Selasa, 28 November 2017

MAKALAH HADIS TARBAWI "HADIS TENTANG PENDIDIKAN ANAK"

A.    PENDAHULUAN
Pendidikan adalah hak warga negara, tidak terkecuali pendidikan di usia dini merupakan hak warga negara dalam mengembangkan potensinya sejak dini. Berdasarkan berbagai penelitian bahwa usia dini merupakan pondasi terbaik dalam mengembangkan kehidupannya di masa depan. Selain  itu pendidikan di usia dini dapat mengoptimalkan kemampuan dasar anak dalam menerima proses pendidikan di usia-usia berikutnya.
Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hamba-Nya. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima selain Islam. Allah ta’ala berfirman dalam Q.S. Al Maa’idah ayat 3 yang artinya
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maa’idah: 3)
Salah satu tujuan diturunkannya agama Islam adalah memperbaiki akhlak manusia. Ahklak hanya dapat dperbaiki dengan proses pendidikan, baik formal maupun informal. Betapa pentingnya pendidikan sehingga ayat yang pertama diturunkan adalah perintah Allah kepada manusia untuk membaca, membaca semua penomena yang terjadi di alam dunia ini. Konsep membaca hanya dapat dilakukan melalui proses pendidikan. Adapun tujuan pendidikan menurut Islam adalah agar seseorang dapat memahami tentang kekuasaan Allah SWT (yang tersirat dan tersurat) dengan segala peraturan-peraturannya, serta mampu menempatkan posisinya sebagai hamba Allah SWT.
Mengkaji makna pendidikan anak menurut Islam (Al-qur’an dan Al-hadist) dengan seluruh aspeknya merupakan kewajiban setiap Muslim, mempelajari berbagai hal, baik ilmu aqidah, syariah maupun muamalah merupakan rangkuman pokok-pokok ajaran agama Islam yang sesuai dengan Al-qur’an dan Al-hadist.






























B.     PEMBAHASAN
1.      Sub tema 1
(Menanamkan kecintaan kepadaNabi dan membaca al-Qur’an)
a.       Hadis lengkap dan terjemahannya
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  اَدِّبُوْا اَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ : حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ اَهْلِ بَيْتِهِ وَ قِرَأَةُ الْقُرْأَنِ فَإِنَّ حَمْلَةَ الْقُرْأَنُ فِيْ ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لَا ظِلٌّ ظِلَّهُ مَعَ اَنْبِيَائِهِ وَاَصْفِيَائِهِ رَوَاهُ الدَّيْلَمِ 
Artinya :
Dari Ali R.A ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Didiklah anak-anak kalian dengan tiga macam perkara yaitu mencintai Nabi kalian dan keluarganya serta membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya orang yang menjunjung tinggi Al-Qur’an akan berada di bawah lindungan Allah, diwaktu tidak ada lindungan selain lindungan-Nya bersama para Nabi dan kekasihnya” (H.R Ad-Dailami)[1]
b.      Pemahaman hadis
Remaja merupakan individu yang berada dalam masa transisi antara anak-anak menuju dewasa yang memiliki berbagai kebutuhan. Kebutuhan yang beragam tersebut telah menjadi motif. Munculnya motif pada diri remaja didasarkan pada keadaan remaja serta lingkungan remaja berada. Masa ini bisa juga dikatakan sebagai masa yang paling menyenangkan tapi sekaligus juga paling membingungkan. Masa di mana seseorang mulai memikirkan tentang cita-cita, harapan, dan keinginan-keinginannya. Namun juga masa yang membingungkan, karena ia mulai menyadari masalah-masalah yang muncul ketika ia mencoba untuk mengintegrasikan antara keinginan diri dan keinginan orang-orang di sekitarnya.
Pada saat inilah orangtua memiliki peranan yang sangat penting untuk menolong anak remajanya, supaya mereka tidak salah jalan. Tetapi tidak dapat dipungkiri kalau pada saat yang sama orangtua mengalami kesulitan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang di alami remaja, baik secara fisik maupun psikis. Oleh karena itu orangtua perlu melakukan pendekatan-pendekatan yang tepat agar dapat mengerti dan memahami masalah anak remajanya. Jika tidak maka hal ini akan menyebabkan banyak kesalahpahaman di antara mereka.
Dalam hal ini ada dua pendekatan yang ditawarkan dalam mengarahkan remaja, khususnya dalam pembinaan kepribadian mereka, yaitu pendekatan keteladanan dan pendekatan keagamaan.
Pendekatan keteladanan diperlukan karena dalam perkembangannya, remaja sangat membutuhkan figur teladan yang bisa merefleksikan jati diri mereka. Di akhir periode ini, anak-anak akan punya kecenderungan yang sangat kuat untuk meniru apapun yang ada pada diri kebanyakan orang terutama mereka yang menjadi lingkungan baginya. Para psikolog menamai sebuah gejala kejiwaan dari seorang anak pada usia ini yang selalu ingin meniru orang lain secara fisik dengan istilah “peniruan”. Keinginan ini sangat cepat timbulnya dan akan cepat juga berhenti ketika sumber peniruan itu tidak ada.
Ada pula jenis peniruan yang bersifat nonfisik. Prosesnya berlangsung perlahan tetapi pengaruhnya sangat kuat menempel pada akal dan jiwa. Contoh konkretnya adalah perilaku taqlid (patuh) dan peneladanan kepada pribadi-pribadi agung. Kepribadian mereka akan sangat kuat mempengaruhi anak-anak muda. Anak-anak muda mempunyai kecenderungan untuk merasa tertarik, meneladani dan menghormati orang-orang yang mulia, yang memiliki sifat-sifat keteladanan, dan yang memiliki pengaruh kuat pada masyarakat, seperti para pejabat, tokoh, para juara, orang-orang sukses, serta guru sekolah dan ustadz madrasah.
Para psikolog berpendapat bahwa pada dalam diri setiap manusia terdapat kebutuhan untuk memiliki idola. Kebutuhan ini sangat signifikan. Dalam pandangan para psikolog itu, kepribadian ideal yang menjadi idola bagi tiap manusia itu akan sangat bermacam-macam dan bergantung kepada berbagai faktor, seperti fisik, kejiwaan, dan sosial.
Dalam pengertian seperti ini, tentulah idola akan menjadi faktor yang sangat penting bagi manusia, terutama anak-anak yang berada pada akhir-akhir fase remaja ini. Satu hal yang perlu ditekankan adalah bahwa idola ini, meskipun tidak beranjak dari sekedar konsep, tidak menemui realitasnya, atau tidak sampai membentuk paradigma serta cita-cita hidup, ia akan tetap tinggal dalam benak. Karena itu, si anak tetap memerlukan contoh dan teladan dalam kehidupannya. Dalam hal ini, idola terbaik tentulah pribadi-pribadi agung yang miliki oleh orang-orang saleh sehingga dapat mempengaruhi mereka dalam pembentukan kepribadiannya.
Kehidupan orang-orang saleh itu penuh dengan nilai-nilai kebajikan yang sangat diperlukan manusia sebagai pegangan. Peneladanan anak-anak kepada mereka inilah yang akan membentuk kepribadian mulia, mengikuti apa yang mereka teladani. Jika mereka sampai kehilangan teladan, elan vital mereka akan membeku, semangat mengendur, dan mungkin saja keperluan meneladani ini akan mereka alihkan kepada pribadi-pribadi awam di lingkungan sekitarnya.
Oleh sebab itu, orang tua berkewajiban untuk mengarahkan pandangan, pikiran, dan kecenderungan anak-anak ke arah pribadi-pribadi teladan sejak Nabi Adam a.s. hingga orang-orang mulia zaman sekarang. Pada diri mereka terdapat teladan-teladan yang secara historis memiliki konteks yang khas, tetapi semuanya mengandung nilai kemuliaan, kebajikan, dan kepemimpinan dalam hidup. Keteladanan yang suci tersebut memiliki pengaruh dan tempat yang mulia di seluruh sudut kehidupan anak-anak. Dampak dari peneladanan itu akan termanifestasikan dalam kepribadian, mental, logika, dan paradigma hidup mereka. Pada gilirannya, hal ini akan mendorong si anak untuk mencapai posisi tinggi sebagaimana yang telah dicapai oleh orang-orang saleh yang mereka teladani.
Apabila kita mencoba untuk mengamati perkembangan anak secara teliti, akan kita temukan bahwa pada masa–masa anak belum mencapai usia balig terdapat suatu kecendrungan kuat dalam diri anak untuk mencapai tokoh yang dianggapnya paling hebat dalam segala hal, agar anak itu bisa menirunya dan bertindak seolah-olah dia juga memiliki kehebatan seperti apa yang telah dimiliki oleh tokoh yang ia kaguminya. Maka oleh karena itu pendidikan Islam memiliki sebuah metode yang sangat hebat dalam menyalurkan kecendrungan anak tersebut dengan menjadikan Rasulullah SAW. sebagai tokoh yang dikagumi karena memiliki sifat–sifat yang tidak dimiliki oleh orang lain selain beliau. Keagungan akhlak dan kepribadian beliau telah menjadi sebuah nilai yang tidak dapat diragukan lagi oleh siapa pun.
Untuk meneladani seseorang perlu didahului dengan rasa cinta terhadap orang yang diteladaninya. Hal ini sesuai dengan pepatah yang dilontarkan penyair Arab, sebagai berikut:
لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً َلأَطَعْتَهُ إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْع

Sekiranya cintamu itu benar niscaya engkau akan mentaatinya Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintainya.
 agar anak remaja dapat menjadikan Rasulullah SAW, sebagai teladan dalam hidupnya, para orang tua dan pendidik lainnya berkewajiban untuk menanamkan kecintaan pada diri remaja terhadap baginda Rasulullah SAW.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam menanamkan kecintaan pada diri remaja terhadap Rasulullah SAW. di antaranya:
1.      Menceritakan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.
2.      Mengenalkan ajaran-ajaran syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
3.      Mengikutkan remaja pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peristiwa Rasulullah SAW., seperti peringatan-peringatan haris besar Islam.
4.      Memberikan teladan kepada remaja tentang sikap dan perilaku orang yang mencintai Rasulullah SAW.

Adapun pendekatan kedua dalam membina kepribadian remaja adalah pendekatan keagamaan melalui pembiasaan membaca al-Quran. Menanamkan kebiasaan membaca Al-Quran pada diri remaja merupakan aplikasi pendidikan keagamaan pada diri remaja, karena membaca Al-Quran merupakan bagian dari nilai-nilai pendidikan Agama.
Dari uraian di atas dapat dibuatkan kesimpulan bahwa menanamkan kecintaan pada diri remaja membiasakan membaca al-Quran merupakan salah satu upaya terbaik dalam membina kepribadian remaja.
Untuk menanamkan kecintaan membaca al-Quran pada diri remaja perlu diberikan motivasi pada diri mereka. Ada 10 motivasi pilihan, yang jika ditanamkan kuat-kuat pada diri remaja akan menggugah minat baca mereka. Kesepuluh motivasi pilihan itu adalah :
1)      Aktivitas membaca bisa mendatangkan inspirasi. Inspirasi akan diperoleh jika kita tekun membaca sesuai minat atau panggilan jiwa.
2)      Reading habit bisa menggali bakat dan potensi diri, lalu dikembangkan secara optimal, sehingga setiap orang mampu meningkatkan kualitas SDM-nya secara mandiri.
3)      Kebiasaan membaca dapat memacu daya nalar (intelektual).
4)      Kebiasaan membaca bisa melatih konsentrasi, sebab mustahil kita akan mampu memahami dan mengerti isi materi bahan bacaan secara baik dan benar, jika saat membaca kita tak berhasil melakukan konsentrasi.
5)      Bagi orang usia tua, kebiasaan membaca bahan pustaka bermutu bisa mencegah terjadinya kepikunan, karena kegiatan membaca secara rutin akan memelihara/ memperbaiki daya ingat seseorang.
6)      Bahan bacaan bisa sebagai sarana rekreasi. Orang tua bisa mengajak anggota keluarganya berkunjung ke perputakaan, memberikan buku (bacaan) yang sesuai minat baca putra-putrinya, apalagi jika saatnya tepat di hari ulang tahun mereka, atau mendiskusikan secara serius tetapi santai-topik bacaan apa saja yang aktual dan dapat menarik perhatiannya.
7)      Dengan sering berkonsentrasi karena banyak membaca, maka pikiran dan emosi seseorang menjadi kian terkendali, sehingga mudah untuk berpikir positif dalam menyikapi berbagai masalah.
8)      Terpeliharanya konsentrasi melalui kebiasaan membaca buku bermutu, jika dipupuk secara teratur dan berlanjut, pada saatnya, akan menumbuhkan kekuatan jiwa untuk meraih berbagai kemampuan, termasuk meraih sukses sekaligus kebahagiaan.
9)      Aktivitas membaca termasuk perintah Tuhan kepada seluruh umat manusia.“Bacalah, bacalah atas nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam, dari apa-apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-’Alaq:1-5). Ayat tersebut justru merupakan ayat Al-Quran yang pertama-tama diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Sebab itu, kebiasaan membaca bisa dimotivasi sebagai bagian integral dari kegiatan ibadah yang pasti banyak mendatangkan berkah.
10)  Kegemaran membaca bisa membuat seseorang sebagai autodidak, dapat melakukan pendidikan seumur hidup (long life education) tanpa harus bergantung pada pendidikan formal yang biayanya kian meroket.

2.      Sub tema 2
(Mengembangkan bakat dan minat)
a.       Hadis lengkap dan terjemahannya
عَنْ بَكْرِبِنِ عَبْدِالله بن الربيع الانصارى قالرسول الله صلى الله عليه وسلم:عَلِمُواأَوْلَادَكُمُ السِّبَاحَةَوَالرِّمَايَةَ (رواه ابن منده)
Artinya : “Dari Bakr bin’ ‘Abd Allah bin Rabi’ al-Anshari, Rasulullah SAW bersabda : Ajarilah anak-anakmu memanah dan berenang. (H.R Ibn Mandah)[2]
b.      Pemahaman Hadis
BERENANG
Dalam hadits di atas, rasulullah Saw memerintahkan kepada umat islam untuk latihan berenang, karena latihan berenang adalah sebuah olahraga yang dilaksanakan untuk melatih pernafasan dan melatih kekuatan-kekuatan kaki dan tangan. Dengan sering latihan berenang maka badan menjadi sehat dan segar bugar bahkan ada yang mengatakan bahwa orang yang gemar berenang, ia jarang terkena penyakit.
Inti dalam Olahraga Renang adalah pengaturan nafas. Dimana Fungsi nafas adalah untuk memasukan atau menghirup oksigen dari Alam  ke dalam tubuh kita melalui paru-paru. oksigen yang kita hirup masuk ke paru-paru, lalu aliran darah dari jantung masuk ke paru-paru. Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan berhubungan dengan sistem peredaran darah (sirkulasi) yang bernapas dengan udara. Fungsinya adalah menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Prosesnya disebut "pernapasan eksternal" atau bernapas.
Dengan pengaturan nafas maka bermanfaat bagi ketahanan fisik. Mahir berenang/mengatur nafas akan kuat pernapasannya, dan ini amat besar pengaruhnya bagi kecerdasan ketika asupan oksigen ke otak itu terdistribusi dengan cukup dan Kondisi yg Prima.
Isi Kandungan Hadits
1.         Berenang merupakan salah satu olahraga untuk pernapasan dan otot tangan serta kaki yang dapat menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dengan catatan sesuai dengan kondisi, bila terlalu sering akan mengakibatkan metabolisme atau peredaran darah menjadi cepat.
2.         Latihan berenang juga dapat mencerdaskan kita ketika asupan oksigen ke otak terdistribusi dengan cukup dan kondisi yang prima.
Analisis Hadits:
1.      Berenang dapat merupakan hal yang diperintahkan rasulullah, maka dianjurkan kepada orang tua untuk melatih anak-anaknya berenang sepeti hadits di atas.
2.      Rasulullah Saw memerintahkan latihan berenang agar umat muslim tetap mimiliki tubuh yanng sehat dan kuat.
3.      Dari segi pendidikan, berenang menggambarkan bahwa sseorang harus bergerak dalam mengarungi kehidupan, tanpa bergerak seseorang akan mati dan tidak akan mendapatkan suatu apapun seperti halnya berenang, bila seorang tidak bergerak di dalam kolam berisi air maka ia akan mati karena tenggelam.
MEMANAH
Memanah memerlukan konsentrasi dan latihan yang berkesinambungan.  Memanah sasaran yang bergerak tentu lebih sulit daripada sasaran yang diam.  Setiap sasaran memiliki karakteristik tersendiri dan sasaran tersebut selalu bergerak gerak. Namun, apabila kita berhasil  memanah sasaran tersebut, maka kita siap untuk melaksanakan perintah yang selanjutnya: berkuda.
Inti dari semuanya adalah kita belajar  focus atau konsentrasi artinya kita mempokuskan tenaga suatu titik. Untuk bisa konsentrasi kita harus bisa Ikhlas dan menyukai latihan, sehingga kita bisa mensinergikan antara pikiran dan perasaan, Dalam latihan konsentrasi inipun bisa diaplikasikan pada hal yg lain, intinya pesan yg disampaikan oleh Rasullah adalah bahwa setiap anak muslim harus belajar atau melatih konsentrasi agar kita bias fokus pada sesuatu hal. Pikiran focus pada target, akan tercapia bila kita bisa mensinergikan antara kekuatan dan  Tubuh dengan  Pikiran dan perasaan.
Dalam latihan memanah tidak dianjurkan untuk menjadikan makhluk hidup sebagai sasaran.
Isi Kandungan Hadits:
1.         Dalam hadits diatas orang yang membuat panah dengan ridho untuk kebaikan atau untuk latihan memanah guna kebaikan maka ia mendapat pahala begitu pula orang yang melpaskan busur dan menyiapakannya dengan mengharap ridho Allah maka pekerjaannya berpahala.
2.         Memanah dan berkuda adalah olahraga yang di perintah rasulullah agar umat muslimin mempunyai stamina yang prima untuk berjuang mempertahankan akidah, bangsa dan negara. Baik jalur darat maupun laut.
3.         Memanah mengajarkan kita untuk selalu berkonsentrasi dalam setiap bidang yang kita hadapi, antara pemikiran dan badan harus satu irama.
Analisis Hadits:
1.      Diperintahkan bagi umat muslimin untuk berkuda dan memanah agar menjadi muslim yang kuat karena olahraga memanah dan berkuda tidk hanya menyehatka bagi badan tapi juga bermanfaat bagi setiap kehidupan karena didalamnya terdapat pembelajaran untuk menghadapi kehidupan baik sekarang maupun akan datang.
2.      Hadits di atas menggambarkan bahwa hal-hal yang disenangi oleh rasulullah adalah olahraga berkuda dan memanah serta bersendau gurau dengan istri.
3.      Hadits setelahnya melarang kita latihan memanah dengan menjadikan makhluk hidup sebagai sasaran untuk dipanah.

3.      Sub tema 3
(Mengajarkan etika pergaulan dengan lawan jenis)
a.       Hadis Lengkap dan terjemahannya
۳۰٠٦- حَدﱠثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ: حَدَّ ثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو ، عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ،عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا: أَنَّهُ سَمْعَ النُبِيّﷺ يَقُولُ: ((لَايَخْلُوَنْ رَجُلٌ بِامْرَ أَ ةٌ،وَلَاتُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلَّاوَمَعَهَامَحْرَمٌ)). فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَارَسُولَ اللهِ! لكْتُتْبِتُ فِي غَزْوَةِ كَذَاوَكَذَاوَخَرَحَتِ امْرَأَتِي حَاجَّةً،قَالَ: ((اذْهَبْ فَحْجُجْ مع امْرَأَتِكَ)). [ر اجع :١٨٦٢]                                  
Artinya :
“ Qutaibah bin Sa’id menyampaikan kepada kami dari Sufyan, dari Amr, dari Abu Ma’bad bahwa Ibnu Abbas mendengar Nabi SAW bersabda, ‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan perempuan yang bukan mahramnya dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya.’ Seorang laki-laki bangkit dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tercatat dalam perang ini dan ini, tetapi istriku hendak berangkat haji`’ Beliau bersabda, ‘pergi dan berhajilah bersama istrimu!’” ( Lihat kembali hadits no. 1862).[3]
b.      Pemahaman Hadis
Islam telah mengatur etika pergaulan. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para pelakunya. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah Menutup Aurat.
Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurot demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurot merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya terutama kepada lawan jenis jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah.
Aurat laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan aurat bagi wanita yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Di samping aurat, Pakaian yang di kenakan tidak boleh ketat sehingga memperhatikan lekuk anggota tubuh, dan juga tidak boleh transparan atau tipis sehingga tembus pandang.
Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman :
·         Q.S An-Nur Ayat ke-31
·         Q.S Al-Ahzab Ayat ke-59
Menjauhi perbuatan zina
Pergaulan antara laki-laki dengan perempuan di perbolehkan sampai pada batas tidak membuka peluang terjadinya perbuatan dosa. Islam adalah agama yang menjaga kesucian, pergaulan di dalam islam adalah pergaulan yang dilandasi oleh nilai-nilai kesucian. Dalam pergaulan dengan lawan jenis harus dijaga jarak sehingga tidak ada kesempatan terjadinya kejahatan seksual yang pada gilirannya akan merusak bagi pelaku maupun bagi masyarakat umum.
Laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Jika laki-laki dan perempuan di tempat sepi maka yang ketiga adalah syetan, mula-mula saling berpandangan, lalu berpegangan, dan akhirnya menjurus pada perzinaan, itu semua adalah bujuk rayu syetan.


C.    Penutup
SIMPULAN
Dari ketiga hadis diatas yang bertemakan pendidikan anak kita dapat mengambil sebuah kesimpulan yang dari sub tema pertama sampai ketiga saling berkaitan.
Yang pertama : Menanamkan rasa cinta anak terhadap Nabi Muhammad SAW dan membaca Al-qur,an. Pertama kali harus dilakukan didalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan, Karena jika kita menginginkan anak mencintai Nabi Muhammad SAW dan membaca Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Kisah-kisah teladan Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur’an.
Metode-metode yang bisa digunakan agar anak kita mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:
1.      Menjelaskan kepada anak tentang keutamaan Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur’an.
2.       Sabar dalam menghadapi anak.
3.      Nabi Muhammad SAW adalah teladan dan Al-Qur’an  adalah peoman bagi seluruh manusia.
4.      Dengan Mencintai Rasulullah SAW dan Al-Qur’an berarti mencintai Allah.
5.      Menggunakan sarana yang inovatif.
6.      Memilih waktu yang tepat untuk menghafal Al-Qur’an.[4]
Yang kedua : Mengembangkan bakat dan minat. Tidak seperti teorimPsiko-Behavouristik dan tabula Rasa Jhon Luck yang menyatakan bahwa anak yang lahir ibarat kertas putih, tidak memiliki (membawa) potensi apapun, namun dalam konsep fitrah Islam, justru sebaliknya. Menurut Islam, dengan konsep fitrah manusia terlahir telah memiliki banyak potensi, diantaranya adalah bakat minat.bakat merupakan kecenderungan khas yang terdapat pada setiap orang. Bakat yang ada pada diri seseeorang umumnya karena factor genetis, namun adakalahnya terbentuk melalui factor proses pendidikan. Hadis diatas mengisyaratkan bahwa orang tua termasuk pendidik. Oleh karenanya orang tua harus dapat mengungkap potensi bakat dan minat yang ada pada anak serta mengembangkan dan mengarahkan bakat dan minat yang ada ada anak sesuia jalurnya. Jika demikian, maka pemahaman hadis diatas jangan dilihat secara tekstual akan tetapi secara kontekstual.[5]
Yang ketiga : Mengajarkan Etika Pergaulan dengan Lawan Jenis. Dari hadis diatas, setidaknya ada pokok pelajaran sebagai upaya untuk mengatasi gejolak nafsu seksual yang cenderung ingin bebas dan perbuatan zina. Yaitu tidak membolehkan pergi berduaan atau duduk bersunyi-sunyian antara laki-laki dan perempuan tanpa ada mahramnya.[6]









Daftar pustaka
Abu abdulah muhammad bin ismail al-bukhari , sahahih al-bukhari  jakarta timur 2011.
Irli Sri Suciati, Mimbar Pustaka Jatim No.01/Th.I/Januari-Maret 2007:13-15
Yusefri, M.Ag. Telaah tematik hadis tarbawi.rejang lebong  :rejang lebong  2010.



[1] Yusefri, M.Ag. Telaah tematik hadis tarbawi.rejang lebong  :rejang lebong  2010, h,20
[2] Ibid,h.21
[3] Abu abdulah muhammad bin ismail al-bukhari , sahahih al-bukhari 1 jakarta timur 2011. h . 697
[4] Op, cit, h.21
[5] Op. Cit, h.22
[6] Op. Cit, h.25

Tidak ada komentar:

Posting Komentar