A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan hal penting yang dibutuhkan oleh seluruh manusia dan
bahkan setiap muslim wajib mencari ilmu sejak ia dilahirkan hingga ia
dimakamkan, karena tanpa adanya ilmu pengetahuan sesorang akan teringgal dan
sudah tentu tidak bisa mengikuti perkembangan jaman. Sedangkan, allah sendiri
sangat membenci orang yang tidak mau mencari ilmu dan setiap orang yang tidak
mau mencari ilmu sudah barang tentu berdosa.
Pendidikan pada dasarnya mendidik manusia dari yang tidak tahu menjadi
tahu, dari yang tidak berakhlak menjadi berakhlak, dari yang tidak tau adab
menjadi tau adab. Yang paling diperhatikan pada pendidikan islam sesuai dengan tuntunan
hadits nabi adalah materi yang diutamakan yaitu pendidikan aqidah sebagai
pondasi, pendidikan jasmani untuk menguatkan dan menyehatkan, serta pendidikan
kepribadian untuk pembentuk sikap yang berakhlakul karimah.
Dari pemaparan diatas, penulis ingin membahas mengenai materi pendidikan
sesuai dengan hadits nabi untuk menyelesaikan tugas penulis dan memberikan
penjelasan materi pendidikan bagi khalayak umum dalam makalah Hadits Tarbawi
yang berjudul “Hadits tentang
Materi Pendidikan”.
B. Pendidikan Aqidah
1.
Takhrij Alhadits
عَنْ عُبَيْدِاللَّهِ بْنِ أَبِيْ رَافِعٍ عَنْ اَبِيْهِ
قَالَ رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَذَّنَ
فِى أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِىِّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِا لصَّلاَةِ
Dalam
mencari hadits lengkap dari penggalan hadits tersebut penulis menggunan kata اَذَّنَ untuk mentahrijkan hadits tersebut dan
kami menemukan penggalan hadits itu terdapat dalam mu’jam Abu Dawud bab Adab
tuhfah 107 (١٠٧ أدب د)[1].
2.
Teks Hadits Lengkap
حَدَّ ثَنَا
مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحْيَ عَنْ سُفْيَا نَ: حَدَّ ثَنِي عَا صِمُ ابْنُ
عُبَيْدِ اللهِ عَنْ عُبَيْدِاللَّهِ
بْنِ أَبِيْ رَافِعٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَذَّنَ فِى أُذُنِ لْحَسَنِ بْنِ عَلِىِّ حِيْنَ
وَلَدَتْهُ
فَاطِمَةُ بِا لصَّلاَةِ
Artinya:”Musaddad menyampaikan
kepada kami dari yahya, dari sufyan, dari Ashim bin Ubaidillah, Ubaidillah
bin abi Rafi’ bahwa ayahnya berkata, “Aku melihat rosulullah adzan ditelinganya hasan bin ali seperti
adzan ketika sholat ketika fatimah melahirkannya. Beliau mengumandangkannya
seperti adan untuk solat.[2]
3.
Pembahasan Hadits
Ibn
Qayyim berkata bahwa hikmah azan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir
adalah agar suara pertama yang didegar adalah seruan yang mengandung makna
keagungan Allah serta syahadat.
Pendidikan
Aqidah ialah proses pembinaan dan pemantapan
kepercayaan dalam diri seseorang sehingga menjadi yang kuat dan benar.
Proses tersebut dapat dilakukan dalam bentuk pengajaran, bimbingan dan latihan.
Dalam penerapannya pendidik dapat menerapkan dengan berbagai metode yang
relavan dengan tujuan yang ingin dicapai. Hadits ini mengandung penjelasan
tentang 'aqidah Islam. Ini menunjukkan bahwa pendidikan aqidah sudah ditanamkan
kepada seseorang sejak ia kecil. Karena usia inilah yang paling tepat untuk
menanamkan nilai. Bila nilai itu sudah tertanam, maka kehidupan setelah dewasa
dan masa tua banyak dipengaruhi oleh masa muda itu. Sehingga kalaupun seseorang
hidup di lingkungan yang sangat jauh dari ajaran Islam, tetapi ideologinya
tidak terpengaruh, keyakinannya tidak goyah. Adapun jika penanaman nilai itu
terlambat, apalagi setelah kepalanya terisi oleh teori-teori dan doktrin di
luar Islam, maka manusia seperti inilah susah untuk disadarkan dan dibimbing ke
jalan Islam.
Rasulullah
Saw mengajarkan agar senantiasa memelihara aturan-aturan yang sudah ditetapkan
oleh Allah Swt, tidak melanggar batasan-batasanNya. Kalau ini dilakukan,
niscaya Allah akan memeliharanya juga. Dan jika Allah dijaga dalam arti
hukum-hukumNya ditaati, maka pada saat manusia membutuhkan bantuan Allah, maka
Allah senantiasa di hadapanNya, menolong kesusahannya, meringankan bebannya.
Pelajaran
inilah yang perlu ditanamkan kepada setiap manusia, khususnya anak didik yang
masih muda agar ia siap menghadapi kehidupan yang penuh dengan ujian kesabaran
dan keadaan yang serba sulit dengan landasan aqidah yang baik.
C. Pendidikan Jasmani
1.
Takhrij Alhadits
عَنْ اَبِي هُرَيْرةَ
قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُوءْمِنُ
القوى خَيْرٌ وَاَحَبٌّ الى اللَّه منَ الْمُوءْمِنُ الضعيف و في كلُّ خير
احرص على ما ينفعك واستعن بااللَّه ولاتعجر وان اصابك شيءفلاتقل لوأنّي
فعلت كان كذا كذا ولكن
قل قدراللَّه وما شاء فعل فأِنْ لوتففح عمل الشَّيطان
Dari
Hadits diatas kami mengambil kata ضعف lalu mentahrijkannya dan menemukan penggalan hadits tersebut
terdapat dalam kitab Ibnu Majjah kitab Muqaddimah almu’jam 10 bab tentang qadar
(جه مقدّمة ١٠)[3].
2.
Teks Hadits Lengkap
حدّثنا أبوْ بكْر بْن أبي شيْبة، وعليّ بْن محمّد الطّنا
فسيّ قل:حدد ثنا عبداللهِ بْن اٍدْريس، عنْ ربيْعة بْن عثْما ن، عنْ محمّد بْن
حبّان، عن الْاً عْرج،عَنْ اَبِي هُرَيْرةَ
قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُوءْمِنُ
القوى خَيْرٌ وَاَحَبٌّ الى اللَّه منَ الْمُوءْمِنُ الضعيف و في كلُّ خير احرص
على ما ينفعك واستعن بااللَّه ولاتعجر وان اصابك شيءفلاتقل لوأنّي فعلت كان كذا
كذا ولكن قل قدراللَّه وما شاء فعل
فأِنْ لوتففح عمل الشَّيطان
Artinya:”Abu Bakar bin Abu Syaibah
dan Ali bin Muhammad ath-Thanafisi menyampaikan kepada kami dari Abdullah bin
Idris, dari Rabiah Bin Utsman, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari al
A’raj, dari Abu Hurairah berkata, Rosulullah bersabda : “Orang mukmin yang kuat
lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah disetiap kebaikannya,
bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada
Allah dan janganlah lemah, dan jika sesuatu menimpamu dan janganlah berkata
sekiranya aku mengerjakan hal itu maka aku akan begini dan begini. Akan tetapi
katakanlah ini karena ketentuan Allah, dan apa yang ia kehendaki ia kerjakan,
dan sesungguhnya kata “lau”(seandainya) membuka pintu-pintu syaitan.[4]
3.
Pembahasan Hadits
a.
Pemahaman perkalimat
Pada
kalimat الْمُوءْمِنُ القوى خَيْرٌ وَاَحَبٌّ الى اللَّه منَ
الْمُوءْمِنُ الضعيف و في كلُّ خير (Orang mukmin yang kuat
lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah disetiap kebaikannya),
bahwasanya Allah mencintai seorang muslim yang kuat yang sehat karena dalam
menjalankan ibadah kepada Allah kita tidak dituntut untuk mengeluh dalam setiap
kebaikan yang kita jalani, kita dituntut kuat baik dari segi fisik maupun
rohani.
Kalimat
kedua,
احرص على ما ينفعك
واستعن بااللَّه ولاتعجر وان اصابك شيءفلاتقل لوأنّي فعلت كان كذا كذا ولكن قل
قدراللَّه وما شاء فعل فأِنْ لوتففح عمل الشَّيطان
“Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat
bagimu, dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah, dan jika sesuatu
menimpamu dan janganlah berkata sekiranya aku mengerjakan hal itu maka aku akan
begini dan begini. Akan tetapi katakanlah ini karena ketentuan Allah, dan apa yang
ia kehendaki ia kerjakan, dan sesungguhnya kata “lau”(seandainya) membuka pintu-pintu
syaitan.”
Makna yang bisa kita pahami dari penggalan kalimat
hadits berikutnya adalah kita dituntut untuk selalu bersemangat mengerjakan
kebaikan dengan selalu berdoa memohon kepada Allah dan harus selalu kuat dalam
iman kita karena semua itu adalah ketentuan Allah, karena jika kita selalu
mengeluh dan tidak kuat dalam iman, maka dengan mudah setan masuk kedalam hati
kita melalui pintu-pintu yang telah kita buka karena mengeluh dan lemah dalam
iman.
b.
Pemahaman makna
keseluruhan
Disini
kita melihat adanya kesamaan kewajiban antara laki-laki dan perempuan untuk
mendapatkan pengajaran sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Jika difahami
secara kontekstual, hadis tersebut memotivasi generasi muslim agar dapat
memiliki berbagai kompetensi guna menunjang penyebaran ajaran Islam.
Pendidikan
jasmani sendiri merupakan bagian integral dari pendidikan total yang mencoba
mencapai tujuan untuk mengembangkan kebugaran jasmani, mental, sosial, serta
emosional bagi masyarakat, dengan wahana aktivitas jasmani. Nabi Muhammad
sendiri pun sangat menyukai sesuatu yang sehat dan menyehatkan bagi jasmani dan
rohani.
Mensana
Incorpore Sano, Didalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yan sehat. Sering kali
kita mendengar pepatah ini yang tentunya sangat berkaitan erat dengan hadits
diatas. Begitu pentingnya pendidikan jasmani sehingga dapat membentuk pribadi
manusia menjadi baik dengan perantaran kesehatan.
D. Pendidikan Kepribadian
1.
Takhrij Alhadits
عن حذيفة قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاتكونوا امعة تقولون ان أحسن النّاس أحسنا وان ظلمواظلمنا
ولكن وطنوا أنفسكم ان أحسن وان أساءوافلا تظلموا
Penulis menggunakan kata ظلم
untuk mentahrijkan hadits tersebut dan penulis menemukan penggalan hadits
tersebut terdapat dalam kitab Tirmidzi bab berbuat baik dan memaafkan al-Mu’jam
63 (ت برّ ٦٣)[5].
2.
Teks Hadits Lengkap
حدّثنااًبوْهشا
م الرّفا عىّ:حدّثنا محمّدبْن فضيْل عن الْوليدبْن عبدالله بن جمىع,عن ابي الطّفيعن حذيفة قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاتكونوا امعة تقولون ان أحسن النّاس أحسنا وان ظلمواظلمنا
ولكن وطنوا أنفسكم ان أحسن وان أساءوافلا تظلموا
Artinya:”abu Hisyam ar-Rifai menyampaikan
kepada kami dari Muhammad bin Fudhail, dari al-Walid bin Abdullah bin Jumai’,
dari abu ath-Thufail, dari Hudzaifah bahwa
Rosulullah Saw bersabda : “Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan
mengatakan kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan
kalau mereka berbuat dhalim kami pun berbuat dhalim. Akan tetapi tuguhkanlah
dirimu dengan berprinsip kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat
kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan, kami tidak akan melakukannya”.[6]
3.
Pembahasan Hadits
a.
Pemahaman Perkalimat
Hadits
tersebut kalimat pertamanya لاتكونوا امعة تقولون ان
أحسن النّاس أحسنا وان ظلمواظلمنا (Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan
mengatakan kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan
kalau mereka berbuat dhalim kami pun berbuat dhalim), sudah sangat jelas
mengancam dengan kata janganlah!, bahwasanya kita tidak boleh mengikuti orang
lain, yang jika orang tersebut masuk jurang kita pun mengikutinya masuk jurang.
Kalimat kedua ولكن وطنوا أنفسكم ان أحسن وان أساءوافلا تظلموا (Akan tetapi tuguhkanlah
dirimu dengan berprinsip kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat
kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan, kami tidak akan
melakukannya), kita dituntut untuk tetap pada kepribadian kita sendiri apabila
seseorang berbuat kebaikan jangan di ikuti. Tetapi jika mereka berbuat kebaikan
hendaknya kita mengikuti nya. Karena, sudah jelas perintah Allah kita disuruh
untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketakwaan kepada allah (فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ)[7],
juga dalam hadits shahih Bukhari bahwasanya kita boleh memiliki sifat dengki
mengenai ilmu dan sedekah dijalan Allah.
’Tidak
boleh mendengki kecuali dua hal: Pertama, Seseorang diberikan Alquran oleh
Allah, lalu dia membacanya sepanjang malam dan siang, maka seseorang (yang
lain) berkata,’seandainya aku diberikan seperti apa yang diberikan kepada orang
ini, aku akan berbuat sepertinuya. ‘Kedua, seorang yang dikaruniai harta oleh
Allah, lalu dia menafkahkannya untuk kebenaran. Maka, seseorang (yang berkata),
‘jika aku diberikan seperti apa yang diberikan padanya, aku akan berbuat
sepertinya”.[8]
b.
Pemahaman makna keseluruhan
Secara umum, hadits ini menjelaskan kita dituntut
untuk terus mengajarkan tentang berkepribadian baik dan tidak ikut ikutan dalam
segala hal yang mana dapat menjadikan kita orang yang tidak memiliki
kepribadian karena, orang yang tidak memiliki kepribadian akan mudah dihasut
dan dijerumuskan kedalam kesesatan oleh orang-orang dzalim.
E.
Penutup
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya materi
pendidikan yang wajib diterapkan dalam setiap lembaga Pendidikan Islam.
Yang pertama adalah dengan pendidikan aqidah, yan menjadi pondasi bagi
kekuatan iman seorang manusia. Kedua, melalui pendidikan jasmani agar menjadi
muslim yang kuat sehingga dapat memperjuangkan agama Allah. Ketiga dan yang
terakhir adalah pendidikan kepribadian agar selalu senantiasa tidak mudah goyah
dan selalu tegar dengan godaan dan juga masalah yang akan menimpa disuatu hari.
Point tersebut adalah hal wajib yang harus ada pada semua lembaga pendidikan
terutama lembaga pendidikan islam.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Abdullah Muhammad bin Islmail al-Bukhari. 2013. Ensiklopedia Hadits 2; Shahih Bukhori 2.
Jakarta: Almahira.
Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi as-Sjistani.
2013. Ensiklopedia Hadits 5; Sunan Abu
Dawud. Jakarta: Almahira.
Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah
Al Quzwaini. 2013. Ensiklopedia Hadits 8;
Sunan Ibnu Majjah. Jakarta: Almahira.
Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi. 2013. Ensiklopedia Hadits 6; Jami’ at-Tirmidzi.
Jakarta: Almahira.
A.J.Wensick. 1967. al-Mu’jam
al-Mufahras li Alfas al-Hadits al-Nabawi. Leiden: E.J.Brill.
http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/2
[1]A.J.Wensick, al-Mu’jam
al-Mufahras li Alfas al-Hadits al-Nabawi. (Leiden: E.J.Brill, 1967), j.1,
hal.42
[2]Abu Dawud Sulaiman bin
al-Asy’ats al-Azdi as-Sjistani. Ensiklopedia
Hadits 5; Sunan Abu Dawud. (Jakarta: Almahira, 2013), hal.1064, no. 5105.
[3]A.J.Wensick, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfas al-Hadits
al-Nabawi. (Leiden:
E.J.Brill, 1967), j. 3, hal. 512
[4]Abu Abdullah Muhammad bin
Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini. Ensiklopedia Hadits 8; Sunan Ibnu
Majjah. (Jakarta: Almahira, 2013), hal. 16, no. 79.
[5]A.J.Wensick, al-Mu’jam
al-Mufahras li Alfas al-Hadits al-Nabawi. (Leiden: E.J.Brill, 1967), j.1,
hal.81
[6]Abu Isa Muhammad bin Isa
at-Tirmidzi. Ensiklopedia Hadits 6; Jami’ at-Tirmidzi. (Jakarta: Almahira,
2013), hal. 674, no. 2007.
[8]Abu Abdullah Muhammad
bin Islmail al-Bukhari. Ensiklopedia
Hadits 2; Shahih Bukhori 2. (Jakarta: Almahira, 2013), hal. 48, no.7528
Tidak ada komentar:
Posting Komentar