Selasa, 28 November 2017

makalah Hadits Tarbawi “Hadits tentang Materi Pendidikan”.

A.    Pendahuluan
Pendidikan merupakan hal penting yang dibutuhkan oleh seluruh manusia dan bahkan setiap muslim wajib mencari ilmu sejak ia dilahirkan hingga ia dimakamkan, karena tanpa adanya ilmu pengetahuan sesorang akan teringgal dan sudah tentu tidak bisa mengikuti perkembangan jaman. Sedangkan, allah sendiri sangat membenci orang yang tidak mau mencari ilmu dan setiap orang yang tidak mau mencari ilmu sudah barang tentu berdosa.
Pendidikan pada dasarnya mendidik manusia dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak berakhlak menjadi berakhlak, dari yang tidak tau adab menjadi tau adab. Yang paling diperhatikan pada pendidikan islam sesuai dengan tuntunan hadits nabi adalah materi yang diutamakan yaitu pendidikan aqidah sebagai pondasi, pendidikan jasmani untuk menguatkan dan menyehatkan, serta pendidikan kepribadian untuk pembentuk sikap yang berakhlakul karimah.
Dari pemaparan diatas, penulis ingin membahas mengenai materi pendidikan sesuai dengan hadits nabi untuk menyelesaikan tugas penulis dan memberikan penjelasan materi pendidikan bagi khalayak umum dalam makalah Hadits Tarbawi yang berjudul “Hadits tentang Materi Pendidikan”.

B.     Pendidikan Aqidah
1.      Takhrij Alhadits
عَنْ عُبَيْدِاللَّهِ بْنِ أَبِيْ رَافِعٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَذَّنَ فِى أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِىِّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِا لصَّلاَةِ
Dalam mencari hadits lengkap dari penggalan hadits tersebut penulis menggunan kata اَذَّنَ untuk mentahrijkan hadits tersebut dan kami menemukan penggalan hadits itu terdapat dalam mu’jam Abu Dawud bab Adab tuhfah 107 (١٠٧ أدب د)[1].
2.      Teks Hadits Lengkap
حَدَّ ثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحْيَ عَنْ سُفْيَا نَ: حَدَّ ثَنِي عَا صِمُ ابْنُ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ عُبَيْدِاللَّهِ بْنِ أَبِيْ رَافِعٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَذَّنَ فِى أُذُنِ لْحَسَنِ بْنِ عَلِىِّ حِيْنَ
 وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِا لصَّلاَةِ
Artinya:”Musaddad menyampaikan kepada kami dari yahya, dari sufyan, dari Ashim bin Ubaidillah, Ubaidillah bin abi Rafi’ bahwa ayahnya berkata, “Aku melihat rosulullah  adzan ditelinganya hasan bin ali seperti adzan ketika sholat ketika fatimah melahirkannya. Beliau mengumandangkannya seperti adan untuk solat.[2]
3.      Pembahasan Hadits
Ibn Qayyim berkata bahwa hikmah azan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir adalah agar suara pertama yang didegar adalah seruan yang mengandung makna keagungan Allah serta syahadat.
Pendidikan Aqidah ialah proses pembinaan dan pemantapan  kepercayaan dalam diri seseorang sehingga menjadi yang kuat dan benar. Proses tersebut dapat dilakukan dalam bentuk pengajaran, bimbingan dan latihan. Dalam penerapannya pendidik dapat menerapkan dengan berbagai metode yang relavan dengan tujuan yang ingin dicapai. Hadits ini mengandung penjelasan tentang 'aqidah Islam. Ini menunjukkan bahwa pendidikan aqidah sudah ditanamkan kepada seseorang sejak ia kecil. Karena usia inilah yang paling tepat untuk menanamkan nilai. Bila nilai itu sudah tertanam, maka kehidupan setelah dewasa dan masa tua banyak dipengaruhi oleh masa muda itu. Sehingga kalaupun seseorang hidup di lingkungan yang sangat jauh dari ajaran Islam, tetapi ideologinya tidak terpengaruh, keyakinannya tidak goyah. Adapun jika penanaman nilai itu terlambat, apalagi setelah kepalanya terisi oleh teori-teori dan doktrin di luar Islam, maka manusia seperti inilah susah untuk disadarkan dan dibimbing ke jalan Islam.
Rasulullah Saw mengajarkan agar senantiasa memelihara aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt, tidak melanggar batasan-batasanNya. Kalau ini dilakukan, niscaya Allah akan memeliharanya juga. Dan jika Allah dijaga dalam arti hukum-hukumNya ditaati, maka pada saat manusia membutuhkan bantuan Allah, maka Allah senantiasa di hadapanNya, menolong kesusahannya, meringankan bebannya.
Pelajaran inilah yang perlu ditanamkan kepada setiap manusia, khususnya anak didik yang masih muda agar ia siap menghadapi kehidupan yang penuh dengan ujian kesabaran dan keadaan yang serba sulit dengan landasan aqidah yang baik.

C.    Pendidikan Jasmani
1.      Takhrij Alhadits
عَنْ اَبِي هُرَيْرةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُوءْمِنُ القوى خَيْرٌ وَاَحَبٌّ الى اللَّه منَ الْمُوءْمِنُ الضعيف و في كلُّ خير احرص على ما ينفعك واستعن بااللَّه ولاتعجر وان اصابك شيءفلاتقل لوأنّي
فعلت كان كذا كذا ولكن قل قدراللَّه وما شاء فعل فأِنْ لوتففح عمل الشَّيطان
Dari Hadits diatas kami mengambil kata ضعف lalu mentahrijkannya dan menemukan penggalan hadits tersebut terdapat dalam kitab Ibnu Majjah kitab Muqaddimah almu’jam 10 bab tentang qadar (جه مقدّمة ١٠)[3].
2.      Teks Hadits Lengkap
حدّثنا أبوْ بكْر بْن أبي شيْبة، وعليّ بْن محمّد الطّنا فسيّ قل:حدد ثنا عبداللهِ بْن اٍدْريس، عنْ ربيْعة بْن عثْما ن، عنْ محمّد بْن حبّان، عن الْاً عْرج،عَنْ اَبِي هُرَيْرةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُوءْمِنُ القوى خَيْرٌ وَاَحَبٌّ الى اللَّه منَ الْمُوءْمِنُ الضعيف و في كلُّ خير احرص على ما ينفعك واستعن بااللَّه ولاتعجر وان اصابك شيءفلاتقل لوأنّي فعلت كان كذا كذا ولكن قل قدراللَّه وما شاء فعل
 فأِنْ لوتففح عمل الشَّيطان
Artinya:”Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ali bin Muhammad ath-Thanafisi menyampaikan kepada kami dari Abdullah bin Idris, dari Rabiah Bin Utsman, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari al A’raj, dari Abu Hurairah berkata, Rosulullah bersabda : “Orang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah disetiap kebaikannya, bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah, dan jika sesuatu menimpamu dan janganlah berkata sekiranya aku mengerjakan hal itu maka aku akan begini dan begini. Akan tetapi katakanlah ini karena ketentuan Allah, dan apa yang ia kehendaki ia kerjakan, dan sesungguhnya kata “lau”(seandainya) membuka pintu-pintu syaitan.[4]
3.      Pembahasan Hadits
a.       Pemahaman perkalimat
Pada kalimat  الْمُوءْمِنُ القوى خَيْرٌ وَاَحَبٌّ الى اللَّه منَ الْمُوءْمِنُ الضعيف و في كلُّ خير (Orang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah disetiap kebaikannya), bahwasanya Allah mencintai seorang muslim yang kuat yang sehat karena dalam menjalankan ibadah kepada Allah kita tidak dituntut untuk mengeluh dalam setiap kebaikan yang kita jalani, kita dituntut kuat baik dari segi fisik maupun rohani.
Kalimat kedua,
احرص على ما ينفعك واستعن بااللَّه ولاتعجر وان اصابك شيءفلاتقل لوأنّي فعلت كان كذا كذا ولكن قل قدراللَّه وما شاء فعل فأِنْ لوتففح عمل الشَّيطان
“Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah, dan jika sesuatu menimpamu dan janganlah berkata sekiranya aku mengerjakan hal itu maka aku akan begini dan begini. Akan tetapi katakanlah ini karena ketentuan Allah, dan apa yang ia kehendaki ia kerjakan, dan sesungguhnya kata “lau”(seandainya) membuka pintu-pintu syaitan.”
Makna yang bisa kita pahami dari penggalan kalimat hadits berikutnya adalah kita dituntut untuk selalu bersemangat mengerjakan kebaikan dengan selalu berdoa memohon kepada Allah dan harus selalu kuat dalam iman kita karena semua itu adalah ketentuan Allah, karena jika kita selalu mengeluh dan tidak kuat dalam iman, maka dengan mudah setan masuk kedalam hati kita melalui pintu-pintu yang telah kita buka karena mengeluh dan lemah dalam iman.
b.      Pemahaman makna keseluruhan
Disini kita melihat adanya kesamaan kewajiban antara laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan pengajaran sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Jika difahami secara kontekstual, hadis tersebut memotivasi generasi muslim agar dapat memiliki berbagai kompetensi guna menunjang penyebaran ajaran Islam.
Pendidikan jasmani sendiri merupakan bagian integral dari pendidikan total yang mencoba mencapai tujuan untuk mengembangkan kebugaran jasmani, mental, sosial, serta emosional bagi masyarakat, dengan wahana aktivitas jasmani. Nabi Muhammad sendiri pun sangat menyukai sesuatu yang sehat dan menyehatkan bagi jasmani dan rohani.
Mensana Incorpore Sano, Didalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yan sehat. Sering kali kita mendengar pepatah ini yang tentunya sangat berkaitan erat dengan hadits diatas. Begitu pentingnya pendidikan jasmani sehingga dapat membentuk pribadi manusia menjadi baik dengan perantaran kesehatan.


D.    Pendidikan Kepribadian
1.      Takhrij Alhadits
عن حذيفة قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاتكونوا امعة تقولون ان أحسن النّاس أحسنا وان ظلمواظلمنا ولكن وطنوا أنفسكم ان أحسن وان أساءوافلا تظلموا
Penulis menggunakan kata ظلم untuk mentahrijkan hadits tersebut dan penulis menemukan penggalan hadits tersebut terdapat dalam kitab Tirmidzi bab berbuat baik dan memaafkan al-Mu’jam 63 (ت برّ ٦٣)[5].
2.      Teks Hadits Lengkap
حدّثنااًبوْهشا م الرّفا عىّ:حدّثنا محمّدبْن فضيْل عن الْوليدبْن عبدالله بن جمىع,عن ابي الطّفيعن حذيفة قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاتكونوا امعة تقولون ان أحسن النّاس أحسنا وان ظلمواظلمنا ولكن وطنوا أنفسكم ان أحسن وان أساءوافلا تظلموا
Artinya:”abu Hisyam ar-Rifai menyampaikan kepada kami dari Muhammad bin Fudhail, dari al-Walid bin Abdullah bin Jumai’, dari abu ath-Thufail, dari Hudzaifah bahwa Rosulullah Saw bersabda : “Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan mengatakan kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat dhalim kami pun berbuat dhalim. Akan tetapi tuguhkanlah dirimu dengan berprinsip kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan, kami tidak akan melakukannya”.[6]
3.      Pembahasan Hadits
a.       Pemahaman Perkalimat
Hadits tersebut kalimat pertamanya لاتكونوا امعة تقولون ان أحسن النّاس أحسنا وان ظلمواظلمنا (Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan mengatakan kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat dhalim kami pun berbuat dhalim), sudah sangat jelas mengancam dengan kata janganlah!, bahwasanya kita tidak boleh mengikuti orang lain, yang jika orang tersebut masuk jurang kita pun mengikutinya masuk jurang.
Kalimat kedua ولكن وطنوا أنفسكم ان أحسن وان أساءوافلا تظلموا (Akan tetapi tuguhkanlah dirimu dengan berprinsip kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan, kami tidak akan melakukannya), kita dituntut untuk tetap pada kepribadian kita sendiri apabila seseorang berbuat kebaikan jangan di ikuti. Tetapi jika mereka berbuat kebaikan hendaknya kita mengikuti nya. Karena, sudah jelas perintah Allah kita disuruh untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketakwaan kepada allah (فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ)[7], juga dalam hadits shahih Bukhari  bahwasanya kita boleh memiliki sifat dengki mengenai ilmu dan sedekah dijalan Allah.
’Tidak boleh mendengki kecuali dua hal: Pertama, Seseorang diberikan Alquran oleh Allah, lalu dia membacanya sepanjang malam dan siang, maka seseorang (yang lain) berkata,’seandainya aku diberikan seperti apa yang diberikan kepada orang ini, aku akan berbuat sepertinuya. ‘Kedua, seorang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu dia menafkahkannya untuk kebenaran. Maka, seseorang (yang berkata), ‘jika aku diberikan seperti apa yang diberikan padanya, aku akan berbuat sepertinya”.[8]
b.      Pemahaman  makna keseluruhan
Secara umum, hadits ini menjelaskan kita dituntut untuk terus mengajarkan tentang berkepribadian baik dan tidak ikut ikutan dalam segala hal yang mana dapat menjadikan kita orang yang tidak memiliki kepribadian karena, orang yang tidak memiliki kepribadian akan mudah dihasut dan dijerumuskan kedalam kesesatan oleh orang-orang dzalim.

E.     Penutup
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya materi pendidikan yang wajib diterapkan dalam setiap lembaga Pendidikan Islam.
Yang pertama adalah dengan pendidikan aqidah, yan menjadi pondasi bagi kekuatan iman seorang manusia. Kedua, melalui pendidikan jasmani agar menjadi muslim yang kuat sehingga dapat memperjuangkan agama Allah. Ketiga dan yang terakhir adalah pendidikan kepribadian agar selalu senantiasa tidak mudah goyah dan selalu tegar dengan godaan dan juga masalah yang akan menimpa disuatu hari. Point tersebut adalah hal wajib yang harus ada pada semua lembaga pendidikan terutama lembaga pendidikan islam.




DAFTAR PUSTAKA


Abu Abdullah Muhammad bin Islmail al-Bukhari. 2013. Ensiklopedia Hadits 2; Shahih Bukhori 2. Jakarta: Almahira.

Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi as-Sjistani. 2013. Ensiklopedia Hadits 5; Sunan Abu Dawud. Jakarta: Almahira.

Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini. 2013. Ensiklopedia Hadits 8; Sunan Ibnu Majjah. Jakarta: Almahira.

Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi. 2013. Ensiklopedia Hadits 6; Jami’ at-Tirmidzi. Jakarta: Almahira.

A.J.Wensick. 1967. al-Mu’jam al-Mufahras li Alfas al-Hadits al-Nabawi. Leiden: E.J.Brill.

http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/2



[1]A.J.Wensick, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfas al-Hadits al-Nabawi. (Leiden: E.J.Brill, 1967), j.1, hal.42
[2]Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi as-Sjistani. Ensiklopedia Hadits 5; Sunan Abu Dawud. (Jakarta: Almahira, 2013), hal.1064, no. 5105.
[3]A.J.Wensick, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfas al-Hadits al-Nabawi. (Leiden: E.J.Brill, 1967), j. 3, hal. 512
[4]Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini. Ensiklopedia Hadits 8; Sunan Ibnu Majjah. (Jakarta: Almahira, 2013), hal. 16, no. 79.
[5]A.J.Wensick, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfas al-Hadits al-Nabawi. (Leiden: E.J.Brill, 1967), j.1, hal.81
[6]Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi. Ensiklopedia Hadits 6; Jami’ at-Tirmidzi. (Jakarta: Almahira, 2013), hal. 674, no. 2007.
[7]http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/2 (Diakses pada 27 November 2017, 07:34)
[8]Abu Abdullah Muhammad bin Islmail al-Bukhari. Ensiklopedia Hadits 2; Shahih Bukhori 2. (Jakarta: Almahira, 2013), hal. 48, no.7528

Tidak ada komentar:

Posting Komentar