1 definisi psikologi agama,ruang lingkup
beserta manfaatnya
PENGERTIAN
PSIKOLOGI AGAMA
Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi
dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara
umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal,
dewasa dan beradab. Sebenarnya kata psikologi secara harfiah berasal dari psyche:
jiwa dan logos: ilmu. Dalam mitologi Yunani, Psyche adalah
seorang gadis cantik bersayap seperti kupu-kupu. Di sini jiwa pun digambarkan
seperti seorang gadis cantik dan kupu-kupu sebagai simbol keabadian. Dengan
demikian psikologi dapat diartikan dengan “ilmu pengetahuan tentang jiwa” dan
dapat disingkat dengan “ilmu jiwa”[[1]]
Menurut Verbeek, psikologi adalah ilmu yang
menyelidiki penghayatan dan perbuatan manusia. Menurut Drs. Bimo Walgito,
psikologi merupakan suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari tentang
tingkah laku serta aktivitas-aktivitas,dimana tingkah laku serta aktivitas itu
sebagai manifestasi hidup kejiwaan.[[2]]Menurut
Robert H. Thouless, psikologi sekarang digunakan secara umum untuk ilmu tentang
tingkah laku dan pengalaman manusia.[[3]]
Secara umum psikologi
mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai
gambaran dari gejala-gejala keejiwaan yang berada di belakangnya. Karena jiwa
itu sendiri bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia
hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak yaitu pada sikap dan tingkah laku
yang ditampilkannya. Sikap dan perilaku yang terlihat adalah gambaran dari
gejala jiwa seseorang.[[4]]
RUANG LINGKUP PSIKOLOGI AGAMA
Sebagai
disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya
tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama
yang lainnya. Sebagai contoh, dalam tujuannya psikologi agama dan ilmu
perbandingan agama memiliki tujuan yang tak jauh berbeda, yakni mengembangkan
pemahaman terhadap agama dengan mengaplikasikan metode-metode penelitian yang
bertipe bukan agama dan bukan teologis. Bedanya adalah, bila ilmu perbandingan
agama cenderung memusatkan perhatiannya kepada agama-agama primitif dan eksotis
tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman dengan memperbandingkan satu
agama dengan agama lainnya. Sebaliknya psikologi agama, seperti pernyataan
Robert H. Thouless, memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya
suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman
terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi.[[5]]
Prof. Dr. Zakiah Daradjat menyatakan bahwa lapangan
penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran
beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari
keyakinan (terhadap suatu agama, yang dianut). Oleh karena itu, menurut Prof.
Dr. Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama
meliputi kajian mengenai:
Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran
yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan
tenteram sehabis sembahyang, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa
atau membaca ayat-ayat suci, perasaan tenang, pasrah, dan menyerah setelah
berzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang
bersangkutan, rasa gelisah yang menghantui ketika meninggalkan shalat, rasa
ketakutan setelah melakukan yang dilarang agama, rasa bersalah setelah
melakukan dosa.Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual
terhadap Tuhannya, misalnya rasa tenteram, damai, dan kelegaan batin.
Mempelajari,
meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati
(akhirat) pada tiap-tiap orang. Pengaruhnya biasanya berupa meningkatnya
ketaatan seseorang terhadap kepercayaan yang dianutnya, karena dia yakin akan
adanya kehidupan setelah kematian, kehidupan akhirat yang kekal dibandingkan
dengan kehidupan duna yang fana, serta dia yakin akan adanya hari pembalasan,
dimana berupa tempat kembali yakni neraka dan surga.
Meneliti
dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang
berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi
pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan. Dengan seseorang
yakin akan adanya surga dan neraka serta adanya dosa dan pahala, maka manusia
tersebut akan senantiasa berbuat baik dan tidak berbuat apa-apa yang dilarang
agama.Meneliti dan mempelajari
bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat ayat suci kelegaan batinnya.[[6]] Psikologi
agama tidak memasuki wilayah ajaran dan keyakinan suatu agama atau ideologi
tertentu. Hal ini mengandung makna, bahwa psikologi agama tidak berwenang untuk
mendukung, membenarkan, menolak, atau menyalahi ajaran, keyakinan, atau
ideologi tertentu.[[7]]
Untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai batas yang menjadi penelitian psikologi
agama, agaknya perlu diketahui istilah-istilah yang dipakai dalam kajianya. Dua
istilah yang lazim dipakai adalah kesadaran beragama (religious conciousnes),
dan pengalaman beragama (religious of experience).
Menurut Zakiah Darajat, kesadaran beragama (religious
conciousnes) adalah aspek mental dari aktivitas agama. Aspek ini
merupakan bagian/segi agama yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji
melalui introspeksi. Sedangkan yang dimaksud dengan pengalaman agama (religious
of experience) adalah unsur perasaan dalam kesadaran agama, yaitu
perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan dalam tindakan
(amaliyah) nyata.[[8]]
Karenanya, psikologi agama tidak mencampuri segala bentuk permasalahan yang
menyangkut pokok keyakinan suatu agama, termasuk tentang benar salahnya atau
masuk akal dan tidaknya keyakinan agama.
Tegasnya psikologi agama hanya mempelajari dan
meneliti fungsi-fungsi jiwa yang memantul dan memperlihatkan diri dalam
perilaku dalam kaitannya dengan kesadaran dan pengalaman agama manusia.
Kedalamnya juga tidak termasuk unsur-unsur keyakinan yang bersifat abstrak
(gaib) seperti tentang Tuhan, surga dan neraka, kebenaran sesuatu agama,
kebenaran kitab suci dan lainnya, yang tak mungkin teruji secara empiris.
Dengan demkian, psikologi agama menurut Prof. Dr.
Zakiah Daradjat adalah mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang
pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya.
Persoalan pokok dalam psikologi agama adalah kajian terhadap kesadaran agama
dan tingkah laku agama, kata Robert H. Thouless. Atau kajian terhadap tingkah
laku agama dan kesadaran agama.[[9]]
MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI AGAMA
Seperti diketahui bahwa psikologi agama sebagai salah
satu cabang dari psikologi juga ilmu terapan. Psikologi agama sejalan dengan
ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam memecahkan
persoalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang dianutnya.
Kemudian bagaimana rasa keagamaan itu tumbuh dan berkembang pada diri seseorang
dalam tingkat usia tertentu, ataupun bagaimana perasaan keagamaan itu dapat
mempengaruhi ketentraman batinnya, maupun berbagai konflik yang terjadi dalam
diri seseorang hingga ia menjadi lebih taat dalam menjalankan ajaran
agamanya atau meninggalkan ajaran itu sama sekali.[[10]]
Hasil kajian psikologi agama tersebut, ternyata dapat
dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan, seperti dalam bidang
pendidikan, psikoterapi, kedokteran, pengobatan alternatif misalnya ruqyah,
ekonomi/perikanan, dakwah, politik maupun mendorong program-program Pemerintah
seperti KB, transmigrasi, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya.[[11]]
Bahkan, sudah sejak lama Pemerintahan kolonial Belanda
memanfaatkan hasil kajian Psikologi Agama untuk kepentingan politik. Pendekatan
agama yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje terhadap para pemuka agama dalam
upaya mempertahankan politik penjajahan Belanda di tanah air, barangkali dapat
dijadikan salah satu contoh kegunaan Psikologi Agama. Demikian juga, dari hasil
penelitian diberbagai perusahaan yang melakukan pembinaan agama secara berkala
kepada para karyawan maupun memberikan jam-jam istirahat untuk salat, ternyata
dapat meningkatkan kejujuran, kepercayaan dan etos kerja mereka yang ada
kaitannya dengan perkembangan kesadaran agama mereka.[[12]]
Di bidang industri juga psikologi agama dapat
dimanfaatkan. Sekitar tahun 1950-an di perusahaan minyak Stanvac (Plaju dan
Sungai Gerong) diselenggarakan ceramah agama islam untuk para buruhnya. Para
penceramah adalah para pemuka agama setempat. Kegiatan berkala ini
diselenggarakan didasarkan atas asumsi bahwa ajaran amengandung nilai-nilai
moral yang dapat menyadarkan para buruh dari perbuatan yang tak terpuji dan
merugikan perusahaan. Sebaliknya dari hasil kegiatan tersebut dievaluasi, dan
ternyata pengaruh ini dapat mengurangi kebocoran seperti pencurian, manipulasi
maupun penjualan barang-barang perusahaan yang sebelumnya sukar dilacak.[13]
2 a. teori tentang pertumbuhan jiwa keagamaan
berdasarkan psikologi agama?
- Teori psikologi agama
1. Teori Monistik : (Mono=Satu)
1. Teori Monistik : (Mono=Satu)
Teori monistik berpendapat,
bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu adalah satu sumber kejiwaan.
Selanjutnya sumber tunggal manakah yang dimaksud yang paling dominan sebagai
sumber kejiwaan itu timbul beberapa pendapat, yaitu yang dikemukakan oleh :
a. Thomas Van Aquino
Sesuai dengan masanya Thomas Aquino mengemukakan, bahwa yang menjadi sumber
kejiwaan agama itu, ialah berpikir. Manusia ber-Tuhan karena manusia
menggunakan kemampuan berpikirnya. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari
kehidupan berpikir manusi itu sendiri. Pandangan semacam ini masih tetap
mendapat tempatnya hingga sekarang di mana para ahli mendewakan rasio sebagai
satu-satunya motif yang menjadi sumber agama.
b. Fredrick Hegel
Hampir sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh Thomas Van Aquino, maka
filosof Jerman ini berpendapatk agama adalah suatu pengetahuan yang
sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi.
2. Teori Fakulti (Faculty Theory)
2. Teori Fakulti (Faculty Theory)
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak bersumber pada suatu
faktor yang tunggal tetapi terdiri atas
beberapa unsure, antara lain yang dianggap memegang peranan penting adalah :
fungsi cipta (reason), rasa (emotion) dan karsa (will).
Demikian pula perbuatan manusia yang bersifat keagamaan dipengaruhi dan
ditentukan oleh tiga fungsi tersebut :
1. Cipta (reason) berperanan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran
suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
2. Rasa(emotion) menimbulkansikap batin yang seimbang dan positif dalam
menghayati kebenaran ajaran agama.
3. Karsa (will) menimbulkan amalan-amalan atau doktrin keagamaan yang benar
dan logis.
(Jalaludin.1998.Psikologi
Agama.Jakarta:Grafindo Persada)
b.
fase -fase tentang perkembangan agama pada anak atau sifat sifat keagamanya
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa
beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian;
1)
Tingkat Dongeng (The Fairly Tale Stage)
Pada tahap ini anak yang berumur 3-6 tahun konsep
mengenal Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi sehingga dalam
menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fantastik, yang diliputi oleh
dongeng-dongeng. Menurut hasil penelitian Dr. Hanni mengindikasikan bahwa
kemampuan berfikir tentang konsep agama pada anak sangat sedikit, kalau tidak
dikatakan tidak ada artinya dan itu hanyalah permainan bebas dari fantasi dan
emosinya. Hal ini menjadi wajar, karena konsep agama biasanya cukup rumit dan
mengatasi daya tangkap intelektual anak, sehingga terjadi penerimaan atau
penolakan itu merupakan hal yang wajar. Dan itu terjadi tentunya bukan
pemahaman secara intelektual melainkan pada alasan lain.
Pada
usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada pemuka agama daripada isi
ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak
karena sesuai dengan jiwa kanak-kanaknya.
2)
Tingkat Kepercayaan (The Realistic Stage)
Pada fase ini ide-ide tentang Tuhan muncul dan telah
tercermin dalam konsep yang realistik, dan biasanya muncul dari lembaga agama
atau pengajaran orang dewasa. Ide keagamaan muncul dari anak didasarkan atas
emosional, sehingga melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Tahap ini dimulai
sejak usia masuk sekolah 7 tahun. Yang perlu dicatat pada tahap ini adalah
bahwa pada tahap usia tujuh tahun dipandang sebagai permulaan perturnbuhan
logis, sehingga wajar ketika Rosulullah mernerintahkan untuk menyuruh anak-anak
umatnya untuk melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun dan memberi sanksi
berupa pukulan apabila melanggarnya.
3)
Tingkat Individu ( The Individual Stage )
Sebagai
makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia
sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada Sang
Pencipta. Dalam terminologi islam, dorongan ini dikenal dengan hidayat
al-diniyyat, berupa benih-benih keberagamaan yang dianugerahkan Tuhan kepada
manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia pada hakikatnya adalah
makhluk beragama. Namun keberagamaan tersebut memerlukan bimbingan agar dapat
tumbuh dan berkembang secara benar. [14]
Pada tingkat ini, anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan
dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistik ini
terbagi menjadi tiga golongan:
- Konsep ketuhanan yang konvensioal adan
konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi
- Konsep ketuhanan yang lebih murni,
dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal
- Konsep ketuhanan yang humanistik
yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati
ajaran agama.
Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase
pertumbuhan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:
- Fase dalam kandungan
Untuk memahami pertumbuhan agama pada masa ini
sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian
perlu dicatat bahwa pertumbuhan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada
bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.
- Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui
pertumbuhan agama pada seorang anak.Namun isyarat pengenalan ajaran agama
banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat
kelahiran anak.
- Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk
menanamkan nilai keagamaan.Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia
luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang
disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan-
ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa
kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman
dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam
memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama
sekalipun sifatnya hanya meniru.
- Masa anak sekolah
Seiring dengan pertumbuhan aspek- aspek jiwa lainnya,
pertumbuhan agama juga menunjukkan pertumbuhan yang semakin realistis.Hal ini
berkaitan dengan pertumbuhan intelektualitasnya yang semakin berkembang.[15]
c.
faktor –faktor yang mempengaruhi jiwa keagamaan dijiwa remaja
Perkembangan rasa keagamaan pada masa remaja sangat
dipengaruhi oleh tumbuhnya hati nurani keagamaan, baik kualitasnya pada akhir
usia anak maupun perkembangan pada usia remaja. Hati nurani yang sudah tumbuh
kuat pada akhir masa anak-anak akan akan memudahkan perkembangan rasa keagamaan
pada masa remaja.
Faktor
consience atau hati nurani ini mempunyai padanan kata superego, inner light dan
inner policemen. Pada masa remaja, anak masuk ke dalam tahap pendewasaan,
dimana hati nurani (conscience) sudah mulai berkembang melalui pengembangan dan
pengayaan pada usia anak melalui proses sosialisasi. Proses sosialisasi nilai
tersebut terlaksana melalui proses identifikasi anak terhadap perilaku orang
tuanya dan juga orang orang di sekelilingnya yang memiliki kesan dominan secara
kejiwaan, sehingga terjadi proses imitasi sikap dan perilaku. Kekuatan dari
kata hati sebagiannya justru terletak pada ketidak mengertian anak, karena
dengan begitu konsep nilai yang masuk dalam diri anak terbentuk melalui proses
tanpa tanya, begitu saja terserap tanpa adanya reaksi dari dalam.
Proses kerja hati nurani dibantu oleh gejala jiwa yang
lain yang disebut rasa bersalah (guilt) dan rasa malu (shame), yang akan muncul
setiap kali ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya.
Clark menyatakan bahwa kapasitas untuk memiliki kata hati adalah merupakan
potensi bawaan bagi setiap manusia, tetapi substansi dari kata hati merupakan
hasil dari proses belajar.
Rasa
bersalah (guilt) adalah perasaan yang tumbuh jika dirinya tidak melakukan
sesuatu sesuai dengan hati nuraninya. Beriringan dengan itu kemudian muncul
rasa rasa malu (shame), yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap
perkiraan penilaian negatif dari orang lain terhadap dirinya. Kata hati, rasa
bersalah dan rasa malu dalam perkembangan religiousitas adalah mekanisme jiwa
yang terbentuk melalui proses internalisasi nilai nilai keagamaan pada usia
anak, yang akan berfungsi sebagai pengontrol perilaku pada usia remaja.
Hati
nurani mulai mengambil peran pada masa remaja yang juga membantu dalm proses
pemilikan pandangan hidup yang akan menjadi dasar dasar pegangan hidupnya dalam
bermasyarakat.
Menurut W. Stabuck, pertumbuhan dan perkembangan agama
dan tindak lanjut keagamaan remaja sangat berkaitan dengan:
1)
Pertumbuhan dan Pikiran Mental
Pertumbuhan kognitif memberi kemungkinan terjadi
perpindahan/transisi dari agama yang lahiriyah menuju agma yang batiniah.
Perkembangan kognitif memberi kemungkinan remaja untuk meninggalkan agama
anak-anak yang diperoleh dari lingkungan dan mulai memikirkan konsep serta
bergerak menuju agama “iman” yang sifatnya sungguh-sungguh personal.
2)
Perasaaan Beragama
Masa remaja adalah masa bergejolaknya bermacam-macam
perasaan yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Kondisi ini
menyebabkan terjadinya perubahan emosi yang begitu cepat dalam diri remaja.
Ketidakstabilan perasaan remaja kepada Tuhan/Agama. Perasaan remaja pada agama
adalah ambivalensi. Kadang-kadang sangat cinta dan percaya pada Tuhan, tetapi
sering pula berubah menjadi acuh tak acuh dan menentang.
3)
Pertimbangan Sosial
Dalam kehidupan keagamaan, remaja cenderung dihadapkan
pada konflik antara pertimbangan moral dan materil. Terhadap konflik ini remaja
cenderung bingung untuk menentukan pilihan. Kondisi ini menyebabkan remaja
menjadi cenderung pada pertimbangan lingkungan sosialnya.[16]
4)
Perkembangan Moral
Pertumbuhan dan perkembangan moral terjadi melalui
pengalaman-pengalaman dan pembiasaan yang ditanamkan sejak kecil oleh orang
tua. Perkembangannya baru dapat dikatakan mencapai kematangan pada usia remaja.
d.
sifat-sifat keagamanya
- Percaya ikut-ikutan
Percaya ikut-ikutan ini dihasilkan oleh didikan agama
yang didapat dari keluarga ataupun dari lingkungannya. Melaksanakan ibadah dan
ajaran agama sekedar mengikuti suasana lingkungan dimana dia hidup. Cara
beragama seperti ini merupakan lanjutan dari cara beragama di masa kanak-kanak,
seolah-olah tidak terjadi perubahan apa-apa pada pikiran mereka terhadap agama.
Akan tetapi, jika diteliti masing-masing remaja akan akan diketahui bahwa
didalam hati mereka terdapat pertanyaan-pertanyaan yang tersembunyi, hanya saja
usaha untuk mencari jawaban tidak menjadi perhatiannya. Percaya ikut-ikutan ini
biasanya tidak berlangsung lama, dan banyak terjadi pada masa-masa remaja
pertama usia 13-16 tahun. Sesudah itu biasanya berkembang secara kritis dan
lebih sadar.[17]
- Percaya dengan kesadaran
Kesadaran agama atau semangat agama pada masa remaja,
mulai dengan meninjau dan meneliti kembali cara beragama pada waktu masa kecil.
Mereka ingin menjadikan agama, sebagai suatu lapangan baru untuk membuktikan
pribadinya, dan tidak mau lagi beragama sekedar ikut-ikutan saja. Semangat
agama tersebut tidak terjadi sebelum umur 17 atau 18 tahun, semangat agama
mempunyai dua bentuk yaitu :
a)
Semangat positif. Semangat agama yang positif adalah
semangat agama yang berusaha melihat agama dengan pandangan yang kritis, tidak
lagi mau menerima hal-hal yang bercampur dengan bid’ah dan khurafat dari agama.
Dan menghindari gambaran sensusal terhadap beberapa obyek agama, seperti
gambaran surga, neraka, malaikat dan syetan tidak lagi dibayangkan, akan tetapi
memikirkan secara abstrak. Maka sikap remaja yang bersemangat positif ialah
sikap yang ingin membersihkan agama dari segala macam hal yang mengurangkan
kemurnian agama.
b)
Semangat Negative/Khurafi. Agama dan keyakinannya
biasanya lebih cenderung kepada mengambil unsur-unsur luar yang bercampur ke
dalam agama misalnya khurafat, bid’ah dan kepercayaan lainnya.
- Kebimbangan beragama
Kebimbangan remaja terhadap agama itu tidak sama,
berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kepribadiannya
masing-masing. Ada yang mengalami kebimbangan ringan yang cepat bisa diatasi
dan ada yang sangat berat sampai kepada berubah agama. Kebimbangan tergantung
pada dua faktor;
a)
Kebimbangan dan keingkaran kepada Tuhan merupakan
pantulan keadaan masyarakat yang dipenuhi oleh penderitaan, kemerosotan moral,
kekacauan dan kebingungan.
b)
Pantulan dari kebebasan berfikir yang menyebabkab
agama menjadi sasaran dan arus sekularisme.
Faktor
penyelamat untuk menghindarkan remaja dari kesesatan adalah
a)
Hubungan kasih sayang antara remaja dengan orang tua
b)
Ketekunan menjalankan syariat agama, terutama dalam
kelompok beragama. Adanya jamaah yang tekun beragama, akan membuatnya terikat
oleh tata tertib dalam bergama.
c)
Berusaha mempertahankan kepercayaannya terhadap Tuhan.
- Tidak percaya (cenderung Atheis)
Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada
akhir masa remaja adalah mengingkari adanya wujud Tuhan sama sekali dan
mengganti dengan keyakinan lain.
Perkembangan
remaja ke arah tidak mempercayai adanya Tuhan, sebenarnya mempunyai akar atau
sumber dari kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau
kezaliman orang tua kepadanya, maka ia telah memendam sesuatu tantangan
terhadap kekuasaan orang tua, dan kekuasaan terhadap siapapun, termasuk
kekuasaan Tuhan.
3 a. latar belakang sikap keagamaan diusia
serta sikap –sikap keagamanya
Dengan berahkirnya masa remaja. Maka berahkir
pulalah kegoncangan kegoncangan jiwa yang menyertai pertumbuhan remaja itu.
Yang berarti bahwa orang yang telah melewati usia remaja. Mempunyai ketetraman
jiwa. Ketetapan hati dan kepercayaan yang tegas. Baik didalam bentuk
positif,maupun negatif. Kendatipun demikian,dalam kenyataan hidup
sehari-hari,masih banyak orang yang merasakan kegoncangan jiwa padausia dewasa.
Bahkan perubahan-perubahan kepercayaan dan keyakinaan kadang-kadang masih
terjadi saja. Keadaan dan kejadian-kejadian itu sangat menarik perhatian ahli
agama,sehingga mereka berusaha terus-menerus mengajak orang untuk beriman
kepada allah dan berusaha memberikan pengertian-pengertian tentang agama.
b.
latar belakang sikap keagamaan diusia lanjut
menganalis hasil penelitian M.Arglye dan Elie
A Coben,Robert H Thoules cenderung kebanyakan bahwa yang menentukan berbagai
sikap keberagamaan diumur tua adalah dipermulisasi. Kecendrung hilangnya
identifikasi diri dengan tubuh dan juga secepatnya dan datang kematian
merupakan salah satu faktor yang
menentukan sikap keagamaan. Dalam buku psikologi agama jalahuddin menuliskan
beberapa ciri-ciri keagamaan manusia pada usia lanjut secara garis besarnya
adalah:
1.
Kehidupaan keberagamaan pada usia lanjut sudah
mencapai tingkat kemanapun
2.
Meningkatkan mulai
munculnya pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan ahkirat secara
lebih sungguh-sungguh
c.
perlakuaan terhadap diusia lanjut menurut islam
menerima kebenaraan agama berdasarkan
pertimbangan peikiran yang memang bukan sekedar berikut-ikutan
1.
Cenderung bersifat reatis sehingga norma norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap
dan tingkah laku
2.
Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma
agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam perubahan keagamaan
3.
Tingkat dalam beragama didasarkan atas
pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap berkeagamaan merupakan
mealisasi dari sikap hidup
4.
Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas
5.
Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama
sehingga kemanapun beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran juga
didasarkan atas pertimbangan hati murni. Sikap keberagaaman cenderung mengarah
pada tipe-tipe kepribadaian dalam menerima,memahami serta melaksanakan ajaran
agama yang diyakininya.
6.
Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan
dengan kehidupan sosial,sehingga perhatian terhadao kepentingaan organisasi
sosial keagamaan sudah berkembang
4 a.
Hubungan kebudayaan dan tradisi
Tradisi keagamaan termasuk kedalam pranat
primer.hal ini dikarenakan antara lain menurut rodaslav A.tsanoff,pranata
keagamaan ini mengandung unsur-unsur yang berkaitan dengan ke Tuhanaan atau
keyakinaan,tindak keagamaan,perasaa-perasaan yang bersifat mistik,penyembah kepada yang suci
(ibadah),dan keyakinaan terhadap nilai 0nilai yang haqiqi. Dengan demikian
tradisi keagamaan sulit berubah,karena selain didukung oleh masyarakat juga
memuat sejumlah unsur-unsur yang memiliki nilai-nilai luhur yang berkaitan
dengan keyakinaan masyrakat . tradisi keagamaan mengandung nilai-nilai yang
sangat penting (privotal values) yang berkaitan erat agama yang dianut
masyrakat dengan tegas mendasarkan kebudayan mendasarkan pada nilai-nilai dan normal islam
b.
hubungan sikap keagamaan dan tradisi keagamaan
tradisi keagamaan pada dasarnya merupakan
pranata keagamaan yang sudah dianggap baku oleh masyrakat pendukungnya. Dengan
demikian,tradisi keagamaan sudah merupakan kerangka acuan norma dalam kehidupan
dan perilaku masyrakat. Dan tradisi keagamaan sebagai pranata primer dan
kebudayaan memang sulit untuk berubah,karena keberadaanya didukung oleh
kesadaraan bahwa pranat tersebut menyangkut kehormataan,harga diri,dan jati
diri masyarakat pendukungnya.
Para ahli antropologi membagi kebudayaan dalam
bentuk dan isi. Menurut bentuknya kebudayaan terdiri dari tiga,yaitu
(koentajaraningrat,1986 : 80-90):
1.
Sistem kebudayaan (cultur system)
Sistem kebudayaan berwujud gagasan,pikiran ,konsep,nilai-nilai budaya
,norma-norma,pandangan-pandangan yang bentuknya abstrak serta dalam berada
pikiran para pemaku kebudayaan yang bersangkutaan.
2.
Sistem sosial (sosial system ) sistem sosial
berwujud tingkah laku terpada perilaku,upacara-upacara serta ritus-ritus yang
wujudnya lebih konkreet. Sistem sosial adalah bentuk kebudayaan dalam wujud
yang lebih konkret dan dapat diamati
3.
Benda-benda budaya (material culture)
Benda-benda budaya disebut juga sebagai kebudayaan fisik atau kebudayaan
material benda budaya merupakan hasil tingkah laku dan karya pemanku kebudayaan
yang bersangkutaan.
Isi kebudayaan menurut koetajaningrat terdiri atas tujuh
unsur,yaitu:bahasa,system teknologi ,system ekonomi,organisasi sosial,system
pengetahuan,religi dankeseniaan. Dengan demikian,dilihat dari bentuk dan
isi,kebudayaan dasarnyamerupakan suatu tatanan yang mengatur kehidupan suatu
masyrakat disebutcultural system. Pada terhadap pertama terjadi proses transfer
nilai-nilai dan norma-norma agama yang dari pemimpin agama kepada masyarakat.
Transfer ini adalah dalam psikologi pemikiran disebut aspek kognitif (yang
menyangkut pengetahuan agama)
Lingkungan
yang bersumber dari ajaran agama ini kemudian mempengaruhi sikap keberagamaan
masyrakat indonesia hingga sekarang. Pada wilayah-wilayah tertentu sikap
keberagamaan ini dipengaruhi oleh agama Hindu. Pada wilayah lain oleh
Kristenndan wilayah selanhutnya oleh Islam. Di sini terlihat bagaimana tradisi
keagamaan yang telah bertanggung sejak empat belas abad lalu masih ikut
mempengaruhi sikap keagaaman masyrakat.
c.
pengaruh eraglobalisasi terhadap perkembangan jiwa keagamaan
1. Pengertian
globalisasi
Makna globalisasi
menurut Anthoy Giddens dijelaskan sebagai intensifikasi relasi social diseluruh
dunia yang menghubungkan lokalitas yang berjauhan sehingga kejadian local
dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dibelahan dunia lain.[[18]]
Menutur Akbar S. Ahmad
dan Hasting Donnan makna globalisasi diberi batasan yaitu pada prinsipnya
mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat dalam teknologi komunikasi,
transformasi, informasiyang bias membawa bagian-bagian dunia yang jauh (menjadi
hal-hal) bias dijangkau dengan mudah.[[19]]
Istilah globalisasi sering digunakan
untuk mengembangkan penyabaran dan keterkaitan produksi, komunikasi dan
teknologi seluruh dunia.
2. Kebudayaan
dan era globalisasi dan pengaruhnya terhadap jiwa keagamaan
Secara fenomena
kebudayaan daam era globalisasi mengaruh
kepada nila-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa
keagamaan, khususnya dikalangan generasi muda. Meskipun dalam sisi tertentu
kehidupan tradisi keagamaan tampak manimgkat dalam kesemarakannyanamun dalam kehidupam
masyarakat global yang cenderung sekuler barang kali akan ada pengaruhnya
terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan para generasi muda. Paling tidak terdapat
kecenderungan yang tampak. Pertama muncul sikap toleransi yang tinggi terhadap
perbedaan agama, dikalangan kelompok moderat. Kedua munculnya sikap fanatic
keagamaan yang muncul pada kelpmpok fundamental.
Kedua kecenderungan
tersebut menurut pendekatan psikologis berisi ciri-ciri kepribadian yang
ditamplkan kelompok introvert lebih tertutup terhadap perubahan yang terjadi,
sedankan ekstrovert lebih bersikap terbuka dan mudah menerima. Tetapi yang
jelas era globlisasi dipandang dari sudut teknologi adalah era modernisasi
puncak bagi peradaban manusia.
Era globalisasi
memberiakanperubahan besar pada tatanan duniasecara menyeluruh dan perubahan
itu dihadapi bersama sebagai suatu perubahan yangwajar. Sebab mau tidak mau
siap tidak siap perubahan diperkirakan bakalterjadi. Dikala manusia dihadapkan
pada malapetaka sebagai dampak perkembangan dankemajuan modernisasi dan
perkembangan teknologi itu sendiri.
Dalam kondisi seperti
itu barabgkali manusia mengalami konflik batin secara besar-esaran. Konflik
tersebut sebagai dampak ketidak simbanganrohani. Kegoncangan batin ini
barabgkaliakan mempengaruhi kehidupanpsikologi manusia. Pada kondisi ini
manusia akan mencari ketentraman batin antara lain agama.
Sementara itu
nilsi-nilsi tradisional mengalami penerusan mulai kehilangan pegangan hidup
yang bersumber dari tradisi masyarakat, termasuk kedalam sistem nilai yang bersumber dari ajaran islam.
Dipihak lain manusia juga dihadapkan pada upaya untuk mempertahankan system
nilaiyang mereka anut sementara itu era global menawarkan alternatif baru
(kekaguman dari hasil rekayasa iptek) yang menawarkan kenikmatan duniawi.hal ini
menimbulkankeraguan dan kecemasan manusia. Adapun kemungkinan yang terjadi pada
manusia adalah : pertama mereka yang tidakikut larut alam pengagumanyang
berlebihan terhadap teknologi dan tetap berpegang teguhpada nilai-niali
keagamaan, kemumgkinan akan lebih meyakini kelebihan agama. Kedua golongan yang
longgar dari nilai-nilai ajaran agama akankekosongan jiwa.
Sebagai umat beragama,
khususnya umat islam dalam era globalisasi hendaknya :
1. Menumbuhkan
kesadaran tentang tujuan hidup menurut agama baik sebagai hamba Allah maupun
sebagai Khalifah Allah. Tetap dalam konteks mengabdi kepada Allah dan berusaha
memperoleh ridhonya dan keselamatan didunia dan diakhirat. Disini peran iman
dan taqwa sangat penting hidup diera globalisasi.
2. Menumbuhkan
kesadaran dalam bertanggung jawab karena kita akan mempertanggung jawabkan apa
yang diperbuat didunia, baik formalitas administrative sesuai yang ada didunia
sendiri maupun hakiki menurut yang mempunyai konsekuensi akhirat kelak. Ketika
kita ,menceburkan diri dalam kehidupan globalisasi maka kita juga selalu sadar
akan tanggung jawab terhadap apa yang kita perbuat.[20]
Daftar Pustaka
Baharuddin dan
Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam, (Malang: Uin
Malang Press, 2008).
Jalaluddin, Psikologi
Agama, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.
Ramayulis, Psikologi
Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.
Ramayulis, Psikologi
Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Perspektif Islam,
Malang: Uin Malang Press, 2008.
Jalaludin.Psikologi
Agama. Jakarta : PT Grafindo Persada, cet. 2009.
WE Maramis.Ilmu
Kedoteran Jiwa.1980 : Airlangga University Press.
Jalaluddin,
Psikologi Agama, (Jakarta: 2004, Raja Grafindo Persada).
Zakiah
Daradjat. Ilmu Jiwa Agama. PT. Bulan Bintang : Jakarta, 1990.
Tonny D. Widiastono, Pendidikan Manusia Indonesia, (Jakarta :
Kompas, 2004).
A Qodri Azizy, Melawan Globalisasi Reinterpretansi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang
Terciptanya Masyarakat Madani), (Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
[1].Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam
Perspektif Islam, (Malang: Uin Malang Press, 2008), Hlm. 21
[2]. Ibid, Hlm 21-22.
[14] Jalaludin.Psikologi Agama. Jakarta : PT Grafindo Persada, cet. 2009
hlm66-69
[18] Tonny D. Widiastono, Pendidikan
Manusia Indonesia, (Jakarta : Kompas, 2004), hal. 218
[19] A Qodri Azizy, Melawan
Globalisasi Reinterpretansi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya
Masyarakat Madani), (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hal. 218-221)
[20] A Qodri Azizy, Melawan
Globalisasi, hal. 32-33
Tidak ada komentar:
Posting Komentar