Selasa, 28 November 2017

MAKALAH Pengantar Pendidikan Islam “Landasan dan Asas Pendidikan”

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan sebagai pilar ulama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat perlu memiliki landasan pendidikan agar pendidikan berhasil mewujudkan visi, misi dan tujuanya sebagaimana yang telah diwariskan secara efektif dan efesien sesuai jenis dan jenjang pendidikan baik di sekolah, pendidikan di keluarga maupun pendidikan di masyarakat. Kajian berbagai landasan–landasan pendidikan ituakan membentuk wawasan yang tepat tentang pendidikan. Dengan wawasan dan pendidik yang tepat, serta dengan menerapkan asa-asas pendidikan yang tepat pula, akan dapat memberi peluang yang lebih besar dalam merancang dan menyelenggarakan program pendidikan yang tepat wawasan.
 Landasan pendidikan yang akan dibahas terdiri atas, filosofis, sosiologis, kultural, historis, psikologis, ilmiah dan teknologi, politik, ekonomi, yuridis. Beberapa diantara landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofi, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan itu menjemput masa depan. Kajian berbagai landasan pendidikan itu membentuk wawasan yang tepat tentang pendidikan. Dengan wawasan dan pendidikan yang tepat, serta dengan menerapkan asas-asas pendidikan yang tepat pula, akan dapat  memberi peluang yang besar dalam merancang dan menyelenggarakan program pendidikan yang tepat wawasan.
Sedangkan asas yang dikalia adalah asas Tut Wuri Handayani, belajar sepanjang hayat, kemandirian dalam belajar. Ketika kita dihadapkan pada suatu tata kelola pendidikan, maka di titik itu pulalah kita akan sering bersinggungan dengan apa yang dimaksud dengan asa-asas pendidikan.dan asas-asas pendidikan telah disepakati sebagai sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir. Baik pada tahap perancangan maupun pelaksaan pendidikan.

B.     Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1.      Apakah yang dimaksud dengan pendidikan?
2.      Apa sajakah Landasan pendidikan?
3.      Apakah yang dimaksud dengan asa-asas pendidikan?
4.      Apa sajakah asas-asas pendidikan?
5.      Bagaimana hubungan antara pendidikan dengan kehidupan bermasyarakat,berbangsa, dan bernegara ?

C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengertian pendidikan.
2.      Untuk mengetahui macam-macam landasan pendidikan
3.      Untuk mengetahui pengertian asas-asas pendidikan.
4.      Untuk mengetahui macam-macam asas-asas pendidikan.
5.      Untuk mengetahui hubungan pendidikan dengan kehidupan bermasyarakat,bangsa.











BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Pendidikan
Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar  atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak  atau dasar pijakan ini dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan). Landasan yang bersifat koseptual identik dengan asumsi,  adapun asumsi dapat dibedakan menjadi tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi[1].
Pendidikan merupakan gejala semesta dan berlangsung sepanjang hayat manusia, di manapun manusia berada. Di mana ada kehidupan manusia, di sana pasti ada pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar bagi pengembangan manusia dan masyarakat, mendasarkan pada landasan pemikiran tertentu. Dengan kata lain, upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan didasarkan atas pandangan hidup atau filsafat hidup, bahkan latar belakang sosiokultural tiap-tiap masyarakat, serta pemikiran-pemikiran psikologis tertentu.
Dasar atau landasan pendidikan adalah landasan berpijak dan arah bagi pendidikan sebagai wahana pengembangan manusia dan masyarakat. Walaupun pendidikan itu universal, namun bagi suatu masyarakat, pendidikan akan diselenggarakan berdasarkan filsafat dan atau pandangan hidup serta berlangsung dalam latar belakang sosial budaya masyarakat tersebut[2].
Praktek pendidikan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan pedidikan.Kegiatan bantuan dalam praktek pendidikan dapat berupa pengelolaan pendidikan (makro maupun mikro), dan dapat berupa kegiatan pendidikan (bimbingan, pengajaran dan atau latihan).Studi pendidikanadalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.

B.     Macam-macam Landasan Pendidikan
Landasan pendidikan merupakan salah satu kajian yang dikembangkan dalam berkaitannya dengan dunia pendidikan. Penting karena pendidikan merupakan pilar ulama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu.
Telah dikataan bahwa pendidikan itu diselenggarakan dan dilaksanakan oleh manusia berdasarkan landasan pemikiran tertentu. Jadi ada beberapa landasan pendidikan yang akan dibahas.

1.      Landasan filosofis pendidikan
Filsafat pendidikan pada esesnya merupakan “filosofi proses pendidikan” atau “filosofi disiplin ilmu pendidikan”. Pemikiran filosofis di bidang pendidikan merunjuk pada dimensi tujuan, bentuk, metode, atau hasil dari proses pendidikan itu. Di dalamnya juga tergamit dimensi konsep, tujuan, dan metode disiplin ilmu pendidikan.
Persepektif pertama pemikiran filosofis di bidang pendidikan dipersepsi sebagai metafilsafat (metaphilosophy), sedangkan persepektif kedua melihatnya sebagai bagian dari filsafat, meski filsafat ilmu tidak dianggap sebagai bagian dari ilmu. Secara historis, filsafat pendidikan biasannya mengambil bentuk pertama, yaitu metaphilosophy, namun dibawa pengaruh filsafat  analisis, ia kadang-kadang dipersepsi sebagai bagian dari filsafat.[3]
Dalam persepsi pertama, filsafat pendidikan secara tradisional dikembangkan oleh beberapa filsuf, seperti aristoteres, agustinus, dan john locke sebagai bagian dari sistem filsafat mereka dalam konteks teori etika. Namun demikian, merujuk pada pemikiran filsafat abad kedua puluh, filsafat pendidikan cendrung dikembangkan di pendidikan persekolahan dalam konteks apa yang disebut dasar-dasar pendidikan(foundations of education). Dengan demikian ia cenderung menghubungkannya dengan bagian lain dari disiplin ilmu pendidikan sejarah, psikologi, dan sosiologi pendidikan; ketimbang merupakan bagian lain dari filsafat. Pemikiran ini dikembangkan oleh para penulis seperti Paulus goodman dan Robert m. hutchins.
Untuk menyelesaikan tugas ini, filsafat analisis menggunakan alat logika dan linguistic, serta teknik-teknik analisis yang berbeda. Hasilnya mugkin akan dinilai untuk kepentingkan mereka sendiri, tetapi mereka juga dapat membantu pihak lain mencari yang lebih substantive, normative, dan empiris tentang pendidikan.
Filsafat normatif atau teori pendidikan dapat menggunakan hasil karya analisis tersebut dan pertanyaan factual tentang manusia dan psikologi pembelajaran, tetapi dalam hal apapun mereka mengajukan pandangan tentang apa keharusan pendidikan, bagaimana disposisi pendidikan, mengapa harus mengembangkannya, bagaimana dan pada siapa harus melakukannya, serta apa bentuk-bentuk yang harus diambil.beberapa teori normative pendidikan seoerti yang tersirat dalam setiap contoh usaha pendidikan, untuk pendidikan apa pun yang sengaja terlibat, secara eksplisit maupun implisit, diasumsikan untuk memperoleh atau membina mereka, serta melihat apapun pada hal-hal yang berkaitan dengan teori normative filsafat pendidikan. Tetapi, tidak semua teori tersebut dapat dianggap sebagai benar secara filosofis.
Adakalahnya teori normative pendidikan menggunakan metode berbasis budaya yang pluralistic. Dalam masyarakat yang pluralistic, teori pendidikan semacam itu mugkin timbul sebagai kompromi antara pandangan yang bertentangan tentang pendidikan, terutama dalam kasus sekolah umum. Kemudian individu atau kelompok dalam masyarakat mungkin melihat pendidikan secara filosofis sebagai penuh konflik, meski filsafat pendidikan publik berusaha mengakomodasinya.
Teori dari implementasinya perilaku kependidikan banyak dipandu oleh pemikiran filosofis. Landasan filosofis pendidikan diderivasi dan filsifat umum. Karenanya, diskusi dan kajian mengenai dasar filsafat pendidikan nyaris selalu berangkat dari pemikiran filsafat umum.filsafat pendidikan secara esensial menggunakan cara kerja dan hasil-hasil pemikiran filsafat umum, khususnya berkaitan dengan hakikat manusia, pendidikan, realitas, pengetahuan, dan nilai. Berikut ini disajikan beberapa pemikiran filosofis yang menjadi dasar pengembangan teori dan praktik kependidikan.


Ada empat madzhab Filsafat Pendidikan, yaitu:
a.       Perenialisme
Dalam konteks pendidikan, filsafat perenialisme dipandang sangat konservatif dan tidak fleksibel. Filsafat perenialisme didasarkan pada pandangan bahwa realitas fundamental tetap barasal dari kebenaran, khususnya adalah bahwa orang menemukan kebenaran melalui penalaran dan wahyu serta kebaikan yang ditemukan dalam berpikir rasional.

b.      Idealisme
Filsafat idealisme dalam konteks kependidikan memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi atau fisik. Pengetahuan yang didapat atas dasar penginderaan pancaindera selalu tidak pasti dan tidak legkap. Aliran ini memandang nilai itu bersifat permanen, tidak berubah. Nilai-nilai yang bewrkaitan dengan baik, benar, salah, camtik, indah, dan sebagainya selalu tidak berubah sepanjang sejarah peradaban umat manusia.

c.       Realisme
Berbeda dengan idealism yang monolitik,filsafat realisme memandang realitas secara dualitik. Hakekat realitas ialah terdiri atas dunia nyata atau fisik dan dunia ruhani atau abstrak.

d.      Eksperimentalisme
Filsafat exsperimentalisme percaya bahwa semua hal atau fenomena bisa terus berubah atau diubah dengan perlakukan tertentu.
e.       Eksistensialisme
Eksistensialisme percaya pada interpretasi pribadi tentang dunia. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa individu mampu mendefinisikan realitas, kebenaran, dan kebaikan.

2.      Landasan sosiologis
Pendidikan secara optimis selalu dipandang sebagai usaha mendasar manusia untuk mewujudkan aspirasinya menggapai kemajuan dan perbaikan, mencapai kesetaraan, menigkatkan status sosial, bahkan memperoleh kekayaan.pendidikan diangap sebagai tempat di mana anak-anak bisa berkembang sesuai kebutuhan unuk dan potensi mereka.
Pendidikan merupakan fenomena sosial yang normal. Karena itu, setiap kajian mengenai ilmu pendidikan selalu menuatkanya dengan dimensi sosiologis. Bahkan, pada beberapa jurusan atau program studi ilmu pendidikan, sosiologi pendidikan diajarkan sebagai matakuliah tersendiri. Kajian mengenai aspek sosiologis dalam pendidikan biasanya berfokus pada bagaimana lembaga-lembaga kemasyarakatan, kelompok sosial, dan individu mempengaruhi pengamatan pendididkan dan hasil-hasilnya.[4]
Kajian sistematis mengenai aspek sosiologis dalam pendidikan dan sisiologi pendidikan itu sendiri sebagai disiplin ilmu dimulai ketika emile Durkheim menggagas pendidikan moral sebagai dasar untuk solidaritas organic, yang oleh max weber disebut sebagai alat control politik.

a.       Reproduksi sosial
Pendidikan pun diketahui hanya bisa mencapai mobilitas sosial yang terbatas. Studi sosiologis menunjukan bagaimana pola pendidikan tercermin, bahkan stratifikasi kelas, diskriminasi rasial, dan diskriminasi seksual. Setelah runtuhnya fungsionalisme pada akhir tahun 1960 dan seterusnya, gagasan pendidikan sebagai bernilai baik tidak tanggung, bahkan lebih sangat menentang. [5]

b.      Modal budaya
Teori reproduksi sosial dikembangkan oleh pierre Bourdieu. Namun, sebagai ahli teori sosial, Bourdieu selalu mengaitkan dikotomi antara objektif dan subjektif atau antara struktur dan agen.

c.       Status sosial
Dalam sosiologi atau antropologi, status sosial merupakan kehormatan atau prestise yang meletak pada posisi sosial seseorang di masyarakat. Status juga merujuk pada peringkat atau posisi yang berlaku dalam kelompok bagi putera atau puteri yang setara, misalnya teman bermain, murid, dan lain-lain.

d.      Makhluk Sosial
Mausia merupakan makluk sosial dengan pola interaksi yang rumit. Kegitan pendidikan merupakan suatu bentuk dari proses sosial itu.

3.      Landasan Kultural
pendidikan adalah bagian dari peristiwa budaya. Hal tersebut dikarenakan pendidik dan kebudayaan mempunyai hubungan timbal balik. Kebudayaan dapat dilestarikan dan atau dikembangkan dengan jalan mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pendidikan, baik pendidikan informal, nonformal, maupun formal (sekolah).
Setiap manusia selalu menjadi anggota suatu masyarakat, dan ia menjadi pendukung kebudayaan tertentu. Kebudayaan adalah keseluruhan hasil cipta rasa dan karya manusia. Jelasnya, setiap manusia sebagai anggota masyarakat, pasti memiliki budaya. Kompleks pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, norma dari cara, kebiasaan, tata kelakuan sampai, adat istiadat dan hukum serta berbagai kemampuan manusia berupa teknologi, semuanya merupakan kebudayaan. Budaya dalam masyarakat ini juga menjadi landasan bagi pendidikan.

4.      Landasan Historis
Kehidupan manusia mempunyai sejarah yang panjang sehingga manusia tidak mampu melacak titik awal kapan mulainya kehidupan ini. Sejak manusia hidup, sata itu pula pendidikan ada, dari yang paling sederhana sampai pada pendidikan yang sangat kompleks seperti sekarang ini. Keadaan dan pemikiran tentang pendidikan sejak zaman kuno seperti Mesir, India, Yunani, dan Romawi pada saat itu, pendidikan pada zaman pertengahan dan renaissance, pendidikan abad 17, 18, 19, dan abad 20 merupakan pemikiran-pemikiran yang penting sampai saat ini.
 Di Indonesia, pendidikan sejak zaman purba, zaman Hindu Budha, mulainya pengaruh Islam, masa penjajahan Belanda, Jepang dan usaha-usaha ke arah pendidikan nasional hingga sekarang, merupakan bahan pemikiran atau kajian yang sangat penting bagi pendidikan kita saat ini dan esok. Semuanya ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat lepas dari landasan historis. Jelasnya pendidikan memiliki perspektif kesejarahan.

5.      Landasan Psikologis
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia. Oleh sebab itu, landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Landasan psikologis pendidikan terutama tertuju kepada pemahaman manusia, khususnya berkenaan dengan proses belajar manusia.
Kegiatan pendidikan melibatkan aspek kejiwaan manusia. Karena itu landasan pendidikan psikologi merupakan salah satu landasan pendidikan yang penting. Pada umumnya pendidikan berkaitan dengan pemahaman dan penghayatan akan perkembangan manusia, khususnya dalam proses belajar mengajar. Jadi pemahaman peserta didik yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan kunci keberhasilan pendidikan.[6]
6.      Landasan Ilmiah dan Teknologi
Pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mempunyai hubungan yang sangat erat. IPTEK merupakan salah satu materi pengajaran sebagai bagian dan pendidikan. Jadi, peran pendidikan dalam pewarisan dan pengembangan IPTEK sangat penting. Di satu sisi perkembangan IPTEK akan segera diakomodasi oleh pendidikan, di sisi lain pendidikan sangat dipengauhi oleh perkembangan IPTEK, sehingga tersedia berbagai informasi yang cepat dan tepat untuk selanjutnya dijadikan progam, alat dan cara kerja teknologi pendidikan. Memperhatikan kaitan yang sangat erat antar pendidikan dengan IPTEK ini, maka IPTEK merupakan salah satu landasan pendidikan yang penting.

7.      Landasan Politik
Politik sebagai cita-cita yang harus diperjuangkan melalui pendidikan, dimaksudkan agar tujuan dan citi-cita suatu bangsa dapat tercapai. Caranya dilakukan dengan menanamkan pengertian akan peranan kekuasaan, hak dan kewajiban, ideologi serta berbagai aturan  yang harus ditaati oleh setiap warga negara di tiap-tiap negara yang bersangkutan, supaya negaranya lestari. Penanaman kesadaran akan hak dan kewajiban, nilai-nilai demokrasi merupakan tanda bahwa di dalam pendidikan menggunakan landasan politik. Demikian juga kalau dalam pendidikan ada materi pendidikan kewarganegaraan, maka pertanda juga bahwa di dalam pendidikan itu ada landasan politiknya.

8.      Landasan Ekonomi
Di satu sisi manusia terdidik yang kemudian berfungsi sebagai tenaga kerja dan memiliki kemampuan teknologis, dapat membantu pertumbuhan ekonomi, yaitu naiknya GNP atau pendapatan nasional. Makna pembangunan dari kaca mata ekonomi itu adalah adanya pertumbuhan ekonomi, industriliasi, modernisasi, pertumbuhan dan perubahan teknologi, institusi dan nilai, serta adanya penurunan kemiskinan. Memang tidak sembarang pendidikan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini tergantung dari pendidikan apa dan mutu pendidikan yang seperti apa.
Peran pendidikan untuk menumbuhkan perekonomian akan signifikan jika diikuti dengan penggunaan teknologi yang memedahi. Peran pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan tidak dapat dipisahkan dari peran kapital (modal), teknologi, informasi, mobilisasi, dan tabungan individual.

9.      Landasan Yuridis
Di Indonesia pendidikan yang dipakai dituangkan dalam UUD 1945 yang berlaku bagi masyarakat atau bangsa Indonesia. Demikian halnya di negara-negara lain, tidak mustahil jika sistem pendidikan yang dianut  di negara tersebut juga diatur dalam peraturan-peraturan hukum yang berlaku di negara tersebut. Jadi pendidikan menggunakan landasan yuridis atau legal.

C.    Pengertian Asas-Asas pendidikan
Asas penddikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpulan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. salah satu dasar utama pendidikan adalah bahwa manusia itu dapat dididik dan dapat mendidik diri sendiri. Seperti diketahui, manusia yang dilahirkan hampir tanpa daya dan sangat tergantung pada orang lain (orang tuanya, utamanya ibu) namun memiliki potensi yang hamper tanpa batas untuk dikembangkan. Khusu untuk pendidikan di Indonesia terdapat tiga asas yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakn pendidikan itu. Asas-asas tersebut bersumber baik dari kecenderungan umum pendidikan di dunia maupun yang bersumber dari pemikiran dan pengamatan sepanjang sejarah upaya pendidikan di Indonesia.

D.    Macam-macam asas pendidikan
1.      Asas Tut Wuri Handayani
Asas tut wuri handayani, yang kini menjadi semboyan depdikbud, pada awalnya merupakan salah satu dari asa 1922 yakni tujuh buah asas dari perguruan nasional taman siswa ( didirikan 3 juli 1922). Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari system among dari perguruan itu. Asas ataupun semboyan tut wuri handayani yang dikumandangkan oleh ki hadjar dewantara itu mendapat tanggapan positif dari Drs. R.M.P. Sostrokartono (filsuf dan ahli bahasa) dengan menambahkan dua semboyan untuk melengkapinya, yakni Ing ngarso sung tulada dan Ing madya mangun karsa.[7]
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas, yakni :
a.       Ing ngarsa sung tulada (jika di depan, menjadi contoh)
b.      Ing madya mangun karsa (jika di tengah-tengah, membangkitkan kehendak, hasrat atau motivasi), dan
c.       Tut wuri handayani (jika di belakang , mengikuti dengan awas).

2.      Asas Belajar Sepanjang Hayat
Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life longeducation). Pendidikan seumur hidup merupakan a concept (P.lengrand, 1970)yang new significance of an old idea (dave, 1973) tetapi universally acceptable definition is difficult (cropley, 1979) oleh karena itu, UNESCO Institure for education (UIE Hamburg) menetapkan suatu definisi kerja yakni pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang harus :
a.       Meliputi seluruh hidup setiap individu
b.      Mengarah kepada pembentukan, pembaruan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat menigkatkan kondisi hidupnya.
c.       Meningkatkan kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri.
d.      Mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mugkin terjadi, termasuk yang formal, non-formal dan informal.
e.       Kurikulum yang dapat mendukung terwujudnya beljar sepanjang hayat harus direncang dan diimplementasi dengan memperhatikan dua dimensi (hameyer, 1979: 67-81: sulo lipu la sulo, 1990: 28-30) sebagai berikut :
a.       Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
b.      Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah[8].

3.      Asas Kemandirian dalam Belajar
Baik asas tut wuri handayani maupun belajar sepanjang hayat secara langsung erat kaitannya dengan asas kemandirian dalam belajar. Asas tut wuri handayani pada prinsipnya bertolak dari asumsi kemampuan siswa untuk mandiri, termasuk mandiri dalam belajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar, sedini mugkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu sikapuntuk ulur tangan apabila diperlukan.[9]
Selanjutnya, asas belajar sepanjang hayat hanya dapat diwujudkan apa bila didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik mau dan mampu mandiri dalam belajar, karena adalah tidak mungkin seseorang belajar sepanjang hayatnya apabila selalu tergantung dari bantuan guru ataupun orang lain.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan mampu menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator, disamping peran-peran lain: informator, organisator dan sebagainya. Sebagai fasilitator guru diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar sedemikian sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Sedangkan sebagai motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar itu. Pengembangan kemandirian dalam belajar ini seyogianya dimulai dalam kegiatan intrakurikuler yang dikembangkan dan dimantapkan dalam kegiatan kokurikuler dan ekstra-kurikuler dan kegiatan mandiri.

E.  Hubungan Pendidikan dengan KehidupaSn Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara
secara umum masyarakat, berbangsa dan bernegara adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi dengan sesama untuk mencapai tujuan. Anggota masyarakat, berbangsa dan bernegara terdiri dari berbagai ragam pendidikan, profesi, keahlian, suku bangsa, kebudayaan, agama maupun lapisan sosial sehingga menjadi masyarakat, berbangsa dan bernegara yang majemuk. Secara tidak langsung, setiap anggota masyarakat telah mengadakan kerja sama dan saling mempengaruhi untuk memenuhi dan mencapai tujuan.
Dalam konsep pendidikan, masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang dengan berbagai ragam kualitas diri dari yang tidak berpendidikan sampai yang berpendidikan tinggi. Baik-buruknya kualitas masyarakat ditentukan oleh kualitas anggotanya, sehingga semakin baik pendidikan anggotanya, semakin baik pula kualitas masyarakat, berbangsa dan bernegara secara keseluruhan.
Ditinjau dari lingkungan pendidikan, masyarakat berbangsa danbernegara disebut sebagai lingkungan pendidikan nonformal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya, tetapi tidak sistematis. Masyarakat, berbangsa dan bernegara menerima semua anggota yang beragam untuk diarahkan menjadi anggota yang sejalan dengan tujuan masyarakat, berbangsa dan bernegara itu sendiri yang berorientasi pada pencapaian kesejahteraan social, jasmani-rohani, dan juga mental-spiritual.Pendidik di masyarakat, berbangsa dan bernegara adalah orang dewasa yang bertanggungjawab terhadap pendewasaan warga lainnya (baca: perangkat desa, tokoh, pejabat) melalui sosialisasi lanjutan. Dasar pendidikannya diberikan oleh keluarga dan sekolah. Sedangkan masyarakat, berbangsa dan bernegara melanjutkan pendidikan dalam lingkup  yang lebih luas, termasuk di dalamnya pemahaman terhadap etika dan norma masyarakat tempat peserta didik bergaul dan berinteraksi. Melalui sosialisasi lanjutan, diharapkan peserta didik yang telah menjadi warga dapat melaksanakan fungsinya sebagai anggota masyarakat, berbangsa dan bernegara yang bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan orang banyak.
Untuk meningkatkan kemampuan, bakat, minat dan kepribadian peserta didik, dibutuhkan lingkungan pendidikan yang mendukung. Artinya, lingkungan keluarga, sekolah  dan masyarakat, berbangsa dan bernegara harus seimbang dan harus saling bekerja sama dengan baik, sehingga tujuan pendidikan dapat di capai secara utuh dan optimal.
Hubungan masyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan hubungan korelasi positif. Artinya pendidikan yang maju dan modern pula. Sebaliknya pendidikan yang maju dan modern hanya ditemukan dan diselenggarakan oleh masyarakat maju dan modern. Hubungan timbale balik yang saling menentukan itu bahkan seakan-akan hubungan kausalitas. Maksudnya, sebagai hubungan sebab-akibat, yakni karena pendidikan masyarakat menjadi maju disatu pihak, sementara dilain pihak pendidikan maju dilaksanakan didalam dan oleh masyarakat, berbangsa dan bernegara yang maju pula.

Hubungan masyarakat, berbangsa dan bernegara dengan pendidikan sebagai hubungan fungsional berarti :
1.   Bahwa masyarakat atau Negara adalah subjek yang menentukan secara sadar dan mandiri cita karsa atau tujuan dan keinginan luhur yang akan dilakukan dan dicapainya melalui kebijakan, lembaga dan strategi tententu. Cita karsa ini bersumber dari cita dan tujuan hidupnya itu. Inilah keyakinan hidup atau pandangan hidup suatu bangsa.
2.  Bahwa pendidikan sebagai usaha, lembaga maupun sebagai program perwujudannya secara nasional ialah system pendidikan nasional wajar yang bersumber dan ditentukan oleh cita karsa subjek tersebut karenanya cenderung subjektif.





















BAB III
PENUTUP



A.    Kesimpulan
Landasan pendidikan sangat penting bagi penyelenggaran pendidikan karena merupakan pilar pendidikan yang masih dijadikan teladan utama atau titik yumpa dalam penentuan kebijakan dan praktik pendidikan ataupun pertimbangan yang di guanakan dalam pelaksanan pendidikan yang dilandasi oleh pemikiran tentang bagaimana layaknya pendidikan di selenggarakan. Penyelenggaran pendidikan di Indonesia antara lain berdasarkan landasan filsofis, landasan sosiologis, landasan kultural, landasan psikologis, landasan ilmiah dan teknologis, landasan poitik, landasan ekonomi dan landasan yuridus.
Sedangkan asas-asas pendidikan yang terdapat di Indonesia tidak lepas dari kiprah ki hajar dewantara sang pelopor pendidikan yang mempopulerkan tiga asas penting dalam kegiatan pendidikan yang masih dijadikan teladan samping sekarang yaitu asa tut wuri handayani, asas ing ngarso sun tulodo dan asas ing madyo mangun karyo. Ketiga asas ini saling berhubungan hendaknya menjadi acuan untuk menetapkan system pendidikan yang tepat bagi bangsa ini dan terus mengunjung tinggi.
Hubungan Pendidikan dengan Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara yaitu dalam konsep pendidikan, masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang dengan berbagai ragam kualitas diri dari yang tidak berpendidikan sampai yang berpendidikan tinggi. Baik-buruknya kualitas masyarakat ditentukan oleh kualitas anggotanya, sehingga semakin baik pendidikan anggotanya, semakin baik pula kualitas masyarakat, berbangsa dan bernegara secara keseluruhan.





B.     Saran
Dalam mempelajari makalah ini, diharapkan tidak hanya sekedar diketahui namun benar-benar  dipahami dan menjadi pegangan bagi calon guru agar dapat menerapkan landasan dan asas-asas pendidikan dengan benar dan tepat kepada peserta didik nya kelak. Selanjutnya, penulis menyadari kekurangan dari makalah ini sehingga diharapkan adanya masukan berupa kritik dan saran.




DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin salam,pengantar pendidikan, (Jakarta, rineka cipta, 2011) Hal. 80
pidarta,pengantar pendidikan,(solo: Rajawali, 2009) H, 68
Raka joni, cara belajar siswa aktif, wawasan kependidikan, (malang:IKIP,1983) H. 12
Redja mudyahardo dan saleh soegiyanto, materi pokok kependidikan, (Jakarta:P2TK-PT,1992) H. 113
Sudarman denim, pengantar kependidikan, (Jakarta, Reneka, 2009) H, 61
Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan,(Jakarta: Rineka cipta, 2008), H. 21-23



[1] Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan,(Jakarta: Rineka cipta, 2008), H. 21-23
[2] Ibid, H. 30
[3] Made pidarta,pengantar pendidikan,(solo: Rajawali, 2009) H, 68
[4] Sudarman denim, pengantar kependidikan, (Jakarta, Reneka, 2009) H, 61
[5] Ibid,h. 64
[6] Burhanuddin salam,pengantar pendidikan, (Jakarta, rineka cipta, 2011) Hal. 80
[7] Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan, op.cit, H. 117
[8] Redja mudyahardo dan saleh soegiyanto, materi pokok kependidikan, (Jakarta:P2TK-PT,1992) H. 113
[9]Raka joni, cara belajar siswa aktif, wawasan kependidikan, (malang:IKIP,1983) H. 123

Tidak ada komentar:

Posting Komentar