Selasa, 28 November 2017

PSIKOLOGI AGAMA

1 definisi psikologi agama,ruang lingkup beserta manfaatnya
PENGERTIAN PSIKOLOGI AGAMA
Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. Sebenarnya kata psikologi secara harfiah berasal dari psyche: jiwa dan logos: ilmu. Dalam mitologi Yunani, Psyche adalah seorang gadis cantik bersayap seperti kupu-kupu. Di sini  jiwa pun digambarkan seperti seorang gadis cantik dan kupu-kupu sebagai simbol keabadian. Dengan demikian psikologi dapat diartikan dengan “ilmu pengetahuan tentang jiwa” dan dapat disingkat dengan “ilmu jiwa”[[1]]
Menurut Verbeek, psikologi adalah ilmu yang menyelidiki penghayatan dan perbuatan manusia. Menurut Drs. Bimo Walgito, psikologi merupakan suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari tentang tingkah laku serta aktivitas-aktivitas,dimana tingkah laku serta aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan.[[2]]Menurut Robert H. Thouless, psikologi sekarang digunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia.[[3]]
            Secara umum psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala keejiwaan yang berada di belakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya. Sikap dan perilaku yang terlihat adalah gambaran dari gejala jiwa seseorang.[[4]]
RUANG LINGKUP PSIKOLOGI AGAMA
            Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lainnya. Sebagai contoh, dalam tujuannya psikologi agama dan ilmu perbandingan agama memiliki tujuan yang tak jauh berbeda, yakni mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan mengaplikasikan metode-metode penelitian yang bertipe bukan agama dan bukan teologis. Bedanya adalah, bila ilmu perbandingan agama cenderung memusatkan perhatiannya kepada agama-agama primitif dan eksotis tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman dengan memperbandingkan satu agama dengan agama lainnya. Sebaliknya psikologi agama, seperti pernyataan Robert H. Thouless, memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi.[[5]]
Prof. Dr. Zakiah Daradjat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama, yang dianut). Oleh karena itu, menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai:
Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tenteram sehabis sembahyang, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci, perasaan tenang, pasrah, dan menyerah setelah berzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan, rasa gelisah yang menghantui ketika meninggalkan shalat, rasa ketakutan setelah melakukan yang dilarang agama, rasa bersalah setelah melakukan dosa.Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya, misalnya rasa tenteram, damai, dan kelegaan batin.
            Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang. Pengaruhnya biasanya berupa meningkatnya ketaatan seseorang terhadap kepercayaan yang dianutnya, karena dia yakin akan adanya kehidupan setelah kematian, kehidupan akhirat yang kekal dibandingkan dengan kehidupan duna yang fana, serta dia yakin akan adanya hari pembalasan, dimana berupa tempat kembali yakni neraka dan surga.
            Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan. Dengan seseorang yakin akan adanya surga dan neraka serta adanya dosa dan pahala, maka manusia tersebut akan senantiasa berbuat baik dan tidak berbuat apa-apa yang dilarang agama.Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat ayat suci kelegaan batinnya.[[6]]     Psikologi agama tidak memasuki wilayah ajaran dan keyakinan suatu agama atau ideologi tertentu. Hal ini mengandung makna, bahwa psikologi agama tidak berwenang untuk mendukung, membenarkan, menolak, atau menyalahi ajaran, keyakinan, atau ideologi tertentu.[[7]] Untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai batas yang menjadi penelitian psikologi agama, agaknya perlu diketahui istilah-istilah yang dipakai dalam kajianya. Dua istilah yang lazim dipakai adalah kesadaran beragama (religious conciousnes), dan pengalaman beragama (religious of experience).
Menurut Zakiah Darajat, kesadaran beragama (religious conciousnes) adalah aspek mental dari aktivitas agama. Aspek ini merupakan bagian/segi agama yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi. Sedangkan yang dimaksud dengan pengalaman agama (religious of experience) adalah unsur perasaan dalam kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan dalam tindakan (amaliyah) nyata.[[8]] Karenanya, psikologi agama tidak mencampuri segala bentuk permasalahan yang menyangkut pokok keyakinan suatu agama, termasuk tentang benar salahnya atau masuk akal dan tidaknya keyakinan agama.
Tegasnya psikologi agama hanya mempelajari dan meneliti fungsi-fungsi jiwa yang memantul dan memperlihatkan diri dalam perilaku dalam kaitannya dengan kesadaran dan pengalaman agama manusia. Kedalamnya juga tidak termasuk unsur-unsur keyakinan yang bersifat abstrak (gaib) seperti tentang Tuhan, surga dan neraka, kebenaran sesuatu agama, kebenaran kitab suci dan lainnya, yang tak mungkin teruji secara empiris.
Dengan demkian, psikologi agama menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat adalah mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya. Persoalan pokok dalam psikologi agama adalah kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah laku agama, kata Robert H. Thouless. Atau kajian terhadap tingkah laku agama dan kesadaran agama.[[9]]
MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI AGAMA
Seperti diketahui bahwa psikologi agama sebagai salah satu cabang dari psikologi juga ilmu terapan. Psikologi agama sejalan dengan ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang dianutnya. Kemudian bagaimana rasa keagamaan itu tumbuh dan berkembang pada diri seseorang dalam tingkat usia tertentu, ataupun bagaimana perasaan keagamaan itu dapat mempengaruhi ketentraman batinnya, maupun berbagai konflik yang terjadi dalam diri seseorang hingga ia  menjadi lebih taat dalam menjalankan ajaran agamanya atau meninggalkan ajaran itu sama sekali.[[10]]
Hasil kajian psikologi agama tersebut, ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan, seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi, kedokteran, pengobatan alternatif misalnya ruqyah, ekonomi/perikanan, dakwah, politik maupun mendorong program-program Pemerintah seperti KB, transmigrasi, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya.[[11]]
Bahkan, sudah sejak lama Pemerintahan kolonial Belanda memanfaatkan hasil kajian Psikologi Agama untuk kepentingan politik. Pendekatan agama yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje terhadap para pemuka agama dalam upaya mempertahankan politik penjajahan Belanda di tanah air, barangkali dapat dijadikan salah satu contoh kegunaan Psikologi Agama. Demikian juga, dari hasil penelitian diberbagai perusahaan yang melakukan pembinaan agama secara berkala kepada para karyawan maupun memberikan jam-jam istirahat untuk salat, ternyata dapat meningkatkan kejujuran, kepercayaan dan etos kerja mereka yang ada kaitannya dengan perkembangan kesadaran agama mereka.[[12]]
Di bidang industri juga psikologi agama dapat dimanfaatkan. Sekitar tahun 1950-an di perusahaan minyak Stanvac (Plaju dan Sungai Gerong) diselenggarakan ceramah agama islam untuk para buruhnya. Para penceramah adalah para pemuka agama setempat. Kegiatan berkala ini diselenggarakan didasarkan atas asumsi bahwa ajaran amengandung nilai-nilai moral yang dapat menyadarkan para buruh dari perbuatan yang tak terpuji dan merugikan perusahaan. Sebaliknya dari hasil kegiatan tersebut dievaluasi, dan ternyata pengaruh ini dapat mengurangi kebocoran seperti pencurian, manipulasi maupun penjualan barang-barang perusahaan yang sebelumnya sukar dilacak.[13]

2 a. teori tentang pertumbuhan jiwa keagamaan berdasarkan psikologi agama?
- Teori psikologi agama
1. Teori Monistik : (Mono=Satu)
     Teori monistik berpendapat, bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu adalah satu sumber kejiwaan. Selanjutnya sumber tunggal manakah yang dimaksud yang paling dominan sebagai sumber kejiwaan itu timbul beberapa pendapat, yaitu yang dikemukakan oleh :
            a.       Thomas Van Aquino       
Sesuai dengan masanya Thomas Aquino mengemukakan, bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu, ialah berpikir. Manusia ber-Tuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berpikir manusi itu sendiri. Pandangan semacam ini masih tetap mendapat tempatnya hingga sekarang di mana para ahli mendewakan rasio sebagai satu-satunya motif yang menjadi sumber agama.

                  b.      Fredrick Hegel
Hampir sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh Thomas Van Aquino, maka filosof Jerman ini berpendapatk agama adalah suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi.

2.      Teori Fakulti (Faculty Theory)
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak bersumber pada suatu faktor  yang tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsure, antara lain yang dianggap memegang peranan penting adalah : fungsi cipta (reason), rasa (emotion) dan karsa (will).
Demikian pula perbuatan manusia yang bersifat keagamaan dipengaruhi dan ditentukan oleh tiga fungsi tersebut :
                1.      Cipta (reason) berperanan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
                 2.      Rasa(emotion) menimbulkansikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
                 3.      Karsa (will) menimbulkan amalan-amalan atau doktrin keagamaan yang benar dan logis.
      (Jalaludin.1998.Psikologi Agama.Jakarta:Grafindo Persada)

   b. fase -fase tentang perkembangan agama pada anak atau sifat sifat keagamanya
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian;
1)      Tingkat Dongeng (The Fairly Tale Stage)
Pada tahap ini anak yang berumur 3-6 tahun konsep mengenal Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi sehingga dalam menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fantastik, yang diliputi oleh dongeng-dongeng. Menurut hasil penelitian Dr. Hanni mengindikasikan bahwa kemampuan berfikir tentang konsep agama pada anak sangat sedikit, kalau tidak dikatakan tidak ada artinya dan itu hanyalah permainan bebas dari fantasi dan emosinya. Hal ini menjadi wajar, karena konsep agama biasanya cukup rumit dan mengatasi daya tangkap intelektual anak, sehingga terjadi penerimaan atau penolakan itu merupakan hal yang wajar. Dan itu terjadi tentunya bukan pemahaman secara intelektual melainkan pada alasan lain.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada pemuka agama daripada isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kanak-kanaknya.
2)      Tingkat Kepercayaan (The Realistic Stage)
Pada fase ini ide-ide tentang Tuhan muncul dan telah tercermin dalam konsep yang realistik, dan biasanya muncul dari lembaga agama atau pengajaran orang dewasa. Ide keagamaan muncul dari anak didasarkan atas emosional, sehingga melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Tahap ini dimulai sejak usia masuk sekolah 7 tahun. Yang perlu dicatat pada tahap ini adalah bahwa pada tahap usia tujuh tahun dipandang sebagai permulaan perturnbuhan logis, sehingga wajar ketika Rosulullah mernerintahkan untuk menyuruh anak-anak umatnya untuk melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun dan memberi sanksi berupa pukulan apabila melanggarnya.
3)      Tingkat Individu ( The Individual Stage )
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Dalam terminologi islam, dorongan ini dikenal dengan hidayat al-diniyyat, berupa benih-benih keberagamaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia pada hakikatnya adalah makhluk beragama. Namun keberagamaan tersebut memerlukan bimbingan agar dapat tumbuh dan berkembang secara benar. [14] Pada tingkat ini, anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:
  1. Konsep ketuhanan yang konvensioal adan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi
  2.  Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal
  3. Konsep ketuhanan yang humanistik yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase pertumbuhan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:
  1. Fase dalam kandungan
Untuk memahami pertumbuhan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa pertumbuhan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.
  1. Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui pertumbuhan agama pada seorang anak.Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
  1. Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan.Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.
  1. Masa anak sekolah
Seiring dengan pertumbuhan aspek- aspek jiwa lainnya, pertumbuhan agama juga menunjukkan pertumbuhan yang semakin realistis.Hal ini berkaitan dengan pertumbuhan intelektualitasnya yang semakin berkembang.[15]

   c. faktor –faktor  yang mempengaruhi  jiwa keagamaan dijiwa remaja
Perkembangan rasa keagamaan pada masa remaja sangat dipengaruhi oleh tumbuhnya hati nurani keagamaan, baik kualitasnya pada akhir usia anak maupun perkembangan pada usia remaja. Hati nurani yang sudah tumbuh kuat pada akhir masa anak-anak akan akan memudahkan perkembangan rasa keagamaan pada masa remaja.
Faktor consience atau hati nurani ini mempunyai padanan kata superego, inner light dan inner policemen. Pada masa remaja, anak masuk ke dalam tahap pendewasaan, dimana hati nurani (conscience) sudah mulai berkembang melalui pengembangan dan pengayaan pada usia anak melalui proses sosialisasi. Proses sosialisasi nilai tersebut terlaksana melalui proses identifikasi anak terhadap perilaku orang tuanya dan juga orang orang di sekelilingnya yang memiliki kesan dominan secara kejiwaan, sehingga terjadi proses imitasi sikap dan perilaku. Kekuatan dari kata hati sebagiannya justru terletak pada ketidak mengertian anak, karena dengan begitu konsep nilai yang masuk dalam diri anak terbentuk melalui proses tanpa tanya, begitu saja terserap tanpa adanya reaksi dari dalam.
Proses kerja hati nurani dibantu oleh gejala jiwa yang lain yang disebut rasa bersalah (guilt) dan rasa malu (shame), yang akan muncul setiap kali ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Clark menyatakan bahwa kapasitas untuk memiliki kata hati adalah merupakan potensi bawaan bagi setiap manusia, tetapi substansi dari kata hati merupakan hasil dari proses belajar.
Rasa bersalah (guilt) adalah perasaan yang tumbuh jika dirinya tidak melakukan sesuatu sesuai dengan hati nuraninya. Beriringan dengan itu kemudian muncul rasa rasa malu (shame), yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraan penilaian negatif dari orang lain terhadap dirinya. Kata hati, rasa bersalah dan rasa malu dalam perkembangan religiousitas adalah mekanisme jiwa yang terbentuk melalui proses internalisasi nilai nilai keagamaan pada usia anak, yang akan berfungsi sebagai pengontrol perilaku pada usia remaja.
Hati nurani mulai mengambil peran pada masa remaja yang juga membantu dalm proses pemilikan pandangan hidup yang akan menjadi dasar dasar pegangan hidupnya dalam bermasyarakat.
Menurut W. Stabuck, pertumbuhan dan perkembangan agama dan tindak lanjut keagamaan remaja sangat berkaitan dengan:
1)      Pertumbuhan dan Pikiran Mental
Pertumbuhan kognitif memberi kemungkinan terjadi perpindahan/transisi dari agama yang lahiriyah menuju agma yang batiniah. Perkembangan kognitif memberi kemungkinan remaja untuk meninggalkan agama anak-anak yang diperoleh dari lingkungan dan mulai memikirkan konsep serta bergerak menuju agama iman yang sifatnya sungguh-sungguh personal.
2)      Perasaaan Beragama
Masa remaja adalah masa bergejolaknya bermacam-macam perasaan yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Kondisi ini menyebabkan terjadinya perubahan emosi yang begitu cepat dalam diri remaja. Ketidakstabilan perasaan remaja kepada Tuhan/Agama. Perasaan remaja pada agama adalah ambivalensi. Kadang-kadang sangat cinta dan percaya pada Tuhan, tetapi sering pula berubah menjadi acuh tak acuh dan menentang.
3)      Pertimbangan Sosial
Dalam kehidupan keagamaan, remaja cenderung dihadapkan pada konflik antara pertimbangan moral dan materil. Terhadap konflik ini remaja cenderung bingung untuk menentukan pilihan. Kondisi ini menyebabkan remaja menjadi cenderung pada pertimbangan lingkungan sosialnya.[16]
4)      Perkembangan Moral
Pertumbuhan dan perkembangan moral terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan pembiasaan yang ditanamkan sejak kecil oleh orang tua. Perkembangannya baru dapat dikatakan mencapai kematangan pada usia remaja.
   d. sifat-sifat keagamanya
  1. Percaya ikut-ikutan
Percaya ikut-ikutan ini dihasilkan oleh didikan agama yang didapat dari keluarga ataupun dari lingkungannya. Melaksanakan ibadah dan ajaran agama sekedar mengikuti suasana lingkungan dimana dia hidup. Cara beragama seperti ini merupakan lanjutan dari cara beragama di masa kanak-kanak, seolah-olah tidak terjadi perubahan apa-apa pada pikiran mereka terhadap agama. Akan tetapi, jika diteliti masing-masing remaja akan akan diketahui bahwa didalam hati mereka terdapat pertanyaan-pertanyaan yang tersembunyi, hanya saja usaha untuk mencari jawaban tidak menjadi perhatiannya. Percaya ikut-ikutan ini biasanya tidak berlangsung lama, dan banyak terjadi pada masa-masa remaja pertama usia 13-16 tahun. Sesudah itu biasanya berkembang secara kritis dan lebih sadar.[17]
  1. Percaya dengan kesadaran
Kesadaran agama atau semangat agama pada masa remaja, mulai dengan meninjau dan meneliti kembali cara beragama pada waktu masa kecil. Mereka ingin menjadikan agama, sebagai suatu lapangan baru untuk membuktikan pribadinya, dan tidak mau lagi beragama sekedar ikut-ikutan saja. Semangat agama tersebut tidak terjadi sebelum umur 17 atau 18 tahun, semangat agama mempunyai dua bentuk yaitu :
a)      Semangat positif. Semangat agama yang positif adalah semangat agama yang berusaha melihat agama dengan pandangan yang kritis, tidak lagi mau menerima hal-hal yang bercampur dengan bid’ah dan khurafat dari agama. Dan menghindari gambaran sensusal terhadap beberapa obyek agama, seperti gambaran surga, neraka, malaikat dan syetan tidak lagi dibayangkan, akan tetapi memikirkan secara abstrak. Maka sikap remaja yang bersemangat positif ialah sikap yang ingin membersihkan agama dari segala macam hal yang mengurangkan kemurnian agama.
b)     Semangat Negative/Khurafi. Agama dan keyakinannya biasanya lebih cenderung kepada mengambil unsur-unsur luar yang bercampur ke dalam agama misalnya khurafat, bid’ah dan kepercayaan lainnya.
  1. Kebimbangan beragama
Kebimbangan remaja terhadap agama itu tidak sama, berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kepribadiannya masing-masing. Ada yang mengalami kebimbangan ringan yang cepat bisa diatasi dan ada yang sangat berat sampai kepada berubah agama. Kebimbangan tergantung pada dua faktor;
a)      Kebimbangan dan keingkaran kepada Tuhan merupakan pantulan keadaan masyarakat yang dipenuhi oleh penderitaan, kemerosotan moral, kekacauan dan kebingungan.
b)      Pantulan dari kebebasan berfikir yang menyebabkab agama menjadi sasaran dan arus sekularisme.
Faktor penyelamat untuk menghindarkan remaja dari kesesatan adalah
a)      Hubungan kasih sayang antara remaja dengan orang tua
b)      Ketekunan menjalankan syariat agama, terutama dalam kelompok beragama. Adanya jamaah yang tekun beragama, akan membuatnya terikat oleh tata tertib dalam bergama.
c)      Berusaha mempertahankan kepercayaannya terhadap Tuhan.

  1. Tidak percaya (cenderung Atheis)
Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari adanya wujud Tuhan sama sekali dan mengganti dengan keyakinan lain.
Perkembangan remaja ke arah tidak mempercayai adanya Tuhan, sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua kepadanya, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, dan kekuasaan terhadap siapapun, termasuk kekuasaan Tuhan.


3 a. latar belakang sikap keagamaan diusia serta sikap –sikap keagamanya
Dengan berahkirnya masa remaja. Maka berahkir pulalah kegoncangan kegoncangan jiwa yang menyertai pertumbuhan remaja itu. Yang berarti bahwa orang yang telah melewati usia remaja. Mempunyai ketetraman jiwa. Ketetapan hati dan kepercayaan yang tegas. Baik didalam bentuk positif,maupun negatif. Kendatipun demikian,dalam kenyataan hidup sehari-hari,masih banyak orang yang merasakan kegoncangan jiwa padausia dewasa. Bahkan perubahan-perubahan kepercayaan dan keyakinaan kadang-kadang masih terjadi saja. Keadaan dan kejadian-kejadian itu sangat menarik perhatian ahli agama,sehingga mereka berusaha terus-menerus mengajak orang untuk beriman kepada allah dan berusaha memberikan pengertian-pengertian tentang agama.
    b. latar belakang sikap keagamaan diusia lanjut
menganalis hasil penelitian M.Arglye dan Elie A Coben,Robert H Thoules cenderung kebanyakan bahwa yang menentukan berbagai sikap keberagamaan diumur tua adalah dipermulisasi. Kecendrung hilangnya identifikasi diri dengan tubuh dan juga secepatnya dan datang kematian merupakan salah satu faktor  yang menentukan sikap keagamaan. Dalam buku psikologi agama jalahuddin menuliskan beberapa ciri-ciri keagamaan manusia pada usia lanjut secara garis besarnya adalah:
1.       Kehidupaan keberagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemanapun
2.       Meningkatkan mulai  munculnya pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan ahkirat secara lebih sungguh-sungguh
    c. perlakuaan terhadap diusia lanjut menurut islam
menerima kebenaraan agama berdasarkan pertimbangan peikiran yang memang bukan sekedar berikut-ikutan
1.       Cenderung bersifat reatis sehingga norma norma  agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku
2.       Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam perubahan keagamaan
3.       Tingkat dalam beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap berkeagamaan merupakan mealisasi dari sikap hidup
4.       Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas
5.       Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemanapun beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran juga didasarkan atas pertimbangan hati murni. Sikap keberagaaman cenderung mengarah pada tipe-tipe kepribadaian dalam menerima,memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
6.       Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial,sehingga perhatian terhadao kepentingaan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang
4  a. Hubungan kebudayaan dan tradisi
Tradisi keagamaan termasuk kedalam pranat primer.hal ini dikarenakan antara lain menurut rodaslav A.tsanoff,pranata keagamaan ini mengandung unsur-unsur yang berkaitan dengan ke Tuhanaan atau keyakinaan,tindak keagamaan,perasaa-perasaan yang  bersifat mistik,penyembah kepada yang suci (ibadah),dan keyakinaan terhadap nilai 0nilai yang haqiqi. Dengan demikian tradisi keagamaan sulit berubah,karena selain didukung oleh masyarakat juga memuat sejumlah unsur-unsur yang memiliki nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan keyakinaan masyrakat . tradisi keagamaan mengandung nilai-nilai yang sangat penting (privotal values) yang berkaitan erat agama yang dianut masyrakat dengan tegas mendasarkan kebudayan mendasarkan  pada nilai-nilai dan normal islam
    b. hubungan sikap keagamaan dan tradisi keagamaan
tradisi keagamaan pada dasarnya merupakan pranata keagamaan yang sudah dianggap baku oleh masyrakat pendukungnya. Dengan demikian,tradisi keagamaan sudah merupakan kerangka acuan norma dalam kehidupan dan perilaku masyrakat. Dan tradisi keagamaan sebagai pranata primer dan kebudayaan memang sulit untuk berubah,karena keberadaanya didukung oleh kesadaraan bahwa pranat tersebut menyangkut kehormataan,harga diri,dan jati diri masyarakat pendukungnya.
Para ahli antropologi membagi kebudayaan dalam bentuk dan isi. Menurut bentuknya kebudayaan terdiri dari tiga,yaitu (koentajaraningrat,1986 : 80-90):
1.       Sistem kebudayaan (cultur system)
Sistem kebudayaan berwujud gagasan,pikiran ,konsep,nilai-nilai budaya ,norma-norma,pandangan-pandangan yang bentuknya abstrak serta dalam berada pikiran para pemaku kebudayaan yang bersangkutaan.
2.       Sistem sosial (sosial system ) sistem sosial berwujud tingkah laku terpada perilaku,upacara-upacara serta ritus-ritus yang wujudnya lebih konkreet. Sistem sosial adalah bentuk kebudayaan dalam wujud yang lebih konkret dan dapat diamati
3.       Benda-benda budaya (material culture)
Benda-benda budaya disebut juga sebagai kebudayaan fisik atau kebudayaan material benda budaya merupakan hasil tingkah laku dan karya pemanku kebudayaan yang bersangkutaan.
Isi kebudayaan menurut koetajaningrat terdiri atas tujuh unsur,yaitu:bahasa,system teknologi ,system ekonomi,organisasi sosial,system pengetahuan,religi dankeseniaan. Dengan demikian,dilihat dari bentuk dan isi,kebudayaan dasarnyamerupakan suatu tatanan yang mengatur kehidupan suatu masyrakat disebutcultural system. Pada terhadap pertama terjadi proses transfer nilai-nilai dan norma-norma agama yang dari pemimpin agama kepada masyarakat. Transfer ini adalah dalam psikologi pemikiran disebut aspek kognitif (yang menyangkut pengetahuan agama)
Lingkungan yang bersumber dari ajaran agama ini kemudian mempengaruhi sikap keberagamaan masyrakat indonesia hingga sekarang. Pada wilayah-wilayah tertentu sikap keberagamaan ini dipengaruhi oleh agama Hindu. Pada wilayah lain oleh Kristenndan wilayah selanhutnya oleh Islam. Di sini terlihat bagaimana tradisi keagamaan yang telah bertanggung sejak empat belas abad lalu masih ikut mempengaruhi sikap keagaaman masyrakat.
    c. pengaruh eraglobalisasi terhadap perkembangan jiwa keagamaan
1.      Pengertian globalisasi
Makna globalisasi menurut Anthoy Giddens dijelaskan sebagai intensifikasi relasi social diseluruh dunia yang menghubungkan lokalitas yang berjauhan sehingga kejadian local dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dibelahan dunia lain.[[18]]
Menutur Akbar S. Ahmad dan Hasting Donnan makna globalisasi diberi batasan yaitu pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat dalam teknologi komunikasi, transformasi, informasiyang bias membawa bagian-bagian dunia yang jauh (menjadi hal-hal) bias dijangkau dengan mudah.[[19]]
Istilah globalisasi sering digunakan untuk mengembangkan penyabaran dan keterkaitan produksi, komunikasi dan teknologi seluruh dunia.
2.      Kebudayaan dan era globalisasi dan pengaruhnya terhadap jiwa keagamaan
Secara fenomena kebudayaan  daam era globalisasi mengaruh kepada nila-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan, khususnya dikalangan generasi muda. Meskipun dalam sisi tertentu kehidupan tradisi keagamaan tampak manimgkat dalam kesemarakannyanamun dalam kehidupam masyarakat global yang cenderung sekuler barang kali akan ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan para generasi muda. Paling tidak terdapat kecenderungan yang tampak. Pertama muncul sikap toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama, dikalangan kelompok moderat. Kedua munculnya sikap fanatic keagamaan yang muncul pada kelpmpok fundamental.
Kedua kecenderungan tersebut menurut pendekatan psikologis berisi ciri-ciri kepribadian yang ditamplkan kelompok introvert lebih tertutup terhadap perubahan yang terjadi, sedankan ekstrovert lebih bersikap terbuka dan mudah menerima. Tetapi yang jelas era globlisasi dipandang dari sudut teknologi adalah era modernisasi puncak bagi peradaban manusia.
Era globalisasi memberiakanperubahan besar pada tatanan duniasecara menyeluruh dan perubahan itu dihadapi bersama sebagai suatu perubahan yangwajar. Sebab mau tidak mau siap tidak siap perubahan diperkirakan bakalterjadi. Dikala manusia dihadapkan pada malapetaka sebagai dampak perkembangan dankemajuan modernisasi dan perkembangan teknologi itu sendiri.
Dalam kondisi seperti itu barabgkali manusia mengalami konflik batin secara besar-esaran. Konflik tersebut sebagai dampak ketidak simbanganrohani. Kegoncangan batin ini barabgkaliakan mempengaruhi kehidupanpsikologi manusia. Pada kondisi ini manusia akan mencari ketentraman batin antara lain agama.
Sementara itu nilsi-nilsi tradisional mengalami penerusan mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakat, termasuk kedalam sistem  nilai yang bersumber dari ajaran islam. Dipihak lain manusia juga dihadapkan pada upaya untuk mempertahankan system nilaiyang mereka anut sementara itu era global menawarkan alternatif baru (kekaguman dari hasil rekayasa iptek) yang menawarkan kenikmatan duniawi.hal ini menimbulkankeraguan dan kecemasan manusia. Adapun kemungkinan yang terjadi pada manusia adalah : pertama mereka yang tidakikut larut alam pengagumanyang berlebihan terhadap teknologi dan tetap berpegang teguhpada nilai-niali keagamaan, kemumgkinan akan lebih meyakini kelebihan agama. Kedua golongan yang longgar dari nilai-nilai ajaran agama akankekosongan jiwa.
Sebagai umat beragama, khususnya umat islam dalam era globalisasi hendaknya :
1.      Menumbuhkan kesadaran tentang tujuan hidup menurut agama baik sebagai hamba Allah maupun sebagai Khalifah Allah. Tetap dalam konteks mengabdi kepada Allah dan berusaha memperoleh ridhonya dan keselamatan didunia dan diakhirat. Disini peran iman dan taqwa sangat penting hidup diera globalisasi.
2.      Menumbuhkan kesadaran dalam bertanggung jawab karena kita akan mempertanggung jawabkan apa yang diperbuat didunia, baik formalitas administrative sesuai yang ada didunia sendiri maupun hakiki menurut yang mempunyai konsekuensi akhirat kelak. Ketika kita ,menceburkan diri dalam kehidupan globalisasi maka kita juga selalu sadar akan tanggung jawab terhadap apa yang kita perbuat.[20]

                                                                                  














Daftar Pustaka

Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam, (Malang: Uin Malang Press, 2008).
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.
Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.
Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam, Malang: Uin Malang Press, 2008.
Jalaludin.Psikologi Agama. Jakarta : PT Grafindo Persada, cet. 2009.
WE Maramis.Ilmu Kedoteran Jiwa.1980 : Airlangga University Press.
Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: 2004, Raja Grafindo Persada).
Zakiah Daradjat. Ilmu Jiwa Agama. PT. Bulan Bintang : Jakarta, 1990.
Tonny D. Widiastono, Pendidikan Manusia Indonesia, (Jakarta : Kompas, 2004).
A Qodri Azizy, Melawan Globalisasi Reinterpretansi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya Masyarakat Madani), (Yogyakarta : Pustaka Pelajar.



[1].Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam, (Malang: Uin Malang Press, 2008), Hlm. 21
[2]. Ibid, Hlm 21-22.                                                                                     
[3] . Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), Hlm. 10.
[4].Ibid. Hlm. 12.
[5] . Ibid.
[6] .Ibid, Hlm. 16
[7]. Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), Hlm. 7.

[8] Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), Hlm. 8.                                                              
[9] Jalaluddin, Op. Cit,  Hlm. 17.                              
[10] Ibid.
[11] Baharuddin dan Mulyono, Op. Cit, Hlm. 46.

[12] Ibid.
[13] Jalaluddin, Op. Cit,  Hlm. 18.

[14] Jalaludin.Psikologi Agama. Jakarta : PT Grafindo Persada, cet. 2009 hlm66-69
[15] WE Maramis.Ilmu Kedoteran Jiwa.1980 : Airlangga University Press hlm 22-23

[16] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: 2004, Raja Grafindo Persada), 75

[17] Zakiah Daradjat. Ilmu Jiwa Agama. PT. Bulan Bintang : Jakarta, 1990 hlm. 93-95

[18] Tonny D. Widiastono, Pendidikan Manusia Indonesia, (Jakarta : Kompas, 2004), hal. 218
[19] A Qodri Azizy, Melawan Globalisasi Reinterpretansi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya Masyarakat Madani), (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hal. 218-221)
[20] A Qodri Azizy, Melawan Globalisasi, hal. 32-33

Tidak ada komentar:

Posting Komentar