BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan sebagai pilar ulama terhadap perkembangan
manusia dan masyarakat perlu memiliki landasan pendidikan agar pendidikan
berhasil mewujudkan visi, misi dan tujuanya sebagaimana yang telah diwariskan
secara efektif dan efesien sesuai jenis dan jenjang pendidikan baik di sekolah,
pendidikan di keluarga maupun pendidikan di masyarakat. Kajian berbagai
landasan–landasan pendidikan ituakan membentuk wawasan yang tepat tentang
pendidikan. Dengan wawasan dan pendidik yang tepat, serta dengan menerapkan
asa-asas pendidikan yang tepat pula, akan dapat memberi peluang yang lebih
besar dalam merancang dan menyelenggarakan program pendidikan yang tepat
wawasan.
Landasan
pendidikan yang akan dibahas terdiri atas, filosofis, sosiologis, kultural,
historis, psikologis, ilmiah dan teknologi, politik, ekonomi, yuridis. Beberapa diantara
landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofi, sosiologis, dan
kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan.
Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan itu
menjemput masa depan. Kajian berbagai landasan pendidikan itu membentuk wawasan
yang tepat tentang pendidikan. Dengan wawasan dan pendidikan yang tepat, serta
dengan menerapkan asas-asas pendidikan yang tepat pula, akan dapat memberi peluang yang besar dalam merancang
dan menyelenggarakan program pendidikan yang tepat wawasan.
Sedangkan asas yang dikalia adalah asas Tut Wuri Handayani, belajar
sepanjang hayat, kemandirian dalam belajar. Ketika kita dihadapkan pada suatu
tata kelola pendidikan, maka di titik itu pulalah kita akan sering
bersinggungan dengan apa yang dimaksud dengan asa-asas pendidikan.dan asas-asas
pendidikan telah disepakati sebagai sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau
tumpuan berpikir. Baik pada tahap perancangan maupun pelaksaan pendidikan.
B.
Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah
yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Apakah
yang dimaksud dengan pendidikan?
2. Apa
sajakah Landasan pendidikan?
3. Apakah
yang dimaksud dengan asa-asas pendidikan?
4. Apa
sajakah asas-asas pendidikan?
5. Bagaimana
hubungan antara pendidikan dengan kehidupan bermasyarakat,berbangsa, dan bernegara
?
C.
Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai adalah sebagai berikut
:
1. Untuk
mengetahui pengertian pendidikan.
2. Untuk
mengetahui macam-macam landasan pendidikan
3. Untuk
mengetahui pengertian asas-asas pendidikan.
4. Untuk
mengetahui macam-macam asas-asas pendidikan.
5. Untuk
mengetahui hubungan pendidikan dengan kehidupan bermasyarakat,bangsa.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pendidikan
Secara leksikal, landasan berarti tumpuan,
dasar atau alas, karena itu landasan
merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak atau dasar pijakan ini dapat bersifat
material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual
(contoh: landasan pendidikan). Landasan yang bersifat koseptual identik dengan
asumsi, adapun asumsi dapat dibedakan
menjadi tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi[1].
Pendidikan merupakan gejala semesta dan berlangsung
sepanjang hayat manusia, di manapun manusia berada. Di mana ada kehidupan
manusia, di sana pasti ada pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar bagi
pengembangan manusia dan masyarakat, mendasarkan pada landasan pemikiran
tertentu. Dengan kata lain, upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan
didasarkan atas pandangan hidup atau filsafat hidup, bahkan latar belakang
sosiokultural tiap-tiap masyarakat, serta pemikiran-pemikiran psikologis
tertentu.
Dasar atau landasan pendidikan adalah landasan
berpijak dan arah bagi pendidikan sebagai wahana pengembangan manusia dan
masyarakat. Walaupun pendidikan itu universal, namun bagi suatu masyarakat,
pendidikan akan diselenggarakan berdasarkan filsafat dan atau pandangan hidup
serta berlangsung dalam latar belakang sosial budaya masyarakat tersebut[2].
Praktek pendidikan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau
lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan
pedidikan.Kegiatan bantuan dalam praktek pendidikan dapat berupa pengelolaan
pendidikan (makro maupun mikro), dan dapat berupa kegiatan pendidikan
(bimbingan, pengajaran dan atau latihan).Studi pendidikanadalah kegiatan
seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan
juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian
pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.
B. Macam-macam Landasan Pendidikan
Landasan pendidikan merupakan salah satu kajian yang
dikembangkan dalam berkaitannya dengan dunia pendidikan. Penting karena
pendidikan merupakan pilar ulama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat
bangsa tertentu.
Telah
dikataan bahwa pendidikan itu diselenggarakan dan dilaksanakan oleh manusia
berdasarkan landasan pemikiran tertentu. Jadi ada beberapa landasan pendidikan
yang akan dibahas.
1.
Landasan
filosofis pendidikan
Filsafat pendidikan pada esesnya merupakan “filosofi
proses pendidikan” atau “filosofi disiplin ilmu pendidikan”. Pemikiran
filosofis di bidang pendidikan merunjuk pada dimensi tujuan, bentuk, metode,
atau hasil dari proses pendidikan itu. Di dalamnya juga tergamit dimensi
konsep, tujuan, dan metode disiplin ilmu pendidikan.
Persepektif pertama pemikiran filosofis di bidang
pendidikan dipersepsi sebagai metafilsafat (metaphilosophy), sedangkan
persepektif kedua melihatnya sebagai bagian dari filsafat, meski filsafat ilmu
tidak dianggap sebagai bagian dari ilmu. Secara historis, filsafat pendidikan
biasannya mengambil bentuk pertama, yaitu metaphilosophy, namun dibawa pengaruh
filsafat analisis, ia kadang-kadang
dipersepsi sebagai bagian dari filsafat.[3]
Dalam persepsi pertama, filsafat pendidikan secara
tradisional dikembangkan oleh beberapa filsuf, seperti aristoteres, agustinus,
dan john locke sebagai bagian dari sistem filsafat mereka dalam konteks teori
etika. Namun demikian, merujuk pada pemikiran filsafat abad kedua puluh,
filsafat pendidikan cendrung dikembangkan di pendidikan persekolahan dalam
konteks apa yang disebut dasar-dasar pendidikan(foundations of education).
Dengan demikian ia cenderung menghubungkannya dengan bagian lain dari disiplin
ilmu pendidikan sejarah, psikologi, dan sosiologi pendidikan; ketimbang
merupakan bagian lain dari filsafat. Pemikiran ini dikembangkan oleh para
penulis seperti Paulus goodman dan Robert m. hutchins.
Untuk menyelesaikan tugas ini, filsafat analisis menggunakan
alat logika dan linguistic, serta teknik-teknik analisis yang berbeda. Hasilnya
mugkin akan dinilai untuk kepentingkan mereka sendiri, tetapi mereka juga dapat
membantu pihak lain mencari yang lebih substantive, normative, dan empiris
tentang pendidikan.
Filsafat normatif atau teori pendidikan dapat
menggunakan hasil karya analisis tersebut dan pertanyaan factual tentang
manusia dan psikologi pembelajaran, tetapi dalam hal apapun mereka mengajukan
pandangan tentang apa keharusan pendidikan, bagaimana disposisi pendidikan,
mengapa harus mengembangkannya, bagaimana dan pada siapa harus melakukannya,
serta apa bentuk-bentuk yang harus diambil.beberapa teori normative pendidikan
seoerti yang tersirat dalam setiap contoh usaha pendidikan, untuk pendidikan
apa pun yang sengaja terlibat, secara eksplisit maupun implisit, diasumsikan
untuk memperoleh atau membina mereka, serta melihat apapun pada hal-hal yang
berkaitan dengan teori normative filsafat pendidikan. Tetapi, tidak semua teori
tersebut dapat dianggap sebagai benar secara filosofis.
Adakalahnya teori normative pendidikan menggunakan
metode berbasis budaya yang pluralistic. Dalam masyarakat yang pluralistic,
teori pendidikan semacam itu mugkin timbul sebagai kompromi antara pandangan
yang bertentangan tentang pendidikan, terutama dalam kasus sekolah umum.
Kemudian individu atau kelompok dalam masyarakat mungkin melihat pendidikan
secara filosofis sebagai penuh konflik, meski filsafat pendidikan publik
berusaha mengakomodasinya.
Teori dari implementasinya perilaku kependidikan
banyak dipandu oleh pemikiran filosofis. Landasan filosofis pendidikan
diderivasi dan filsifat umum. Karenanya, diskusi dan kajian mengenai dasar
filsafat pendidikan nyaris selalu berangkat dari pemikiran filsafat
umum.filsafat pendidikan secara esensial menggunakan cara kerja dan hasil-hasil
pemikiran filsafat umum, khususnya berkaitan dengan hakikat manusia,
pendidikan, realitas, pengetahuan, dan nilai. Berikut ini disajikan beberapa
pemikiran filosofis yang menjadi dasar pengembangan teori dan praktik
kependidikan.
Ada empat madzhab Filsafat Pendidikan, yaitu:
a. Perenialisme
Dalam konteks
pendidikan, filsafat perenialisme dipandang sangat konservatif dan tidak
fleksibel. Filsafat perenialisme didasarkan pada pandangan bahwa realitas
fundamental tetap barasal dari kebenaran, khususnya adalah bahwa orang
menemukan kebenaran melalui penalaran dan wahyu serta kebaikan yang ditemukan
dalam berpikir rasional.
b. Idealisme
Filsafat idealisme
dalam konteks kependidikan memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan
materi atau fisik. Pengetahuan yang didapat atas dasar penginderaan pancaindera
selalu tidak pasti dan tidak legkap. Aliran ini memandang nilai itu bersifat
permanen, tidak berubah. Nilai-nilai yang bewrkaitan dengan baik, benar, salah,
camtik, indah, dan sebagainya selalu tidak berubah sepanjang sejarah peradaban
umat manusia.
c. Realisme
Berbeda dengan idealism
yang monolitik,filsafat realisme memandang realitas secara dualitik. Hakekat
realitas ialah terdiri atas dunia nyata atau fisik dan dunia ruhani atau
abstrak.
d. Eksperimentalisme
Filsafat
exsperimentalisme percaya bahwa semua hal atau fenomena bisa terus berubah atau
diubah dengan perlakukan tertentu.
e. Eksistensialisme
Eksistensialisme
percaya pada interpretasi pribadi tentang dunia. Hal ini didasarkan pada
pandangan bahwa individu mampu mendefinisikan realitas, kebenaran, dan
kebaikan.
2.
Landasan
sosiologis
Pendidikan secara optimis selalu
dipandang sebagai usaha mendasar manusia untuk mewujudkan aspirasinya menggapai
kemajuan dan perbaikan, mencapai kesetaraan, menigkatkan status sosial, bahkan
memperoleh kekayaan.pendidikan diangap sebagai tempat di mana anak-anak bisa
berkembang sesuai kebutuhan unuk dan potensi mereka.
Pendidikan merupakan fenomena sosial
yang normal. Karena itu, setiap kajian mengenai ilmu pendidikan selalu menuatkanya
dengan dimensi sosiologis. Bahkan, pada beberapa jurusan atau program studi
ilmu pendidikan, sosiologi pendidikan diajarkan sebagai matakuliah tersendiri.
Kajian mengenai aspek sosiologis dalam pendidikan biasanya berfokus pada
bagaimana lembaga-lembaga kemasyarakatan, kelompok sosial, dan individu
mempengaruhi pengamatan pendididkan dan hasil-hasilnya.[4]
Kajian sistematis mengenai aspek sosiologis dalam
pendidikan dan sisiologi pendidikan itu sendiri sebagai disiplin ilmu dimulai
ketika emile Durkheim menggagas pendidikan moral sebagai dasar untuk
solidaritas organic, yang oleh max weber disebut sebagai alat control politik.
a. Reproduksi
sosial
Pendidikan pun diketahui hanya bisa mencapai
mobilitas sosial yang terbatas. Studi sosiologis menunjukan bagaimana pola
pendidikan tercermin, bahkan stratifikasi kelas, diskriminasi rasial, dan
diskriminasi seksual. Setelah runtuhnya fungsionalisme pada akhir tahun 1960
dan seterusnya, gagasan pendidikan sebagai bernilai baik tidak tanggung, bahkan
lebih sangat menentang. [5]
b. Modal
budaya
Teori reproduksi sosial dikembangkan oleh pierre
Bourdieu. Namun, sebagai ahli teori sosial, Bourdieu selalu mengaitkan dikotomi
antara objektif dan subjektif atau antara struktur dan agen.
c. Status
sosial
Dalam sosiologi atau antropologi, status sosial
merupakan kehormatan atau prestise yang meletak pada posisi sosial seseorang di
masyarakat. Status juga merujuk pada peringkat atau posisi yang berlaku dalam
kelompok bagi putera atau puteri yang setara, misalnya teman bermain, murid,
dan lain-lain.
d. Makhluk
Sosial
Mausia merupakan makluk sosial dengan pola interaksi
yang rumit. Kegitan pendidikan merupakan suatu bentuk dari proses sosial itu.
3.
Landasan
Kultural
pendidikan adalah bagian dari peristiwa budaya. Hal tersebut dikarenakan
pendidik dan kebudayaan mempunyai hubungan timbal balik. Kebudayaan dapat
dilestarikan dan atau dikembangkan dengan jalan mewariskannya dari satu
generasi ke generasi berikutnya melalui pendidikan, baik pendidikan informal,
nonformal, maupun formal (sekolah).
Setiap manusia selalu menjadi anggota suatu
masyarakat, dan ia menjadi pendukung kebudayaan tertentu. Kebudayaan adalah
keseluruhan hasil cipta rasa dan karya manusia. Jelasnya, setiap manusia
sebagai anggota masyarakat, pasti memiliki budaya. Kompleks pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, norma dari cara, kebiasaan, tata kelakuan sampai,
adat istiadat dan hukum serta berbagai kemampuan manusia berupa teknologi,
semuanya merupakan kebudayaan. Budaya dalam masyarakat ini juga menjadi landasan
bagi pendidikan.
4.
Landasan
Historis
Kehidupan manusia mempunyai sejarah yang panjang
sehingga manusia tidak mampu melacak titik awal kapan mulainya kehidupan ini.
Sejak manusia hidup, sata itu pula pendidikan ada, dari yang paling sederhana
sampai pada pendidikan yang sangat kompleks seperti sekarang ini. Keadaan dan
pemikiran tentang pendidikan sejak zaman kuno seperti Mesir, India, Yunani, dan
Romawi pada saat itu, pendidikan pada zaman pertengahan dan renaissance,
pendidikan abad 17, 18, 19, dan abad 20 merupakan pemikiran-pemikiran yang
penting sampai saat ini.
Di Indonesia,
pendidikan sejak zaman purba, zaman Hindu Budha, mulainya pengaruh Islam, masa
penjajahan Belanda, Jepang dan usaha-usaha ke arah pendidikan nasional hingga
sekarang, merupakan bahan pemikiran atau kajian yang sangat penting bagi
pendidikan kita saat ini dan esok. Semuanya ini menunjukkan bahwa pendidikan
tidak dapat lepas dari landasan historis. Jelasnya pendidikan memiliki
perspektif kesejarahan.
5.
Landasan
Psikologis
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia. Oleh sebab itu,
landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang
pendidikan. Landasan psikologis pendidikan terutama tertuju kepada pemahaman
manusia, khususnya berkenaan dengan proses belajar manusia.
Kegiatan pendidikan melibatkan aspek kejiwaan
manusia. Karena itu landasan pendidikan psikologi merupakan salah satu landasan
pendidikan yang penting. Pada umumnya pendidikan berkaitan dengan pemahaman dan
penghayatan akan perkembangan manusia, khususnya dalam proses belajar mengajar.
Jadi pemahaman peserta didik yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan
kunci keberhasilan pendidikan.[6]
6.
Landasan
Ilmiah dan Teknologi
Pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) mempunyai hubungan yang sangat erat. IPTEK merupakan salah satu materi
pengajaran sebagai bagian dan pendidikan. Jadi, peran pendidikan dalam
pewarisan dan pengembangan IPTEK sangat penting. Di satu sisi perkembangan
IPTEK akan segera diakomodasi oleh pendidikan, di sisi lain pendidikan sangat
dipengauhi oleh perkembangan IPTEK, sehingga tersedia berbagai informasi yang
cepat dan tepat untuk selanjutnya dijadikan progam, alat dan cara kerja
teknologi pendidikan. Memperhatikan kaitan yang sangat erat antar pendidikan dengan
IPTEK ini, maka IPTEK merupakan salah satu landasan pendidikan yang penting.
7.
Landasan
Politik
Politik sebagai cita-cita yang harus diperjuangkan
melalui pendidikan, dimaksudkan agar tujuan dan citi-cita suatu bangsa dapat
tercapai. Caranya dilakukan dengan menanamkan pengertian akan peranan
kekuasaan, hak dan kewajiban, ideologi serta berbagai aturan yang harus ditaati oleh setiap warga negara
di tiap-tiap negara yang bersangkutan, supaya negaranya lestari. Penanaman
kesadaran akan hak dan kewajiban, nilai-nilai demokrasi merupakan tanda bahwa
di dalam pendidikan menggunakan landasan politik. Demikian juga kalau dalam
pendidikan ada materi pendidikan kewarganegaraan, maka pertanda juga bahwa di
dalam pendidikan itu ada landasan politiknya.
8.
Landasan
Ekonomi
Di satu sisi manusia terdidik yang kemudian
berfungsi sebagai tenaga kerja dan memiliki kemampuan teknologis, dapat
membantu pertumbuhan ekonomi, yaitu naiknya GNP atau pendapatan nasional. Makna
pembangunan dari kaca mata ekonomi itu adalah adanya pertumbuhan ekonomi,
industriliasi, modernisasi, pertumbuhan dan perubahan teknologi, institusi dan
nilai, serta adanya penurunan kemiskinan. Memang tidak sembarang pendidikan
akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini tergantung dari pendidikan apa dan mutu
pendidikan yang seperti apa.
Peran pendidikan untuk menumbuhkan perekonomian akan
signifikan jika diikuti dengan penggunaan teknologi yang memedahi. Peran
pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan tidak dapat dipisahkan dari peran
kapital (modal), teknologi, informasi, mobilisasi, dan tabungan individual.
9.
Landasan
Yuridis
Di Indonesia pendidikan yang dipakai dituangkan
dalam UUD 1945 yang berlaku bagi masyarakat atau bangsa Indonesia. Demikian
halnya di negara-negara lain, tidak mustahil jika sistem pendidikan yang
dianut di negara tersebut juga diatur
dalam peraturan-peraturan hukum yang berlaku di negara tersebut. Jadi
pendidikan menggunakan landasan yuridis atau legal.
C.
Pengertian
Asas-Asas pendidikan
Asas penddikan merupakan sesuatu kebenaran yang
menjadi dasar atau tumpulan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun
pelaksanaan pendidikan. salah satu dasar utama pendidikan adalah bahwa manusia
itu dapat dididik dan dapat mendidik diri sendiri. Seperti diketahui, manusia
yang dilahirkan hampir tanpa daya dan sangat tergantung pada orang lain (orang
tuanya, utamanya ibu) namun memiliki potensi yang hamper tanpa batas untuk
dikembangkan. Khusu untuk pendidikan di Indonesia terdapat tiga asas yang memberi
arah dalam merancang dan melaksanakn pendidikan itu. Asas-asas tersebut
bersumber baik dari kecenderungan umum pendidikan di dunia maupun yang
bersumber dari pemikiran dan pengamatan sepanjang sejarah upaya pendidikan di
Indonesia.
D.
Macam-macam
asas pendidikan
1.
Asas
Tut Wuri Handayani
Asas tut wuri
handayani, yang kini menjadi semboyan depdikbud, pada awalnya merupakan salah
satu dari asa 1922 yakni tujuh buah asas dari perguruan nasional taman siswa (
didirikan 3 juli 1922). Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti
dari system among dari perguruan itu. Asas ataupun semboyan tut wuri handayani
yang dikumandangkan oleh ki hadjar dewantara itu mendapat tanggapan positif
dari Drs. R.M.P. Sostrokartono (filsuf dan ahli bahasa) dengan menambahkan dua
semboyan untuk melengkapinya, yakni Ing ngarso sung tulada dan Ing madya mangun
karsa.[7]
Kini ketiga semboyan tersebut telah
menyatu menjadi satu kesatuan asas, yakni :
a. Ing ngarsa sung
tulada (jika di depan, menjadi contoh)
b. Ing madya mangun
karsa (jika di tengah-tengah, membangkitkan kehendak, hasrat atau motivasi),
dan
c. Tut wuri handayani
(jika di belakang , mengikuti dengan awas).
2.
Asas
Belajar Sepanjang Hayat
Asas
belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi
lain terhadap pendidikan seumur hidup (life longeducation). Pendidikan seumur
hidup merupakan a concept (P.lengrand, 1970)yang new significance of an old
idea (dave, 1973) tetapi universally acceptable definition is difficult
(cropley, 1979) oleh karena itu, UNESCO Institure for education (UIE Hamburg)
menetapkan suatu definisi kerja yakni pendidikan seumur hidup adalah pendidikan
yang harus :
a. Meliputi
seluruh hidup setiap individu
b. Mengarah
kepada pembentukan, pembaruan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat menigkatkan kondisi hidupnya.
c. Meningkatkan
kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri.
d. Mengakui
kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mugkin terjadi, termasuk yang formal,
non-formal dan informal.
e. Kurikulum
yang dapat mendukung terwujudnya beljar sepanjang hayat harus direncang dan
diimplementasi dengan memperhatikan dua dimensi (hameyer, 1979: 67-81: sulo
lipu la sulo, 1990: 28-30) sebagai berikut :
a.
Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah
meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan
keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
b. Dimensi horisontal
dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah
dengan pengalaman di luar sekolah[8].
3.
Asas
Kemandirian dalam Belajar
Baik asas tut wuri
handayani maupun belajar sepanjang hayat secara langsung erat kaitannya dengan
asas kemandirian dalam belajar. Asas tut wuri handayani pada prinsipnya
bertolak dari asumsi kemampuan siswa untuk mandiri, termasuk mandiri dalam
belajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar, sedini mugkin dikembangkan
kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru
selalu sikapuntuk ulur tangan apabila diperlukan.[9]
Selanjutnya, asas
belajar sepanjang hayat hanya dapat diwujudkan apa bila didasarkan pada asumsi
bahwa peserta didik mau dan mampu mandiri dalam belajar, karena adalah tidak
mungkin seseorang belajar sepanjang hayatnya apabila selalu tergantung dari
bantuan guru ataupun orang lain.
Perwujudan asas
kemandirian dalam belajar akan mampu menempatkan guru dalam peran utama sebagai
fasilitator dan motivator, disamping peran-peran lain: informator, organisator
dan sebagainya. Sebagai fasilitator guru diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai
sumber belajar sedemikian sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan
sumber-sumber tersebut. Sedangkan sebagai motivator, guru mengupayakan
timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar itu.
Pengembangan kemandirian dalam belajar ini seyogianya dimulai dalam kegiatan
intrakurikuler yang dikembangkan dan dimantapkan dalam kegiatan kokurikuler dan
ekstra-kurikuler dan kegiatan mandiri.
E. Hubungan Pendidikan dengan KehidupaSn Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara
secara umum masyarakat, berbangsa
dan bernegara adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu
kawasan dan saling berinteraksi dengan sesama untuk mencapai tujuan. Anggota
masyarakat, berbangsa dan bernegara terdiri dari berbagai ragam pendidikan, profesi,
keahlian, suku bangsa, kebudayaan, agama maupun lapisan sosial sehingga menjadi
masyarakat, berbangsa dan bernegara yang majemuk. Secara tidak langsung, setiap
anggota masyarakat telah mengadakan kerja sama dan saling mempengaruhi untuk
memenuhi dan mencapai tujuan.
Dalam konsep pendidikan, masyarakat
diartikan sebagai sekumpulan orang dengan berbagai ragam kualitas diri dari
yang tidak berpendidikan sampai yang berpendidikan tinggi. Baik-buruknya
kualitas masyarakat ditentukan oleh kualitas anggotanya, sehingga semakin baik
pendidikan anggotanya, semakin baik pula kualitas masyarakat, berbangsa dan
bernegara secara keseluruhan.
Ditinjau dari lingkungan pendidikan,
masyarakat berbangsa danbernegara disebut sebagai lingkungan pendidikan nonformal
yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh
anggotanya, tetapi tidak sistematis. Masyarakat, berbangsa dan bernegara
menerima semua anggota yang beragam untuk diarahkan menjadi anggota yang
sejalan dengan tujuan masyarakat, berbangsa dan bernegara itu sendiri yang
berorientasi pada pencapaian kesejahteraan social, jasmani-rohani, dan juga
mental-spiritual.Pendidik di masyarakat, berbangsa dan bernegara adalah orang
dewasa yang bertanggungjawab terhadap pendewasaan warga lainnya (baca:
perangkat desa, tokoh, pejabat) melalui sosialisasi lanjutan. Dasar
pendidikannya diberikan oleh keluarga dan sekolah. Sedangkan masyarakat,
berbangsa dan bernegara melanjutkan pendidikan dalam lingkup yang lebih luas, termasuk di dalamnya pemahaman
terhadap etika dan norma masyarakat tempat peserta didik bergaul dan
berinteraksi. Melalui sosialisasi lanjutan, diharapkan peserta didik yang telah
menjadi warga dapat melaksanakan fungsinya sebagai anggota masyarakat,
berbangsa dan bernegara yang bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan orang
banyak.
Untuk meningkatkan kemampuan, bakat,
minat dan kepribadian peserta didik, dibutuhkan lingkungan pendidikan yang
mendukung. Artinya, lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, berbangsa dan bernegara harus
seimbang dan harus saling bekerja sama dengan baik, sehingga tujuan pendidikan
dapat di capai secara utuh dan optimal.
Hubungan masyarakat, berbangsa dan
bernegara merupakan hubungan korelasi positif. Artinya pendidikan yang maju dan
modern pula. Sebaliknya pendidikan yang maju dan modern hanya ditemukan dan
diselenggarakan oleh masyarakat maju dan modern. Hubungan timbale balik yang
saling menentukan itu bahkan seakan-akan hubungan kausalitas. Maksudnya,
sebagai hubungan sebab-akibat, yakni karena pendidikan masyarakat menjadi maju
disatu pihak, sementara dilain pihak pendidikan maju dilaksanakan didalam dan
oleh masyarakat, berbangsa dan bernegara yang maju pula.
Hubungan masyarakat, berbangsa dan
bernegara dengan pendidikan sebagai hubungan fungsional berarti :
1.
Bahwa masyarakat atau Negara adalah subjek yang menentukan secara sadar dan
mandiri cita karsa atau tujuan dan keinginan luhur yang akan dilakukan dan
dicapainya melalui kebijakan, lembaga dan strategi tententu. Cita karsa ini bersumber
dari cita dan tujuan hidupnya itu. Inilah keyakinan hidup atau pandangan hidup
suatu bangsa.
2. Bahwa pendidikan
sebagai usaha, lembaga maupun sebagai program perwujudannya secara nasional
ialah system pendidikan nasional wajar yang bersumber dan ditentukan oleh cita
karsa subjek tersebut karenanya cenderung subjektif.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Landasan pendidikan sangat penting bagi penyelenggaran pendidikan karena
merupakan pilar pendidikan yang masih dijadikan teladan utama atau titik yumpa
dalam penentuan kebijakan dan praktik pendidikan ataupun pertimbangan yang di
guanakan dalam pelaksanan pendidikan yang dilandasi oleh pemikiran tentang
bagaimana layaknya pendidikan di selenggarakan. Penyelenggaran pendidikan di
Indonesia antara lain berdasarkan landasan filsofis, landasan sosiologis,
landasan kultural, landasan psikologis, landasan ilmiah dan teknologis,
landasan poitik, landasan ekonomi dan landasan yuridus.
Sedangkan asas-asas pendidikan yang terdapat di Indonesia tidak lepas
dari kiprah ki hajar dewantara sang pelopor pendidikan yang mempopulerkan tiga
asas penting dalam kegiatan pendidikan yang masih dijadikan teladan samping
sekarang yaitu asa tut wuri handayani, asas ing ngarso sun tulodo dan asas ing
madyo mangun karyo. Ketiga asas ini saling berhubungan hendaknya menjadi acuan
untuk menetapkan system pendidikan yang tepat bagi bangsa ini dan terus
mengunjung tinggi.
Hubungan Pendidikan dengan Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara
yaitu dalam konsep pendidikan, masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang
dengan berbagai ragam kualitas diri dari yang tidak berpendidikan sampai yang
berpendidikan tinggi. Baik-buruknya kualitas masyarakat ditentukan oleh
kualitas anggotanya, sehingga semakin baik pendidikan anggotanya, semakin baik
pula kualitas masyarakat, berbangsa dan bernegara secara keseluruhan.
B. Saran
Dalam mempelajari
makalah ini, diharapkan tidak hanya sekedar diketahui namun benar-benar dipahami dan menjadi pegangan bagi calon guru
agar dapat menerapkan landasan dan asas-asas pendidikan dengan benar dan tepat
kepada peserta didik nya kelak. Selanjutnya, penulis menyadari kekurangan dari
makalah ini sehingga diharapkan adanya masukan berupa kritik dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin salam,pengantar
pendidikan, (Jakarta, rineka cipta, 2011) Hal. 80
pidarta,pengantar pendidikan,(solo: Rajawali,
2009) H, 68
Raka joni, cara belajar siswa aktif,
wawasan kependidikan, (malang:IKIP,1983) H. 12
Redja
mudyahardo dan saleh soegiyanto, materi
pokok kependidikan, (Jakarta:P2TK-PT,1992) H. 113
Sudarman denim, pengantar kependidikan, (Jakarta,
Reneka, 2009) H, 61
Tirtarahardja,
Pengantar Pendidikan,(Jakarta: Rineka
cipta, 2008), H. 21-23
[1] Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan,(Jakarta: Rineka
cipta, 2008), H. 21-23
[2]
Ibid, H. 30
[3] Made pidarta,pengantar pendidikan,(solo: Rajawali, 2009) H, 68
[6]
Burhanuddin salam,pengantar pendidikan, (Jakarta, rineka cipta, 2011) Hal. 80
[8] Redja mudyahardo dan saleh
soegiyanto, materi pokok kependidikan,
(Jakarta:P2TK-PT,1992) H. 113
[9]Raka
joni, cara belajar siswa aktif, wawasan kependidikan, (malang:IKIP,1983) H. 123
Tidak ada komentar:
Posting Komentar