya, diriwayatkan bahwa usman terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur’an. Tebasan pedang para pemberontak mengenainya ketika sedang membaca surah Al-Baqarah ayat 137 yang artinya:…”Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ketika itu ia tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya, bahkan tidak mengijinkan orang mendekatinya. Ketika ia rebah berlumur darah, mushaf (kumpulan lembaran) Al-Qur’an itu masih tetap berada ditangannya.

4. Ali bin Abi Talib
Ali bin Abi Talib yang tidak kurang pula keteladanannya dalam dunia kerohanian. Ia mendapat tempat khusus di kalangan para sufi. Bagi mereka Ali merupakan guru kerohanian yang utama. Ali mendapat warisan khusus tentang ini dari Nabi SAW. Abu Ali ar-Ruzbari , seorang tokoh sufi, mengatakan bahwa Ali dianugerahi Ilmu Laduni. Ilmu itu, sebelumnya, secara khusus diberikan Allah SWT kepada Nabi Khaidir AS, seperti firmannya yang artinya:…”dan telah Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami.” (QS.Al Kahfi:65).
Suatu waktu ia tengah menjinjing daging di Pasar, lalu orang menyapanya:”Apakah tuan tidak malu memapa daging itu ya Amirulmukminin (Khalifah)?” Kemudian dijawabnya:”Yang saya bawa ini adalah barang halal, kenapa saya harus malu?”.
Abu Nasr As-Sarraj at-Tusi berkomentar tentang Ali. Katanya:”Di antara para sahabat Rasulullah SAW Amirulmukminin Ali bin Abi Talib memiliki keistimewahan tersendiri dengan pengertian-pengertiannya yang agung, isyarat-isyaratnya yang halus, kata-katanya yang unik, uraian dan ungkapannya tentang tauhid, makrifat, iman, ilmu, hal-hal yang luhur, dan sebagainya yang menjadi pegangan serta teladan para sufi.
Diantara Ahl as-Suffah itu ada yang mempunyai keistimewahan sendiri. Hal ini memang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada mereka seperti Huzaifah bin Yaman yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang Munafik. Jika ia berbicara tentang orang munafik, para sahabat yang lain senantiasa ingin mendengarkannya dan ingin mendapatkan ilmu yang belum diperolehnya dari Nabi SAW. Umar bin Khattab pernah tercengang mendengar uraian Huzaifah tentang ciri-ciri orang munafik.
Adapun Abu Zar al-Giffarri adalah seorang Ahl as-Suffah termasyur yang bersifat sosial. Ia tampil sebagai prototipe (tokoh pertama) fakir sejati. Abu Zar tidak pernah memiliki apa-apa, tetapi ia sepenuhnya milik Allah SWT dan akan menikmati hartanya yang abadi. Apabila ia diberikan sesuatu berupa materi, maka materi tersebut dibagi-bagi kepada para fakir miskin.
Begitu juga Salman Al Farisi salah seorang Ahli Suffah yang hidup sangat sederhana sampai akhir hanyatnya. Beliau merupakan salah satu Ahli Silsilah dari Tarekat Naqsyabandi yang jalur keguruan bersambung kepada Saidina Abu Bakar Siddiq sampai kepada Rasulullah SAW.












      BAB III
KESIMPULAN
Mudah-mudahan tulisan di atas menjadi informasi yang bermanfaat bagi kita semua sehingga tidak ragu dalam berguru mengamalkan ajaran Tasawuf yang merupakan inti sari Islam yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan kemudian ajaran mulia ini diteruskan oleh Para Sahabat, Tabi’in, Tabi Tabi’in serta para Guru Mursyid sambung menyambung dengan tetap menjaga kemurniannya sehingga ajaran tasawuf zaman Rasulullah SAW sampai kepada kita tetap dalam keadaan murni. Para Guru Mursyid adalah khalifah Rasulullah SAW ulama Warisatul Anbiya yang menjaga amanah Rasulullah SAW, tidak berani menambah dan mengurangi sehingga ilmu Tasawuf itu tetap terjaga sepanjang zaman.















DAPTAR PUSTAKA
1.      Departemen Agama RI, 1981/1982, Pengantar Ilmu Tasawuf, Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Sumatera Utara. Medan.

2.      Ris’an Rusli. 2013. Tasawuf dan Tarekat. Jakarta: Rajawali Pers.

4.      Ahmad Bangun Haji Nasution. 2013. Akhlak Tasawuf: Pengenalan, pemahaman, dan pengaplikasiannya. Jakarta: Rajawali Pers.

5.      Abubakar Aceh. 1996. Pengantar Ilmu Tarekat. Solo: Ramadhani.


Makalah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam tentang Mazhab Alternatif

Bab I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
      Sejarah pemikiran ekonomi Islam dimulai dari pendekatan dan metode sejarah pemikiran ekonomi Islam kemidian sampai kepada pembahasan mazhab alternatif yang menerangkan tentang analisis kritis bukan hanya dilakukan pada mazhab kapitalisme dan sosialisme tetapi juga terhadap ekonomi Islam itu sendiri. Islam adalah agama yang benar tetapi ekonomi Islam tentu benar karena tafsira manusia terhadap Al-Qur’ab dan Al-Hadis sehingga kebenarannya belum tentu mutlak.
      Proporsi dan teori-teori yang dianjukan dan oleh ekonomi Islam haruslah selalu diuji kebenarannya sebagaimana yang dilakukan terhadap ekonomi konvesional. Ekonomi Islam selalu memberi kesempatan untuk ekonomi sebagai ilmu yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu ekonomi lain.
B.     Rumusan Masalah
1.        Bagaimana gagasan dan jejaring mazhab alternatif ?
2.        Bagaimana konteks kemunculan mazhab alternatif ?
C.     Tujuan Makalah
Untuk mengetahui jawaban atas rumusan masalah diatas.






Bab II
Pembahasan
A.    Mazhab Alternatif
      Mashab alternatif ini mengkritik dua mazhab yaitu, mazhab Baqir dan mazhab mainstream. Mazhab Baqir dikritik sebagai mazhab yang berusaha menemukan sesuatu yang baru yang sebenarnya telah ditemukan oleh orang lain. Menghancurkan toeri yang baru. Sedangkan mazhab mainstream dikritiknya sebagai jiplakan dari ekonomi neoklasik dengan menghilangkan variabel riba dan memasukkan variabel zakat da niat.
1. Gagasan Mazhab Alternatif
a. Timur Kuran
      Ia adalah seorang dosen ekonomi di Southen California, University, USA. Tulisan artikel-artikelnya yaitu: “The Economy System in Contemporary Islamic Thought”. Mazhab ini mengkritik  mengkritik dua mazhab sebelumnya yaitu mazhab baqir dikritik sebagai mazhab yang berusaha menemukan teori baru yang sesumgguhnya telah ditemukan oleh orang lain. Alternatif mempunyai pendapat bahwa analitiss bukan saja harus dilakukan terhadap sosialisme dan kapitalis, tetapi terhadap ekonomi islam itu sendiri.
      Mazhab ini paling sering digunakan karena paling realistis dan pada beberapa sector telah menemukan teori-teori baru. Selain itu ada beberapa alas an yang kuat diantaranya yaitu:
·         Pertama tidak ada satu cabang ilmu yang hadir dikemudian hari tanpa ada berkaitan dengan disiplin ilmu yang telah dikembangan pada masa sebelumnya. 
·           Kedua, pondasi rancangan ekonomi, islam pada saat inibelum sepenuhnya kokoh dan macam-macam teorinya sebagai.
Mazhab ini adalah mazhab kritis. Mereka berpendapat bahwa islam itu benar tetapi ekonomi islam belum tentu benar karena ekonomi islam adalah tafsiran manusia atas Al-qur’an dan As-sunah. Oleh karena itu nilai kebenarannya tidaklah mutlak. Teori-teori yang diajukkan oleh ekonomi islam harus selalu diuji kebenarannya sebagaimana yang telah dilakukan terhadap ekonomi konvensional.
Masing-masing dari ketiga mazhab telah memiliki ciri menonjol, seperti halnya mainstream yang terlihat paling moderat karena sikapnya terhadap sistem ekonomi konvensional yang tidak semata-mata dihapus, melainkan dipilah berdasarkan prinsip metodologi. Teori islam jika mendapatkan sesuatu yang tidak salah dan dibolehkan atau dibenarkan maka hal itu dilaksanaknan dan apabila ada yang salah maka hal itu dihilangkan. Begitu juga sikapnya terhadap permasalahan pangkal dari sebuah teori ekonomi berupa scrachity (kelangkaan) yang pada dasarnnya titik tolaknya sama melainkkan pada distribusinya. Hal ini berbeda sekali dengan As-Shadr, yang sampai tegasnya mazhab ini berpendapat bahwa, jika ingin dinamakan ekonomi islam seharusna tidak perlu pakai istilah ekonomi tetapi dengan istilah yang berubah yakni iqtishoduna.
Seperti halnya kekurangan mazhab sebelu mazhab alternative, cenderung mudah disalah presepsikan sebagai ekonomi minus riba plus zakat dapat kemudian ditegaskan oleh mazhab As-Shadr dan dikoreksi secara terus-menerus oleh alternative. Teori pada dasarnya akan mengalami evolusi melalui pelestarian inovasi. Maka terdapat suatu proses evolusi dalam sejarah manusia, proses ini ditandai dengan dua kecenderungan yakni keanekaragaman dan kemajuan. Keanekaragaman mengacu kepada kenyataan bahwa jumlah dan aneka masyarakat sangat meningkat dan pola-pola adaptasi manusia semakin lama semakin berbeda-beda. Sementara kemajuan tidak mengacu kepada peningkatan kebahagiaan atau moralitas tetapi kepada perkembangan teknologi dan perubahan organisasi dan ideologi yang terjadi bersamaan dengan perkembangan teknologi.
2.      Jejaring Mazhab Alternatif
      El-Ashakerda Wilson  (2006)  menulis, “sejak awal abad ke-21, jumlah proyek intelektual ekonomi islam telah berpengaruh begitu kuatnnya terhadap corak dan struktur pemikiran ekonomi islam”. Tidak kurang dari 700 judul yang orisil dan komentar tentang ekonomi islam ditulis dari tahun 1950-an hingga akhir tahun 1970-an.
      Kenyataan ini mengukuhkan bahwa ekonomi islam terus berkembang seiring tumbuhnya minat yang besar di kalangan ekonomi muslim untuk mengkaji ekonomi islam secara intens. Saat ini, hal itusemakin terasa ketika muncul beberapa mazhab kontemporer ekonomi islam yakni mazhab Baqir As-Shadr, kemudian lahiralah mazhab alternatif yang menjadi “pertanda” bahwa ekonomi tidak tunggal, cenderung bersifat heterodoks. Dari sebelumnya terjadi ketidak sesuaian atau perbedaan pendapat. Ini adalah konsekuensi dari upaya manusia untuk memahami ekonomi, tidak berlebihan jika Schumpeter (2006) memandang bahwa sejarah ekonomi adalah sejarah intelekual yang lahir meninggalkan jejak ketika manusia mencoba memahami fenomena  ekonomi.
      Intensitas pengoprasian sistem ekonomi akan mengantarkan sejarawan ekonomi memahami transformasi dan kriteria setiap pemikiran ekonomi yang tumbuh disepanjang patahan-patahan pemikiran ekonomi, tidak terkecuali pemikiran ekonomi islam.Teori- teori ekonomi dihasilkan ideologi tumbuh, dan berbagai penelitian di produksi. Tumbuhnya fase kontemporer ekonomi islam agaknya adalah mata rantai dari semangat pemikiran ekonomi yang tumbuh di dunia muslim. Menguatnya pertumbuhan ekonomi islam, lengkap dengan struktur ekonomi.yang ditawarkan seperti tumbuhnya perbankan dan keuangan islam merupakan fakta yang menguatkan bahwa penggabaian peran historis sarjana muslim teerhadap perkembangan pemikiran ekonomi oleh Joseph A. Schumpeter adalah naïf, karena di puji-puji semakin hari semakin menunjukkan kelemahannya. Ini mendorong tumbuhnya kesadaran dikalangan umat islam untuk kembali memperbaiki diri untuk pemikiran ekonomi yang pernah dibahas oleh sarjana muslim klasik, bahkan telah dipraktikan sebagai sebuah sistem kebijakan ekonomi.
      Kini pada fase alternative pemikiran ekonomi terus digali, ditafsir ulang hingga diterjemahkan secara sistematis sehingga melahirkan semacam spektrum ekonomi islam, yang unik dan terdiferensiasi. Apabila dibandingkan dengan sistem ekonomi konvensional. Ada pengaruh kinerja intelektual yang dibangun oleh para pemikir ekonomi klasik khusnya di bidang ekonomi, terhadap tumbuh dan berkembangnya aliran scholasticism Eropa. Pengaruh ini secara intensif dalam pengembangan ekonomi islam sehingga mudah menemukan adanya benang merah antara pemikiran strukturlogis ekonomi islam kontemporer khusnya dalam mazhab Baqi  As-Shadr dan mazhab alternatif.
3.      Konteks Kemunculan Mazhab Alternatif
      Konteks lahirnya mazhab alternatif kapitalisme lanjut (The Late Capitalism) telah mencengkram kehidupan ekonomi dunia dengan kuatnya. Tidak sekedar mencengkram, kapitalisme kini tumbuh dalam bentuk yang super hebat, halus dan kasar. Ada paradox dan ambevalensi yang menyertai tumbuhnya kapitalisme menjadi sistem budaya ekonomi. Wacana ekonomi global yang dikendalikan oleh sistem kapitalisme lanjut menjadi sebuah tempat perlombaan, kecepatan, persaingan. Hal ini menggabungkan bahwa kapitalisme telah menjadi mekanisme tunggal yang kompleks untuk tidak mengatakannya sebagai virus yang memicu banyak gangguan terhadap tumbuh sosial.
      Kapitalisme lanjut terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki fungsi yang penting dan besar dan budaya ekonomi global sekarang ini. Setiap gerak ekonomi dan prilaku ekonomi kini diarahkan untuk menjawab, merespon, dan memberikan yang terbaik sebagai budaya dan identitas kapitalisme lanjut. Pasar konvensional dijadikan sebagai arena jual beli atau transaksi barang dan jasa menjelang abad ke 21 berubah wujud menjadi super pasar atau hypermarket yaitu, yaitu pasar yang melampaui pengertian pasar yang konvensional.
      Pasar-pasar modern tidak hanya digunakan sebagai transaksi saja tetapi telah menjadi ruang tempat terjadi akulturasi, sebuah tempat untuk belajar mencari nilai-nilai, tempat membangun diri, dan masih banyak lagi yang lainnya. Stanford 2008 menyatakan bahwa kapitalisme telah berlangsung dan tumbuh dengan suburnya selama 300 tahun. Ini menjadi pertanda bahwa kapitalisme lanjut telah menjadi suatu yang kompleks dengan tingginya tingkat ketergantungan padanya, lengkap dengan paradoks serta kontradiksi yang dihasilkan oleh kapitalisme lanjut ini. Krisis siklis dehumanisasi ekonomi, dan konglomerasi telah menjadi paradoks kapitalisme lanjut yang tidak bisa disingkirkan bahkan tampak menumbuh dengannnya.
      Elster dan Moene 1993 menulis bahwa kapitalisme telah meninggalkan kejelekan, irasionalisme cara-cara dalam melakukan produksi serta distribusi barang dan jasa. Hal lainnya adalah pengangguran yang masih begitu jelas. Kendati Elster dan Moene menyatakan sosialisme tidak dapat dinilai dengan kepercayaan diri yang tinggi sebagai sistem yang lebih baik daripada kapitalisme minimal kritik yang lahir dari sosialisme agaknya mampu melacak akar paradoks yang lahir dari kapitalisme baik dari struktur ekonomi maupun dalam struktur sosial ketika kapitalisme masuk kedalamnya.
      Kartani 2003 memaparkan bahwa dikalangan Marxisme, krisis merupakan kritik fundamaental terhadap teori ekonomi. Menurut kalangan Marxisme mereka yang terlanjur menawarkan sosialismae sebagai solusi. Uang adalah akar dari masalah krisis kapitalisme, seharusnya uang tidak diposisikan sebagai komoditas melainkan sebagai media instrumen. Dalam kapitalisme dikenal istilah “self reproductive money”  istilah ini muncul karena ada perdagangan.
      Hoppe (2010) menegaskan bahwa sosisalisme bermoral dari pada kapitalisme bagi sosialisme hal ini terbilang menggangu karena sesungguhnya yang ada dalam aktifitas ekonomi adalah ego individual. Inilah akar dari kapitalisme kini sosialisme telah mendaminasi spirit modern, dalam makna yang banyak masa yang menyetujui dan mengekspresikannya. Menurut Ludwig Van Misses yaitu salah satu doktrin terkuat yang dimiliki sosialisme adalah kritiknya yang tajam terhadap masyarakat borjuis meskipun sosialisme tidak bisa terlepas dari kritik yang tajam bahkan banyak idealisme yang dibangun oleh sosialisme. Misses memaparkan sosialisme dipahami dalam hal bekerja mekanisme ekonomi, yaitu ketika sosialisme tampaknya kurang paham tentang fungsi sebagai institusi sosial yang berbasis pada pembagian kerja dan kepemilikan privat.
      Memang tidak mudah memaparkan kesalahan teori tentang sosialis dengan menggunakan teori ekonomin, tetapi kritik akan lebih tepat dilakukan terhadap doktrin yang dilakukan oleh sosialisme. Hak ini tidak bisa terlepas dari yang terkandung dalam doktrinsosialisme, hal yang tidak akan ditemukan dalam kapitalisme lanjut.     
      









Bab III
Penutup
A.    Kesimpulan
      Dalam mazhab alternatif berpendapat bahwa analisis kritis bukan hanya dilakukan terhadap kapitalisme dan sosialisme tetapi juga terhadap ekonomi islam itu sendiri. Mereka yakin bahwa islam itu pasti benar tetapi ekonomi islam belum tentu benar, karena dia adalah tafsiran manusia terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadist, sehingga nilai kebenarannya tidaklah mutlak.
      Proposisi dan teori-teori yang diajukan oleh ekonom-ekonom Islam haruslah selalu diuji kebenarannya sebagaimana yang dialukan terhadap ekonomi konvensional. (Memberi kesempatan untuk ekonomi sebagai ilmu yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu-ilmu lain).   












Daftar Pustaka


PSIKOLOGI AGAMA

1 definisi psikologi agama,ruang lingkup beserta manfaatnya
PENGERTIAN PSIKOLOGI AGAMA
Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. Sebenarnya kata psikologi secara harfiah berasal dari psyche: jiwa dan logos: ilmu. Dalam mitologi Yunani, Psyche adalah seorang gadis cantik bersayap seperti kupu-kupu. Di sini  jiwa pun digambarkan seperti seorang gadis cantik dan kupu-kupu sebagai simbol keabadian. Dengan demikian psikologi dapat diartikan dengan “ilmu pengetahuan tentang jiwa” dan dapat disingkat dengan “ilmu jiwa”[[1]]
Menurut Verbeek, psikologi adalah ilmu yang menyelidiki penghayatan dan perbuatan manusia. Menurut Drs. Bimo Walgito, psikologi merupakan suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari tentang tingkah laku serta aktivitas-aktivitas,dimana tingkah laku serta aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan.[[2]]Menurut Robert H. Thouless, psikologi sekarang digunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia.[[3]]
            Secara umum psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala keejiwaan yang berada di belakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya. Sikap dan perilaku yang terlihat adalah gambaran dari gejala jiwa seseorang.[[4]]
RUANG LINGKUP PSIKOLOGI AGAMA
            Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lainnya. Sebagai contoh, dalam tujuannya psikologi agama dan ilmu perbandingan agama memiliki tujuan yang tak jauh berbeda, yakni mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan mengaplikasikan metode-metode penelitian yang bertipe bukan agama dan bukan teologis. Bedanya adalah, bila ilmu perbandingan agama cenderung memusatkan perhatiannya kepada agama-agama primitif dan eksotis tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman dengan memperbandingkan satu agama dengan agama lainnya. Sebaliknya psikologi agama, seperti pernyataan Robert H. Thouless, memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi.[[5]]
Prof. Dr. Zakiah Daradjat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama, yang dianut). Oleh karena itu, menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai:
Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tenteram sehabis sembahyang, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci, perasaan tenang, pasrah, dan menyerah setelah berzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan, rasa gelisah yang menghantui ketika meninggalkan shalat, rasa ketakutan setelah melakukan yang dilarang agama, rasa bersalah setelah melakukan dosa.Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya, misalnya rasa tenteram, damai, dan kelegaan batin.
            Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang. Pengaruhnya biasanya berupa meningkatnya ketaatan seseorang terhadap kepercayaan yang dianutnya, karena dia yakin akan adanya kehidupan setelah kematian, kehidupan akhirat yang kekal dibandingkan dengan kehidupan duna yang fana, serta dia yakin akan adanya hari pembalasan, dimana berupa tempat kembali yakni neraka dan surga.
            Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan. Dengan seseorang yakin akan adanya surga dan neraka serta adanya dosa dan pahala, maka manusia tersebut akan senantiasa berbuat baik dan tidak berbuat apa-apa yang dilarang agama.Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat ayat suci kelegaan batinnya.[[6]]     Psikologi agama tidak memasuki wilayah ajaran dan keyakinan suatu agama atau ideologi tertentu. Hal ini mengandung makna, bahwa psikologi agama tidak berwenang untuk mendukung, membenarkan, menolak, atau menyalahi ajaran, keyakinan, atau ideologi tertentu.[[7]] Untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai batas yang menjadi penelitian psikologi agama, agaknya perlu diketahui istilah-istilah yang dipakai dalam kajianya. Dua istilah yang lazim dipakai adalah kesadaran beragama (religious conciousnes), dan pengalaman beragama (religious of experience).
Menurut Zakiah Darajat, kesadaran beragama (religious conciousnes) adalah aspek mental dari aktivitas agama. Aspek ini merupakan bagian/segi agama yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi. Sedangkan yang dimaksud dengan pengalaman agama (religious of experience) adalah unsur perasaan dalam kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan dalam tindakan (amaliyah) nyata.[[8]] Karenanya, psikologi agama tidak mencampuri segala bentuk permasalahan yang menyangkut pokok keyakinan suatu agama, termasuk tentang benar salahnya atau masuk akal dan tidaknya keyakinan agama.
Tegasnya psikologi agama hanya mempelajari dan meneliti fungsi-fungsi jiwa yang memantul dan memperlihatkan diri dalam perilaku dalam kaitannya dengan kesadaran dan pengalaman agama manusia. Kedalamnya juga tidak termasuk unsur-unsur keyakinan yang bersifat abstrak (gaib) seperti tentang Tuhan, surga dan neraka, kebenaran sesuatu agama, kebenaran kitab suci dan lainnya, yang tak mungkin teruji secara empiris.
Dengan demkian, psikologi agama menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat adalah mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya. Persoalan pokok dalam psikologi agama adalah kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah laku agama, kata Robert H. Thouless. Atau kajian terhadap tingkah laku agama dan kesadaran agama.[[9]]
MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI AGAMA
Seperti diketahui bahwa psikologi agama sebagai salah satu cabang dari psikologi juga ilmu terapan. Psikologi agama sejalan dengan ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang dianutnya. Kemudian bagaimana rasa keagamaan itu tumbuh dan berkembang pada diri seseorang dalam tingkat usia tertentu, ataupun bagaimana perasaan keagamaan itu dapat mempengaruhi ketentraman batinnya, maupun berbagai konflik yang terjadi dalam diri seseorang hingga ia  menjadi lebih taat dalam menjalankan ajaran agamanya atau meninggalkan ajaran itu sama sekali.[[10]]
Hasil kajian psikologi agama tersebut, ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan, seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi, kedokteran, pengobatan alternatif misalnya ruqyah, ekonomi/perikanan, dakwah, politik maupun mendorong program-program Pemerintah seperti KB, transmigrasi, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya.[[11]]
Bahkan, sudah sejak lama Pemerintahan kolonial Belanda memanfaatkan hasil kajian Psikologi Agama untuk kepentingan politik. Pendekatan agama yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje terhadap para pemuka agama dalam upaya mempertahankan politik penjajahan Belanda di tanah air, barangkali dapat dijadikan salah satu contoh kegunaan Psikologi Agama. Demikian juga, dari hasil penelitian diberbagai perusahaan yang melakukan pembinaan agama secara berkala kepada para karyawan maupun memberikan jam-jam istirahat untuk salat, ternyata dapat meningkatkan kejujuran, kepercayaan dan etos kerja mereka yang ada kaitannya dengan perkembangan kesadaran agama mereka.[[12]]
Di bidang industri juga psikologi agama dapat dimanfaatkan. Sekitar tahun 1950-an di perusahaan minyak Stanvac (Plaju dan Sungai Gerong) diselenggarakan ceramah agama islam untuk para buruhnya. Para penceramah adalah para pemuka agama setempat. Kegiatan berkala ini diselenggarakan didasarkan atas asumsi bahwa ajaran amengandung nilai-nilai moral yang dapat menyadarkan para buruh dari perbuatan yang tak terpuji dan merugikan perusahaan. Sebaliknya dari hasil kegiatan tersebut dievaluasi, dan ternyata pengaruh ini dapat mengurangi kebocoran seperti pencurian, manipulasi maupun penjualan barang-barang perusahaan yang sebelumnya sukar dilacak.[13]

2 a. teori tentang pertumbuhan jiwa keagamaan berdasarkan psikologi agama?
- Teori psikologi agama
1. Teori Monistik : (Mono=Satu)
     Teori monistik berpendapat, bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu adalah satu sumber kejiwaan. Selanjutnya sumber tunggal manakah yang dimaksud yang paling dominan sebagai sumber kejiwaan itu timbul beberapa pendapat, yaitu yang dikemukakan oleh :
            a.       Thomas Van Aquino       
Sesuai dengan masanya Thomas Aquino mengemukakan, bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu, ialah berpikir. Manusia ber-Tuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berpikir manusi itu sendiri. Pandangan semacam ini masih tetap mendapat tempatnya hingga sekarang di mana para ahli mendewakan rasio sebagai satu-satunya motif yang menjadi sumber agama.

                  b.      Fredrick Hegel
Hampir sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh Thomas Van Aquino, maka filosof Jerman ini berpendapatk agama adalah suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi.

2.      Teori Fakulti (Faculty Theory)
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak bersumber pada suatu faktor  yang tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsure, antara lain yang dianggap memegang peranan penting adalah : fungsi cipta (reason), rasa (emotion) dan karsa (will).
Demikian pula perbuatan manusia yang bersifat keagamaan dipengaruhi dan ditentukan oleh tiga fungsi tersebut :
                1.      Cipta (reason) berperanan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
                 2.      Rasa(emotion) menimbulkansikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
                 3.      Karsa (will) menimbulkan amalan-amalan atau doktrin keagamaan yang benar dan logis.
      (Jalaludin.1998.Psikologi Agama.Jakarta:Grafindo Persada)

   b. fase -fase tentang perkembangan agama pada anak atau sifat sifat keagamanya
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian;
1)      Tingkat Dongeng (The Fairly Tale Stage)
Pada tahap ini anak yang berumur 3-6 tahun konsep mengenal Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi sehingga dalam menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fantastik, yang diliputi oleh dongeng-dongeng. Menurut hasil penelitian Dr. Hanni mengindikasikan bahwa kemampuan berfikir tentang konsep agama pada anak sangat sedikit, kalau tidak dikatakan tidak ada artinya dan itu hanyalah permainan bebas dari fantasi dan emosinya. Hal ini menjadi wajar, karena konsep agama biasanya cukup rumit dan mengatasi daya tangkap intelektual anak, sehingga terjadi penerimaan atau penolakan itu merupakan hal yang wajar. Dan itu terjadi tentunya bukan pemahaman secara intelektual melainkan pada alasan lain.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada pemuka agama daripada isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kanak-kanaknya.
2)      Tingkat Kepercayaan (The Realistic Stage)
Pada fase ini ide-ide tentang Tuhan muncul dan telah tercermin dalam konsep yang realistik, dan biasanya muncul dari lembaga agama atau pengajaran orang dewasa. Ide keagamaan muncul dari anak didasarkan atas emosional, sehingga melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Tahap ini dimulai sejak usia masuk sekolah 7 tahun. Yang perlu dicatat pada tahap ini adalah bahwa pada tahap usia tujuh tahun dipandang sebagai permulaan perturnbuhan logis, sehingga wajar ketika Rosulullah mernerintahkan untuk menyuruh anak-anak umatnya untuk melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun dan memberi sanksi berupa pukulan apabila melanggarnya.
3)      Tingkat Individu ( The Individual Stage )
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Dalam terminologi islam, dorongan ini dikenal dengan hidayat al-diniyyat, berupa benih-benih keberagamaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia pada hakikatnya adalah makhluk beragama. Namun keberagamaan tersebut memerlukan bimbingan agar dapat tumbuh dan berkembang secara benar. [14] Pada tingkat ini, anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:
  1. Konsep ketuhanan yang konvensioal adan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi
  2.  Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal
  3. Konsep ketuhanan yang humanistik yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase pertumbuhan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:
  1. Fase dalam kandungan
Untuk memahami pertumbuhan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa pertumbuhan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.
  1. Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui pertumbuhan agama pada seorang anak.Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
  1. Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan.Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.
  1. Masa anak sekolah
Seiring dengan pertumbuhan aspek- aspek jiwa lainnya, pertumbuhan agama juga menunjukkan pertumbuhan yang semakin realistis.Hal ini berkaitan dengan pertumbuhan intelektualitasnya yang semakin berkembang.[15]

   c. faktor –faktor  yang mempengaruhi  jiwa keagamaan dijiwa remaja
Perkembangan rasa keagamaan pada masa remaja sangat dipengaruhi oleh tumbuhnya hati nurani keagamaan, baik kualitasnya pada akhir usia anak maupun perkembangan pada usia remaja. Hati nurani yang sudah tumbuh kuat pada akhir masa anak-anak akan akan memudahkan perkembangan rasa keagamaan pada masa remaja.
Faktor consience atau hati nurani ini mempunyai padanan kata superego, inner light dan inner policemen. Pada masa remaja, anak masuk ke dalam tahap pendewasaan, dimana hati nurani (conscience) sudah mulai berkembang melalui pengembangan dan pengayaan pada usia anak melalui proses sosialisasi. Proses sosialisasi nilai tersebut terlaksana melalui proses identifikasi anak terhadap perilaku orang tuanya dan juga orang orang di sekelilingnya yang memiliki kesan dominan secara kejiwaan, sehingga terjadi proses imitasi sikap dan perilaku. Kekuatan dari kata hati sebagiannya justru terletak pada ketidak mengertian anak, karena dengan begitu konsep nilai yang masuk dalam diri anak terbentuk melalui proses tanpa tanya, begitu saja terserap tanpa adanya reaksi dari dalam.
Proses kerja hati nurani dibantu oleh gejala jiwa yang lain yang disebut rasa bersalah (guilt) dan rasa malu (shame), yang akan muncul setiap kali ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Clark menyatakan bahwa kapasitas untuk memiliki kata hati adalah merupakan potensi bawaan bagi setiap manusia, tetapi substansi dari kata hati merupakan hasil dari proses belajar.
Rasa bersalah (guilt) adalah perasaan yang tumbuh jika dirinya tidak melakukan sesuatu sesuai dengan hati nuraninya. Beriringan dengan itu kemudian muncul rasa rasa malu (shame), yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraan penilaian negatif dari orang lain terhadap dirinya. Kata hati, rasa bersalah dan rasa malu dalam perkembangan religiousitas adalah mekanisme jiwa yang terbentuk melalui proses internalisasi nilai nilai keagamaan pada usia anak, yang akan berfungsi sebagai pengontrol perilaku pada usia remaja.
Hati nurani mulai mengambil peran pada masa remaja yang juga membantu dalm proses pemilikan pandangan hidup yang akan menjadi dasar dasar pegangan hidupnya dalam bermasyarakat.
Menurut W. Stabuck, pertumbuhan dan perkembangan agama dan tindak lanjut keagamaan remaja sangat berkaitan dengan:
1)      Pertumbuhan dan Pikiran Mental
Pertumbuhan kognitif memberi kemungkinan terjadi perpindahan/transisi dari agama yang lahiriyah menuju agma yang batiniah. Perkembangan kognitif memberi kemungkinan remaja untuk meninggalkan agama anak-anak yang diperoleh dari lingkungan dan mulai memikirkan konsep serta bergerak menuju agama iman yang sifatnya sungguh-sungguh personal.
2)      Perasaaan Beragama
Masa remaja adalah masa bergejolaknya bermacam-macam perasaan yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Kondisi ini menyebabkan terjadinya perubahan emosi yang begitu cepat dalam diri remaja. Ketidakstabilan perasaan remaja kepada Tuhan/Agama. Perasaan remaja pada agama adalah ambivalensi. Kadang-kadang sangat cinta dan percaya pada Tuhan, tetapi sering pula berubah menjadi acuh tak acuh dan menentang.
3)      Pertimbangan Sosial
Dalam kehidupan keagamaan, remaja cenderung dihadapkan pada konflik antara pertimbangan moral dan materil. Terhadap konflik ini remaja cenderung bingung untuk menentukan pilihan. Kondisi ini menyebabkan remaja menjadi cenderung pada pertimbangan lingkungan sosialnya.[16]
4)      Perkembangan Moral
Pertumbuhan dan perkembangan moral terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan pembiasaan yang ditanamkan sejak kecil oleh orang tua. Perkembangannya baru dapat dikatakan mencapai kematangan pada usia remaja.
   d. sifat-sifat keagamanya
  1. Percaya ikut-ikutan
Percaya ikut-ikutan ini dihasilkan oleh didikan agama yang didapat dari keluarga ataupun dari lingkungannya. Melaksanakan ibadah dan ajaran agama sekedar mengikuti suasana lingkungan dimana dia hidup. Cara beragama seperti ini merupakan lanjutan dari cara beragama di masa kanak-kanak, seolah-olah tidak terjadi perubahan apa-apa pada pikiran mereka terhadap agama. Akan tetapi, jika diteliti masing-masing remaja akan akan diketahui bahwa didalam hati mereka terdapat pertanyaan-pertanyaan yang tersembunyi, hanya saja usaha untuk mencari jawaban tidak menjadi perhatiannya. Percaya ikut-ikutan ini biasanya tidak berlangsung lama, dan banyak terjadi pada masa-masa remaja pertama usia 13-16 tahun. Sesudah itu biasanya berkembang secara kritis dan lebih sadar.[17]
  1. Percaya dengan kesadaran
Kesadaran agama atau semangat agama pada masa remaja, mulai dengan meninjau dan meneliti kembali cara beragama pada waktu masa kecil. Mereka ingin menjadikan agama, sebagai suatu lapangan baru untuk membuktikan pribadinya, dan tidak mau lagi beragama sekedar ikut-ikutan saja. Semangat agama tersebut tidak terjadi sebelum umur 17 atau 18 tahun, semangat agama mempunyai dua bentuk yaitu :
a)      Semangat positif. Semangat agama yang positif adalah semangat agama yang berusaha melihat agama dengan pandangan yang kritis, tidak lagi mau menerima hal-hal yang bercampur dengan bid’ah dan khurafat dari agama. Dan menghindari gambaran sensusal terhadap beberapa obyek agama, seperti gambaran surga, neraka, malaikat dan syetan tidak lagi dibayangkan, akan tetapi memikirkan secara abstrak. Maka sikap remaja yang bersemangat positif ialah sikap yang ingin membersihkan agama dari segala macam hal yang mengurangkan kemurnian agama.
b)     Semangat Negative/Khurafi. Agama dan keyakinannya biasanya lebih cenderung kepada mengambil unsur-unsur luar yang bercampur ke dalam agama misalnya khurafat, bid’ah dan kepercayaan lainnya.
  1. Kebimbangan beragama
Kebimbangan remaja terhadap agama itu tidak sama, berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kepribadiannya masing-masing. Ada yang mengalami kebimbangan ringan yang cepat bisa diatasi dan ada yang sangat berat sampai kepada berubah agama. Kebimbangan tergantung pada dua faktor;
a)      Kebimbangan dan keingkaran kepada Tuhan merupakan pantulan keadaan masyarakat yang dipenuhi oleh penderitaan, kemerosotan moral, kekacauan dan kebingungan.
b)      Pantulan dari kebebasan berfikir yang menyebabkab agama menjadi sasaran dan arus sekularisme.
Faktor penyelamat untuk menghindarkan remaja dari kesesatan adalah
a)      Hubungan kasih sayang antara remaja dengan orang tua
b)      Ketekunan menjalankan syariat agama, terutama dalam kelompok beragama. Adanya jamaah yang tekun beragama, akan membuatnya terikat oleh tata tertib dalam bergama.
c)      Berusaha mempertahankan kepercayaannya terhadap Tuhan.

  1. Tidak percaya (cenderung Atheis)
Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari adanya wujud Tuhan sama sekali dan mengganti dengan keyakinan lain.
Perkembangan remaja ke arah tidak mempercayai adanya Tuhan, sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua kepadanya, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, dan kekuasaan terhadap siapapun, termasuk kekuasaan Tuhan.


3 a. latar belakang sikap keagamaan diusia serta sikap –sikap keagamanya
Dengan berahkirnya masa remaja. Maka berahkir pulalah kegoncangan kegoncangan jiwa yang menyertai pertumbuhan remaja itu. Yang berarti bahwa orang yang telah melewati usia remaja. Mempunyai ketetraman jiwa. Ketetapan hati dan kepercayaan yang tegas. Baik didalam bentuk positif,maupun negatif. Kendatipun demikian,dalam kenyataan hidup sehari-hari,masih banyak orang yang merasakan kegoncangan jiwa padausia dewasa. Bahkan perubahan-perubahan kepercayaan dan keyakinaan kadang-kadang masih terjadi saja. Keadaan dan kejadian-kejadian itu sangat menarik perhatian ahli agama,sehingga mereka berusaha terus-menerus mengajak orang untuk beriman kepada allah dan berusaha memberikan pengertian-pengertian tentang agama.
    b. latar belakang sikap keagamaan diusia lanjut
menganalis hasil penelitian M.Arglye dan Elie A Coben,Robert H Thoules cenderung kebanyakan bahwa yang menentukan berbagai sikap keberagamaan diumur tua adalah dipermulisasi. Kecendrung hilangnya identifikasi diri dengan tubuh dan juga secepatnya dan datang kematian merupakan salah satu faktor  yang menentukan sikap keagamaan. Dalam buku psikologi agama jalahuddin menuliskan beberapa ciri-ciri keagamaan manusia pada usia lanjut secara garis besarnya adalah:
1.       Kehidupaan keberagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemanapun
2.       Meningkatkan mulai  munculnya pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan ahkirat secara lebih sungguh-sungguh
    c. perlakuaan terhadap diusia lanjut menurut islam
menerima kebenaraan agama berdasarkan pertimbangan peikiran yang memang bukan sekedar berikut-ikutan
1.       Cenderung bersifat reatis sehingga norma norma  agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku
2.       Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam perubahan keagamaan
3.       Tingkat dalam beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap berkeagamaan merupakan mealisasi dari sikap hidup
4.       Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas
5.       Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemanapun beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran juga didasarkan atas pertimbangan hati murni. Sikap keberagaaman cenderung mengarah pada tipe-tipe kepribadaian dalam menerima,memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
6.       Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial,sehingga perhatian terhadao kepentingaan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang
4  a. Hubungan kebudayaan dan tradisi
Tradisi keagamaan termasuk kedalam pranat primer.hal ini dikarenakan antara lain menurut rodaslav A.tsanoff,pranata keagamaan ini mengandung unsur-unsur yang berkaitan dengan ke Tuhanaan atau keyakinaan,tindak keagamaan,perasaa-perasaan yang  bersifat mistik,penyembah kepada yang suci (ibadah),dan keyakinaan terhadap nilai 0nilai yang haqiqi. Dengan demikian tradisi keagamaan sulit berubah,karena selain didukung oleh masyarakat juga memuat sejumlah unsur-unsur yang memiliki nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan keyakinaan masyrakat . tradisi keagamaan mengandung nilai-nilai yang sangat penting (privotal values) yang berkaitan erat agama yang dianut masyrakat dengan tegas mendasarkan kebudayan mendasarkan  pada nilai-nilai dan normal islam
    b. hubungan sikap keagamaan dan tradisi keagamaan
tradisi keagamaan pada dasarnya merupakan pranata keagamaan yang sudah dianggap baku oleh masyrakat pendukungnya. Dengan demikian,tradisi keagamaan sudah merupakan kerangka acuan norma dalam kehidupan dan perilaku masyrakat. Dan tradisi keagamaan sebagai pranata primer dan kebudayaan memang sulit untuk berubah,karena keberadaanya didukung oleh kesadaraan bahwa pranat tersebut menyangkut kehormataan,harga diri,dan jati diri masyarakat pendukungnya.
Para ahli antropologi membagi kebudayaan dalam bentuk dan isi. Menurut bentuknya kebudayaan terdiri dari tiga,yaitu (koentajaraningrat,1986 : 80-90):
1.       Sistem kebudayaan (cultur system)
Sistem kebudayaan berwujud gagasan,pikiran ,konsep,nilai-nilai budaya ,norma-norma,pandangan-pandangan yang bentuknya abstrak serta dalam berada pikiran para pemaku kebudayaan yang bersangkutaan.
2.       Sistem sosial (sosial system ) sistem sosial berwujud tingkah laku terpada perilaku,upacara-upacara serta ritus-ritus yang wujudnya lebih konkreet. Sistem sosial adalah bentuk kebudayaan dalam wujud yang lebih konkret dan dapat diamati
3.       Benda-benda budaya (material culture)
Benda-benda budaya disebut juga sebagai kebudayaan fisik atau kebudayaan material benda budaya merupakan hasil tingkah laku dan karya pemanku kebudayaan yang bersangkutaan.
Isi kebudayaan menurut koetajaningrat terdiri atas tujuh unsur,yaitu:bahasa,system teknologi ,system ekonomi,organisasi sosial,system pengetahuan,religi dankeseniaan. Dengan demikian,dilihat dari bentuk dan isi,kebudayaan dasarnyamerupakan suatu tatanan yang mengatur kehidupan suatu masyrakat disebutcultural system. Pada terhadap pertama terjadi proses transfer nilai-nilai dan norma-norma agama yang dari pemimpin agama kepada masyarakat. Transfer ini adalah dalam psikologi pemikiran disebut aspek kognitif (yang menyangkut pengetahuan agama)
Lingkungan yang bersumber dari ajaran agama ini kemudian mempengaruhi sikap keberagamaan masyrakat indonesia hingga sekarang. Pada wilayah-wilayah tertentu sikap keberagamaan ini dipengaruhi oleh agama Hindu. Pada wilayah lain oleh Kristenndan wilayah selanhutnya oleh Islam. Di sini terlihat bagaimana tradisi keagamaan yang telah bertanggung sejak empat belas abad lalu masih ikut mempengaruhi sikap keagaaman masyrakat.
    c. pengaruh eraglobalisasi terhadap perkembangan jiwa keagamaan
1.      Pengertian globalisasi
Makna globalisasi menurut Anthoy Giddens dijelaskan sebagai intensifikasi relasi social diseluruh dunia yang menghubungkan lokalitas yang berjauhan sehingga kejadian local dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dibelahan dunia lain.[[18]]
Menutur Akbar S. Ahmad dan Hasting Donnan makna globalisasi diberi batasan yaitu pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat dalam teknologi komunikasi, transformasi, informasiyang bias membawa bagian-bagian dunia yang jauh (menjadi hal-hal) bias dijangkau dengan mudah.[[19]]
Istilah globalisasi sering digunakan untuk mengembangkan penyabaran dan keterkaitan produksi, komunikasi dan teknologi seluruh dunia.
2.      Kebudayaan dan era globalisasi dan pengaruhnya terhadap jiwa keagamaan
Secara fenomena kebudayaan  daam era globalisasi mengaruh kepada nila-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan, khususnya dikalangan generasi muda. Meskipun dalam sisi tertentu kehidupan tradisi keagamaan tampak manimgkat dalam kesemarakannyanamun dalam kehidupam masyarakat global yang cenderung sekuler barang kali akan ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan para generasi muda. Paling tidak terdapat kecenderungan yang tampak. Pertama muncul sikap toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama, dikalangan kelompok moderat. Kedua munculnya sikap fanatic keagamaan yang muncul pada kelpmpok fundamental.
Kedua kecenderungan tersebut menurut pendekatan psikologis berisi ciri-ciri kepribadian yang ditamplkan kelompok introvert lebih tertutup terhadap perubahan yang terjadi, sedankan ekstrovert lebih bersikap terbuka dan mudah menerima. Tetapi yang jelas era globlisasi dipandang dari sudut teknologi adalah era modernisasi puncak bagi peradaban manusia.
Era globalisasi memberiakanperubahan besar pada tatanan duniasecara menyeluruh dan perubahan itu dihadapi bersama sebagai suatu perubahan yangwajar. Sebab mau tidak mau siap tidak siap perubahan diperkirakan bakalterjadi. Dikala manusia dihadapkan pada malapetaka sebagai dampak perkembangan dankemajuan modernisasi dan perkembangan teknologi itu sendiri.
Dalam kondisi seperti itu barabgkali manusia mengalami konflik batin secara besar-esaran. Konflik tersebut sebagai dampak ketidak simbanganrohani. Kegoncangan batin ini barabgkaliakan mempengaruhi kehidupanpsikologi manusia. Pada kondisi ini manusia akan mencari ketentraman batin antara lain agama.
Sementara itu nilsi-nilsi tradisional mengalami penerusan mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakat, termasuk kedalam sistem  nilai yang bersumber dari ajaran islam. Dipihak lain manusia juga dihadapkan pada upaya untuk mempertahankan system nilaiyang mereka anut sementara itu era global menawarkan alternatif baru (kekaguman dari hasil rekayasa iptek) yang menawarkan kenikmatan duniawi.hal ini menimbulkankeraguan dan kecemasan manusia. Adapun kemungkinan yang terjadi pada manusia adalah : pertama mereka yang tidakikut larut alam pengagumanyang berlebihan terhadap teknologi dan tetap berpegang teguhpada nilai-niali keagamaan, kemumgkinan akan lebih meyakini kelebihan agama. Kedua golongan yang longgar dari nilai-nilai ajaran agama akankekosongan jiwa.
Sebagai umat beragama, khususnya umat islam dalam era globalisasi hendaknya :
1.      Menumbuhkan kesadaran tentang tujuan hidup menurut agama baik sebagai hamba Allah maupun sebagai Khalifah Allah. Tetap dalam konteks mengabdi kepada Allah dan berusaha memperoleh ridhonya dan keselamatan didunia dan diakhirat. Disini peran iman dan taqwa sangat penting hidup diera globalisasi.
2.      Menumbuhkan kesadaran dalam bertanggung jawab karena kita akan mempertanggung jawabkan apa yang diperbuat didunia, baik formalitas administrative sesuai yang ada didunia sendiri maupun hakiki menurut yang mempunyai konsekuensi akhirat kelak. Ketika kita ,menceburkan diri dalam kehidupan globalisasi maka kita juga selalu sadar akan tanggung jawab terhadap apa yang kita perbuat.[20]

                                                                                  














Daftar Pustaka

Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam, (Malang: Uin Malang Press, 2008).
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.
Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.
Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam, Malang: Uin Malang Press, 2008.
Jalaludin.Psikologi Agama. Jakarta : PT Grafindo Persada, cet. 2009.
WE Maramis.Ilmu Kedoteran Jiwa.1980 : Airlangga University Press.
Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: 2004, Raja Grafindo Persada).
Zakiah Daradjat. Ilmu Jiwa Agama. PT. Bulan Bintang : Jakarta, 1990.
Tonny D. Widiastono, Pendidikan Manusia Indonesia, (Jakarta : Kompas, 2004).
A Qodri Azizy, Melawan Globalisasi Reinterpretansi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya Masyarakat Madani), (Yogyakarta : Pustaka Pelajar.



[1].Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam, (Malang: Uin Malang Press, 2008), Hlm. 21
[2]. Ibid, Hlm 21-22.                                                                                     
[3] . Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), Hlm. 10.
[4].Ibid. Hlm. 12.
[5] . Ibid.
[6] .Ibid, Hlm. 16
[7]. Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), Hlm. 7.

[8] Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), Hlm. 8.                                                              
[9] Jalaluddin, Op. Cit,  Hlm. 17.                              
[10] Ibid.
[11] Baharuddin dan Mulyono, Op. Cit, Hlm. 46.

[12] Ibid.
[13] Jalaluddin, Op. Cit,  Hlm. 18.

[14] Jalaludin.Psikologi Agama. Jakarta : PT Grafindo Persada, cet. 2009 hlm66-69
[15] WE Maramis.Ilmu Kedoteran Jiwa.1980 : Airlangga University Press hlm 22-23

[16] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: 2004, Raja Grafindo Persada), 75

[17] Zakiah Daradjat. Ilmu Jiwa Agama. PT. Bulan Bintang : Jakarta, 1990 hlm. 93-95

[18] Tonny D. Widiastono, Pendidikan Manusia Indonesia, (Jakarta : Kompas, 2004), hal. 218
[19] A Qodri Azizy, Melawan Globalisasi Reinterpretansi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya Masyarakat Madani), (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hal. 218-221)
[20] A Qodri Azizy, Melawan Globalisasi, hal. 32-33