Selasa, 28 November 2017

MAKALAH PENGATAR ILMU PEDIDIKAN "“Landasan dan Asas Pendidikan”"


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar belakang
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah landasan dan asas-asas tertentu.Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu.
Beberapa diantara landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofi, sosiologis, dan  kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan itu menjemput masa depan. Kajian berbagai landasan landasan pendidikan itu akan membentuk wawasan yang tepat tentang pendidikan, serta dengan menerapkan asas-asas pendidikan yang tepat pula, akan dapat  memberi peluang yang lebih besar dalam merancang dan menyelenggarakan program pendidikan yang tepat wawasan.
Makalah ini akan memusatkan paparan dalam berbagai landasan dan asas pendidikan, serta beberapa hal yang berkaitan dengan penerapannya. Landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, cultural, psikologis, dan iptek. Sedangkan asas-asas pendidikan yang akan dikaji adalah Asas tut wuri handayani, asas belajar sepanjang hidup, dan asas kemandirian dalam belajar.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja landasan – landasan dalam pendidikan?                                                                              
2.      Apa saja asas – asas dalam pendidikan?                                                                                                           
3.      Apa hubungan pendidikan dengan kehidupan bermasyarakat,bangsa dan negara?

C.    Tujuan
Mengetahui landasan – landasan dalam pendidikan.                                                          
            Mengetahui asas – asas dalam pendidikan.
            Mengetahui hubungan pendidikan dengan kehidupan masyarakat, bangsa,dan negara.
BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian landasan pendidikan
Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar  atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak  atau dasar pijakan ini dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan). Landasan yang bersifat koseptual identik dengan asumsi,  adapun asumsi dapat dibedakan menjadi tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi.
Berikut macam – macam landasan dalam pendidikan yaitu :
1.      Landasan Filosofis
merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan.Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat (falsafat, falsafah). Kata filsafat (philosophy) bersumber dari bahasaYunani, philein berarti mencintai, dan sophos atau sophis berarti hikmah, arif, atau bijaksana.Filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan konseptual yang menghasilkan konsepsi-kosnsepsi mengenai kehidupan dan dunia. Peranan filsafat dalam bidang pendidikan tersebut berkaitan dengan hasil kajian antara lain tentang:
1.    Keberadaan dan kedudukan manusia sebagai mahluk didunia ini, seperti yang disimpulkan sebagai zoon politicon, homo sapiens, animal educandum, dan sebagainya.
2.    Masyarakat dan kebudayaannya.
3.    Keterbatasan manusia sebagai mahluk hidup yang banyak menghadapi tantangan dan Perlunya landasan pemikiran dalam pekerjaan pendidikan, utamanya filsafat pendidikan.
2.      Landasan psikologi
Psikologi telah menyediakan sejumlah informasi tentang pribadi manusia pada umumnya. Serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi.Setiap individu memiliki bakat, kemampuan, minat, kekuatan, demikian pula tempo dan irama perkembangan yang berbeda antara seorang dengan yang lainnya. Individu yang satu dengan yang lainnya, perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan berbagai aspek kejiwaan antara individu itu sendiri, baik yang berhubungan dengan bakat, intelek, maupun perbedaan pengalaman dan tingkat perkembangan serta cita-cita, aspirasi dan kepribadian secara keseluruhan.[1]
Manusia dilahirkan dengan memiliki sejumlah potensi dan kemampuan yang harusa dikembangkan, kebutuhan yang harus dipenuhi sesuai dengan kemampuan mereka menerimanya. Secara umum manusia membutuhkan berbagai macam kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan psikologis
2. Kebutuhan rasa aman
3. Kebutuhan akan cinta dan pengakuan
4. Kebutuhan harga diri
5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri
6. Kebutuhan untuk mengetahui dan memahami  
Alexander mengemukakan ada tiga faktor utama yang bekerja dalam menentukan pola kepribadian, yaitu:
1. Bakat/hereditas individu
2. Pengalaman awal di keluarga
3. Peristiwa penting dalam hidupnya diluar lingkungan keluarga.[2]
4.      Landasan Ilmiah
Teknologi pendidikan merupakan cabang ilmu yang memiliki obyek forma
“belajar” manusia baik secara pribadi maupun secara kelompok yang memiliki pola pendekatan diantaranya sebagai berikut :
1. Isomeristik
      yaitu pendekatan yang menggabungkan berbagai unsure yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang lebih bermakna
2.    Sistematik
                        yaitu dilakukan secara teratur dan menggunakan pola tertentu dan runtut.
3.    Sistemik
Dilakukan secara menyeluruh, holistic atau komprehensif.
Landasan ilmiah yang menunjang keberadaan teknologi pendidikan beserta bidang penelitiannya ada beberapa paham seperti berikut ini.
1. A.A Lumsidaine (1964): teknologi pendidikan merupakan aplikasi dari ilmu dan saint dasar, yaitu: a. ilmu fisika b. rekayasa mekanik, optic, electro dan elektronik c. teknologi komunikasi & telekomunikasi d. ilmu perilaku e. ilmu komunikasi f. ilmu ekonomi
2. Robert Morgan (1978) berpendapat ada 3 disiplin utama yang menjadi fondasi teknologi pendidikan a. ilmu perilaku b. ilmu komunikasi c. ilmu manajemen
3. Donald P. Eli (1983) teknologi pendidikan meramu sejumlah disiplin dasar dan bidang terapannya menjadi suatu prinsip, prosedurdan keterampilan. Disiplin yang memberikan kontribusi adalah : a. basic contributing discipline: komunikasi, psikologi, evaluasi dan menajemen b. related contributing field : psikolodi persepsi, prikologi kognisi, psikologi social, media, system dan penilaian kebutuhan.
4. Barbara B. Seels & Rita C. Richey (1994): akar intelektual teknologi pembelajaran berasal dari disiplin lain meliputi: a. psikologi b. rekayasa c. komunikasi d. ilmu computer.
 4. Landasan Religius
Pendidikan adalah suatu usaha disengaja yang diperuntukan dalam upaya untuk mengantarkan peserta didik menuju pada tingkat kematangan atau kedewasaan, baik moral maupun intelektual. Pendidikan tidak semata-mata hanya berorientasi pada cita-cita intelektual saja. Namun tidak melupakan nilai-nilai ketuhanan, individual dan social. Artinya, proses pendidikan disamping akan menuntuk dan memancing potensi intelektual seseorang, juga menghidupkan dan mempertahankan unsur manusiawi dalam dirinya dengan landasan iman dan takwa.                                                                                   Oleh karena itu, A. Tafsir (2008: 11-12), menjelaskan bahwa pendidikan agama itu tidak akan berhasil bila hanya diserahkan kepada guru agama. Dia mengatakan pendidikan keimanan dan ketakwaan, inti dari pendidikan agama, itu adalah tugas bersama antara guru, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Dalam arti bahwa perlu adanya keterpaduan, baik keterpaduan tujuan, materi, proses, dan lembaga. Dengan adanya undang-undang dan fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan, menjadikan agama sebagai suatu yang wajib untuk dijadikan landasan dalam proses pendidikan, baik di tingkat dasr maupun menengah, dan bahkan sampai ke perguruan tinggi.
5.         Landasan yudiris
Merupakan sistem pendidikan nasional indonesia adalah seperangkat konsep peraturan perundang – undangan indonesia yang menjadi titik tolak sistem pendidikan nasional indonesia.
Latarbelakang perlunya UU No 2 Th 1989
a.       UUD 1945 mengamalkan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur oleh undang – undang.
b.      Pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur, serta memungkinkan para warganya mengembangankan diri baik berkenaan dengan aspek jasmani maupun rohani berdasarkan pancasila dan UUD 1945.[3]
2 . Pengertian asas – asas pendidikan
      Asas-asas pendidikan merupakan suatu kebenaran menjadi dasar atau tumpukan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan.Salah satu dasar utama pendidikan adalah bahwa manusia itu dapat dididik dan dapat mendidik diri sendiri. Berikut macam – macam asas – asas pendidikan yaitu :

1.    Asas Tut Wuri Handayani
Pertama kali dicetuskan oleh tokoh sentral pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro, pada media 1922, semboyan Tut Wuri Handayani merupakan satu dari tujuh asas Perguruan Nasional Taman Siswa. Dalam asas Perguruan Nasional Taman Siswa, semboyan Tut Wuri Handayani termaktub dalam butir pertama yang berbunyi, “Setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam peri kehidupan.”
Dari kutipan tersebut kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwasanya tujuan dari pembelajaran ala Taman Siswa dan pendidikan di Indonesia pada umumnya adalah menciptakan “kehidupan yang tertib dan damai  (Tata dan Tenteram, Orde on Vrede)” (Tirharahardja, 1994: 119). Dalam perkembangan selanjutnya, Perguruan Taman Siswa menggunakan asas tersebut untuk melegitimasi tekad mereka untuk mengubah sistem pendidikan model lama yang cenderung bersifat paksaan, perintah, dan hukuman dengan “Sistem Among” khas ala Perguruan Taman Siswa. Sistem Among berkeyakinan bahwa guru adalah “pamong.” Sesuai dengan semboyan Tut Wuri Handayani di atas, maka pamong atau guru di sini lebih cenderung menjadi navigator peserta didik yang “diberi kesempatan untuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri, diperintah atau dipaksa” (Tirtarahardja, 1994: 120).
Jika menilik Sistem Pendidikan Nasional Indonesia, seperti apa yang tercantum dalam Undang-undang Nomer 23 Tahun 2003, maka konsep Tut Wuri Handayani termanifestasi ke dalam sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Peran guru dalam sistem KTSP lebih cenderung sebagai pemberi dorongan karena adanya pergeseran paradigma pengajaran dan pembelajaran, dari “teacher oriented” kepada “student oriented.
Dalam KTSP, guru bukan lagi sekedar penceramah”melainkan pemberi dorongan, pengawas, dan pengarah kinerja para peserta didik. Dengan sistem kurikulum yang terbaru ini, para pendidik (guru) diharapkan mampu melejitkan semangat atau motivasi peserta didiknya. Hal ini lantaran proses pengajaran dan pembelajaran hanya akan berjalan lancar, efektif dan efisien manakala ada positif tentang bagaimana mereka akan mengatasi kegelisahan dan kekacauan dalam kehidupan sehari-hari (Johnson, 2009: 179). Dengan kata lain, proses belajar mandiri atau Asas Kemandirian dalam Belajar akan mampu menggiring manusia untuk tetap “Belajar sepanjang Hayatnya.”

2.      Asas Belajar sepanjang Hayat
Mungkin inilah agenda besar pendidikan di Indonesia, yakni manusia Indonesia yang belajar sepanjang hayat. Konsep belajar sepanjang hayat sendiri telah didefinisikan dengan sangat baik oleh UNESCO Institute for Education, lembaga di bawah naungan PBB yang terkonsentrasi dengan urusan pendidikan.
Menurut Cropley (1970: 2-3, Sulo Lipu La Sulo, 1990: 25-26, dalam Tirtarahardja, 1994: 121), belajar sepanjang hayat merupakan pendidikan yang harus meliputi seluruh hidup setiap individu mengarah kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis
     tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri setiap indiviu mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi. Jika diterapkan dalam sistem pendidikan yang berlaku saat ini, maka pendekatan yang sangat mungkin digunakan untuk mencapai tujuan ini adalah melalui pendekatan “Pembalajaran dan Pengajaran Kontekstual.” Sedang dalam konteks pendidikan di Indonesia, konsep “Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual” sedikit banyak telah termanifestasi ke dalam sistem Kurikulim Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Selain KTSP yang notabene merupakan bagian dari pendidikan formal, maka Asas Belajar sepanjang Hayat juga termanifestasi dalam program pendidikan non-formal, seperti program pemberantasa buta aksara untuk warga Indonesia yang telah berusia lanjut, dan juga program pendidikan informal, seperti hubungan sosial dalam masyarakat dan keluarga tentunya.
3.    Asas Kemandirian dalam Belajar
Asas belajar sepanjang hayat hanya dapat diwujudkan apa bila didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik mau dan mampu mandiri dalam belajar, karena adalah tidak mungkin seseorang belajar sepanjang hayatnya apabila selalu tergantung dari bantuan guru ataupun orang lain.Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan mampu menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator, disamping peran-peran lain: informator, organisator dan sebagainya.
Sebagai fasilitator guru diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar sedemikian sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut.Sedangkan sebagai motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar itu.


3.      Hubungan pendidikan dengan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara
1.      Pembangunan Nasional
Pembangunan nasional indonesia pada akhirnya harus bertujuan mencapai negara kesatuan yang berkedaulatan rakyat serta adil dan makmur berdasarkan pancasila.
2.      Pembangunan pendidikan
adalah pembangunan manusia seutuhnya. Hal ini mengandung arti bahwa pembangunan pendidikan adalah pembangunan keseluruhan kemampuan individu manusia yang menjadi sumber daya manusia (human resources) secara optimal yang bermanfaat bagi kepentingan individu dan menunjang pembangunan sektor – sektor kehidupan lainnya.[4]
3.       Pendidikan hubungannya dengan masyarakat
Menurut penulis adalah pendidikan membuat hubungan timbal balik antara sesama manusia menjadi lebih baik dalam menjalin hubungan. Pendidikan juga bisa membuat seorang individu memiliki  belajar bertanggung jawab dan lain sebagainya.
Dapat  penulis simpulkan pendidikan adalah ada pengaruh besar dalam setiap kehidupan manusia dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Maka dari itu pendidikan sangat penting dalam memajukan kehidupan manusia yang berilmu.












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidikan adalah sebagai usaha sadar yang sistematik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah landasan dan asas-asas tertentu.Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu.

B.     Saran
Sebagai calon guru haruslah mengajar dengan telaten dan displin dan berpegang teguh dengan landasan dan asas pendidikan yang ada di indonesia.


                             












DAFTAR PUSTAKA
Mudyahardjo Redja, pengantar pendidikan,(jakarta; Raja Grafindo Persada,2012)























[2] Ibid.
[3] Redja Mudyahardjo, pengantar pendidikan,(jakarta; Raja Grafindo Persada,2012), h. 356
[4] Ibid. h 491 dan  500

Tidak ada komentar:

Posting Komentar