A. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah hak warga negara, tidak
terkecuali pendidikan di usia dini merupakan hak warga negara dalam
mengembangkan potensinya sejak dini. Berdasarkan berbagai penelitian bahwa usia
dini merupakan pondasi terbaik dalam mengembangkan kehidupannya di masa depan.
Selain itu pendidikan di usia dini dapat mengoptimalkan kemampuan
dasar anak dalam menerima proses pendidikan di usia-usia berikutnya.
Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah
menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi
hamba-hamba-Nya. Dengan agama Islam ini pula Allah
menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama
yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima
selain Islam. Allah ta’ala berfirman dalam Q.S. Al Maa’idah
ayat 3
yang artinya
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi
kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun
telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al
Maa’idah: 3)
Salah satu tujuan diturunkannya agama Islam
adalah memperbaiki akhlak manusia. Ahklak hanya dapat dperbaiki dengan proses
pendidikan, baik formal maupun informal. Betapa pentingnya pendidikan sehingga
ayat yang pertama diturunkan adalah perintah Allah kepada manusia untuk
membaca, membaca semua penomena yang terjadi di alam dunia ini. Konsep membaca
hanya dapat dilakukan melalui proses pendidikan. Adapun tujuan pendidikan
menurut Islam adalah agar seseorang dapat memahami tentang kekuasaan Allah SWT
(yang tersirat dan tersurat) dengan segala peraturan-peraturannya, serta mampu menempatkan posisinya sebagai
hamba Allah SWT.
Mengkaji makna pendidikan anak menurut
Islam (Al-qur’an dan Al-hadist) dengan seluruh aspeknya
merupakan kewajiban setiap Muslim, mempelajari berbagai hal, baik ilmu
aqidah, syariah maupun muamalah merupakan rangkuman pokok-pokok ajaran agama
Islam yang sesuai dengan Al-qur’an dan Al-hadist.
B. PEMBAHASAN
1.
Sub tema 1
(Menanamkan kecintaan kepadaNabi dan membaca
al-Qur’an)
a.
Hadis lengkap dan terjemahannya
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
: اَدِّبُوْا اَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ : حُبِّ نَبِيِّكُمْ
وَحُبِّ اَهْلِ بَيْتِهِ وَ قِرَأَةُ الْقُرْأَنِ فَإِنَّ حَمْلَةَ الْقُرْأَنُ
فِيْ ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لَا ظِلٌّ ظِلَّهُ مَعَ اَنْبِيَائِهِ
وَاَصْفِيَائِهِ رَوَاهُ الدَّيْلَمِ
Artinya :
Dari
Ali R.A ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Didiklah anak-anak kalian
dengan tiga macam perkara yaitu mencintai Nabi kalian dan keluarganya serta
membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya orang yang menjunjung tinggi Al-Qur’an
akan berada di bawah lindungan Allah, diwaktu tidak ada lindungan selain
lindungan-Nya bersama para Nabi dan kekasihnya” (H.R Ad-Dailami)[1]
b. Pemahaman hadis
Remaja merupakan individu yang berada dalam masa
transisi antara anak-anak menuju dewasa yang memiliki berbagai kebutuhan.
Kebutuhan yang beragam tersebut telah menjadi motif. Munculnya motif pada diri
remaja didasarkan pada keadaan remaja serta lingkungan remaja berada. Masa ini
bisa juga dikatakan sebagai masa yang paling menyenangkan tapi sekaligus juga
paling membingungkan. Masa di mana seseorang mulai memikirkan tentang
cita-cita, harapan, dan keinginan-keinginannya. Namun juga masa yang
membingungkan, karena ia mulai menyadari masalah-masalah yang muncul ketika ia
mencoba untuk mengintegrasikan antara keinginan diri dan keinginan orang-orang
di sekitarnya.
Pada saat inilah orangtua memiliki peranan yang
sangat penting untuk menolong anak remajanya, supaya mereka tidak salah jalan.
Tetapi tidak dapat dipungkiri kalau pada saat yang sama orangtua mengalami
kesulitan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang di alami remaja, baik
secara fisik maupun psikis. Oleh karena itu orangtua perlu melakukan pendekatan-pendekatan
yang tepat agar dapat mengerti dan memahami masalah anak remajanya. Jika tidak
maka hal ini akan menyebabkan banyak kesalahpahaman di antara mereka.
Dalam hal ini ada dua pendekatan yang ditawarkan
dalam mengarahkan remaja, khususnya dalam pembinaan kepribadian mereka, yaitu
pendekatan keteladanan dan pendekatan keagamaan.
Pendekatan keteladanan diperlukan karena dalam
perkembangannya, remaja sangat membutuhkan figur teladan yang bisa
merefleksikan jati diri mereka. Di akhir periode ini, anak-anak akan punya
kecenderungan yang sangat kuat untuk meniru apapun yang ada pada diri
kebanyakan orang terutama mereka yang menjadi lingkungan baginya. Para psikolog
menamai sebuah gejala kejiwaan dari seorang anak pada usia ini yang selalu
ingin meniru orang lain secara fisik dengan istilah “peniruan”. Keinginan ini
sangat cepat timbulnya dan akan cepat juga berhenti ketika sumber peniruan itu
tidak ada.
Ada pula jenis peniruan yang bersifat nonfisik.
Prosesnya berlangsung perlahan tetapi pengaruhnya sangat kuat menempel pada akal
dan jiwa. Contoh konkretnya adalah perilaku taqlid (patuh)
dan peneladanan kepada pribadi-pribadi agung. Kepribadian mereka akan sangat
kuat mempengaruhi anak-anak muda. Anak-anak muda mempunyai kecenderungan untuk
merasa tertarik, meneladani dan menghormati orang-orang yang mulia, yang
memiliki sifat-sifat keteladanan, dan yang memiliki pengaruh kuat pada
masyarakat, seperti para pejabat, tokoh, para juara, orang-orang sukses, serta
guru sekolah dan ustadz madrasah.
Para psikolog berpendapat bahwa pada dalam diri
setiap manusia terdapat kebutuhan untuk memiliki idola. Kebutuhan ini sangat
signifikan. Dalam pandangan para psikolog itu, kepribadian ideal yang menjadi
idola bagi tiap manusia itu akan sangat bermacam-macam dan bergantung kepada
berbagai faktor, seperti fisik, kejiwaan, dan sosial.
Dalam pengertian seperti ini, tentulah idola akan
menjadi faktor yang sangat penting bagi manusia, terutama anak-anak yang berada
pada akhir-akhir fase remaja ini. Satu hal yang perlu ditekankan adalah bahwa
idola ini, meskipun tidak beranjak dari sekedar konsep, tidak menemui
realitasnya, atau tidak sampai membentuk paradigma serta cita-cita hidup, ia
akan tetap tinggal dalam benak. Karena itu, si anak tetap memerlukan contoh dan
teladan dalam kehidupannya. Dalam hal ini, idola terbaik tentulah
pribadi-pribadi agung yang miliki oleh orang-orang saleh sehingga dapat
mempengaruhi mereka dalam pembentukan kepribadiannya.
Kehidupan orang-orang saleh itu penuh dengan
nilai-nilai kebajikan yang sangat diperlukan manusia sebagai pegangan.
Peneladanan anak-anak kepada mereka inilah yang akan membentuk kepribadian
mulia, mengikuti apa yang mereka teladani. Jika mereka sampai kehilangan
teladan, elan vital mereka akan membeku, semangat mengendur, dan mungkin saja
keperluan meneladani ini akan mereka alihkan kepada pribadi-pribadi awam di
lingkungan sekitarnya.
Oleh sebab itu, orang tua berkewajiban untuk
mengarahkan pandangan, pikiran, dan kecenderungan anak-anak ke arah
pribadi-pribadi teladan sejak Nabi Adam a.s. hingga orang-orang mulia zaman
sekarang. Pada diri mereka terdapat teladan-teladan yang secara historis
memiliki konteks yang khas, tetapi semuanya mengandung nilai kemuliaan,
kebajikan, dan kepemimpinan dalam hidup. Keteladanan yang suci tersebut
memiliki pengaruh dan tempat yang mulia di seluruh sudut kehidupan anak-anak.
Dampak dari peneladanan itu akan termanifestasikan dalam kepribadian, mental,
logika, dan paradigma hidup mereka. Pada gilirannya, hal ini akan mendorong si
anak untuk mencapai posisi tinggi sebagaimana yang telah dicapai oleh
orang-orang saleh yang mereka teladani.
Apabila kita mencoba untuk mengamati perkembangan
anak secara teliti, akan kita temukan bahwa pada masa–masa anak belum mencapai
usia balig terdapat suatu kecendrungan kuat dalam diri anak untuk mencapai
tokoh yang dianggapnya paling hebat dalam segala hal, agar anak itu bisa
menirunya dan bertindak seolah-olah dia juga memiliki kehebatan seperti apa
yang telah dimiliki oleh tokoh yang ia kaguminya. Maka oleh karena itu
pendidikan Islam memiliki sebuah metode yang sangat hebat dalam menyalurkan
kecendrungan anak tersebut dengan menjadikan Rasulullah SAW. sebagai tokoh yang
dikagumi karena memiliki sifat–sifat yang tidak dimiliki oleh orang lain selain
beliau. Keagungan akhlak dan kepribadian beliau telah menjadi sebuah nilai yang
tidak dapat diragukan lagi oleh siapa pun.
Untuk meneladani seseorang perlu didahului dengan
rasa cinta terhadap orang yang diteladaninya. Hal ini sesuai dengan pepatah
yang dilontarkan penyair Arab, sebagai berikut:
لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً َلأَطَعْتَهُ إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ
مُطِيْع
Sekiranya cintamu itu
benar niscaya engkau akan mentaatinya Karena orang yang mencintai tentu akan
mentaati orang yang dicintainya.
agar anak remaja dapat menjadikan Rasulullah
SAW, sebagai teladan dalam hidupnya, para orang tua dan pendidik lainnya
berkewajiban untuk menanamkan kecintaan pada diri remaja terhadap baginda
Rasulullah SAW.
Ada beberapa langkah
yang dapat dilakukan dalam menanamkan kecintaan pada diri remaja terhadap
Rasulullah SAW. di antaranya:
1.
Menceritakan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.
2. Mengenalkan
ajaran-ajaran syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
3. Mengikutkan
remaja pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peristiwa Rasulullah
SAW., seperti peringatan-peringatan haris besar Islam.
4. Memberikan
teladan kepada remaja tentang sikap dan perilaku orang yang mencintai
Rasulullah SAW.
Adapun
pendekatan kedua dalam membina kepribadian remaja adalah pendekatan keagamaan
melalui pembiasaan membaca al-Quran. Menanamkan kebiasaan membaca Al-Quran pada diri remaja merupakan aplikasi
pendidikan keagamaan pada diri remaja, karena membaca Al-Quran merupakan bagian
dari nilai-nilai pendidikan Agama.
Dari
uraian di atas dapat dibuatkan kesimpulan bahwa menanamkan kecintaan pada diri
remaja membiasakan membaca al-Quran merupakan salah satu upaya terbaik dalam
membina kepribadian remaja.
Untuk
menanamkan kecintaan membaca al-Quran pada diri remaja perlu diberikan motivasi
pada diri mereka. Ada 10 motivasi pilihan, yang jika ditanamkan kuat-kuat pada
diri remaja akan menggugah minat baca mereka. Kesepuluh motivasi pilihan itu
adalah :
1)
Aktivitas membaca bisa mendatangkan inspirasi.
Inspirasi akan diperoleh jika kita tekun membaca sesuai minat atau panggilan
jiwa.
2) Reading
habit bisa menggali bakat dan potensi diri, lalu dikembangkan secara optimal,
sehingga setiap orang mampu meningkatkan kualitas SDM-nya secara mandiri.
3) Kebiasaan
membaca dapat memacu daya nalar (intelektual).
4) Kebiasaan
membaca bisa melatih konsentrasi, sebab mustahil kita akan mampu memahami dan
mengerti isi materi bahan bacaan secara baik dan benar, jika saat membaca kita
tak berhasil melakukan konsentrasi.
5) Bagi
orang usia tua, kebiasaan membaca bahan pustaka bermutu bisa mencegah
terjadinya kepikunan, karena kegiatan membaca secara rutin akan memelihara/
memperbaiki daya ingat seseorang.
6) Bahan
bacaan bisa sebagai sarana rekreasi. Orang tua bisa mengajak anggota
keluarganya berkunjung ke perputakaan, memberikan buku (bacaan) yang sesuai
minat baca putra-putrinya, apalagi jika saatnya tepat di hari ulang tahun
mereka, atau mendiskusikan secara serius tetapi santai-topik bacaan apa saja
yang aktual dan dapat menarik perhatiannya.
7) Dengan
sering berkonsentrasi karena banyak membaca, maka pikiran dan emosi seseorang
menjadi kian terkendali, sehingga mudah untuk berpikir positif dalam menyikapi
berbagai masalah.
8) Terpeliharanya
konsentrasi melalui kebiasaan membaca buku bermutu, jika dipupuk secara teratur
dan berlanjut, pada saatnya, akan menumbuhkan kekuatan jiwa untuk meraih
berbagai kemampuan, termasuk meraih sukses sekaligus kebahagiaan.
9) Aktivitas
membaca termasuk perintah Tuhan kepada seluruh umat manusia.“Bacalah,
bacalah atas nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang telah menciptakan manusia
dari segumpal darah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam, dari
apa-apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-’Alaq:1-5). Ayat tersebut
justru merupakan ayat Al-Quran yang pertama-tama diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad
SAW. Sebab itu, kebiasaan membaca bisa dimotivasi sebagai bagian integral dari
kegiatan ibadah yang pasti banyak mendatangkan berkah.
10) Kegemaran
membaca bisa membuat seseorang sebagai autodidak, dapat melakukan pendidikan
seumur hidup (long life education) tanpa harus bergantung pada
pendidikan formal yang biayanya kian meroket.
2.
Sub tema 2
(Mengembangkan bakat dan minat)
a. Hadis
lengkap dan terjemahannya
عَنْ بَكْرِبِنِ عَبْدِالله بن
الربيع الانصارى قالرسول الله صلى الله عليه وسلم:عَلِمُواأَوْلَادَكُمُ السِّبَاحَةَوَالرِّمَايَةَ
(رواه ابن منده)
Artinya : “Dari Bakr bin’ ‘Abd
Allah bin Rabi’ al-Anshari, Rasulullah SAW bersabda : Ajarilah anak-anakmu
memanah dan berenang. (H.R Ibn Mandah)[2]
b. Pemahaman Hadis
BERENANG
Dalam hadits di atas, rasulullah Saw
memerintahkan kepada umat islam untuk latihan berenang, karena latihan berenang
adalah sebuah olahraga yang dilaksanakan untuk melatih pernafasan dan melatih
kekuatan-kekuatan kaki dan tangan. Dengan sering latihan berenang maka badan
menjadi sehat dan segar bugar bahkan ada yang mengatakan bahwa orang yang gemar
berenang, ia jarang terkena penyakit.
Inti dalam Olahraga Renang adalah
pengaturan nafas. Dimana Fungsi nafas adalah untuk memasukan atau menghirup
oksigen dari Alam ke dalam tubuh kita melalui paru-paru. oksigen yang
kita hirup masuk ke paru-paru, lalu aliran darah dari jantung masuk ke
paru-paru. Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan
berhubungan dengan sistem peredaran darah (sirkulasi) yang bernapas dengan
udara. Fungsinya adalah menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari
darah. Prosesnya disebut "pernapasan eksternal" atau bernapas.
Dengan pengaturan nafas maka
bermanfaat bagi ketahanan fisik. Mahir berenang/mengatur nafas akan kuat
pernapasannya, dan ini amat besar pengaruhnya bagi kecerdasan ketika asupan
oksigen ke otak itu terdistribusi dengan cukup dan Kondisi yg Prima.
Isi
Kandungan Hadits
1.
Berenang merupakan salah satu
olahraga untuk pernapasan dan otot tangan serta kaki yang dapat menjaga kondisi
tubuh agar tetap fit dengan catatan sesuai dengan kondisi, bila terlalu sering
akan mengakibatkan metabolisme atau peredaran darah menjadi cepat.
2.
Latihan berenang juga dapat
mencerdaskan kita ketika asupan oksigen ke otak terdistribusi dengan cukup dan
kondisi yang prima.
Analisis
Hadits:
1.
Berenang dapat merupakan hal yang
diperintahkan rasulullah, maka dianjurkan kepada orang tua untuk melatih
anak-anaknya berenang sepeti hadits di atas.
2. Rasulullah
Saw memerintahkan latihan berenang agar umat muslim tetap mimiliki tubuh yanng
sehat dan kuat.
3. Dari
segi pendidikan, berenang menggambarkan bahwa sseorang harus bergerak dalam
mengarungi kehidupan, tanpa bergerak seseorang akan mati dan tidak akan
mendapatkan suatu apapun seperti halnya berenang, bila seorang tidak bergerak
di dalam kolam berisi air maka ia akan mati karena tenggelam.
MEMANAH
Memanah memerlukan konsentrasi dan
latihan yang berkesinambungan. Memanah sasaran yang bergerak tentu lebih
sulit daripada sasaran yang diam. Setiap sasaran memiliki karakteristik
tersendiri dan sasaran tersebut selalu bergerak gerak. Namun, apabila kita
berhasil memanah sasaran tersebut, maka kita siap untuk melaksanakan
perintah yang selanjutnya: berkuda.
Inti dari semuanya adalah kita
belajar focus atau konsentrasi artinya kita mempokuskan tenaga suatu
titik. Untuk bisa konsentrasi kita harus bisa Ikhlas dan menyukai latihan,
sehingga kita bisa mensinergikan antara pikiran dan perasaan, Dalam latihan
konsentrasi inipun bisa diaplikasikan pada hal yg lain, intinya pesan yg
disampaikan oleh Rasullah adalah bahwa setiap anak muslim harus belajar atau
melatih konsentrasi agar kita bias fokus pada sesuatu hal. Pikiran focus pada
target, akan tercapia bila kita bisa mensinergikan antara kekuatan dan
Tubuh dengan Pikiran dan perasaan.
Dalam latihan memanah tidak
dianjurkan untuk menjadikan makhluk hidup sebagai sasaran.
Isi
Kandungan Hadits:
1.
Dalam hadits diatas orang yang
membuat panah dengan ridho untuk kebaikan atau untuk latihan memanah guna
kebaikan maka ia mendapat pahala begitu pula orang yang melpaskan busur dan
menyiapakannya dengan mengharap ridho Allah maka pekerjaannya berpahala.
2.
Memanah dan berkuda adalah olahraga
yang di perintah rasulullah agar umat muslimin mempunyai stamina yang prima
untuk berjuang mempertahankan akidah, bangsa dan negara. Baik jalur darat
maupun laut.
3.
Memanah mengajarkan kita untuk
selalu berkonsentrasi dalam setiap bidang yang kita hadapi, antara pemikiran
dan badan harus satu irama.
Analisis
Hadits:
1.
Diperintahkan bagi umat muslimin
untuk berkuda dan memanah agar menjadi muslim yang kuat karena olahraga memanah
dan berkuda tidk hanya menyehatka bagi badan tapi juga bermanfaat bagi setiap
kehidupan karena didalamnya terdapat pembelajaran untuk menghadapi kehidupan
baik sekarang maupun akan datang.
2.
Hadits di atas menggambarkan bahwa
hal-hal yang disenangi oleh rasulullah adalah olahraga berkuda dan memanah serta
bersendau gurau dengan istri.
3.
Hadits setelahnya melarang kita
latihan memanah dengan menjadikan makhluk hidup sebagai sasaran untuk dipanah.
3.
Sub tema 3
(Mengajarkan etika pergaulan dengan lawan jenis)
a. Hadis
Lengkap dan terjemahannya
۳۰٠٦- حَدﱠثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ
سَعِيْدٍ: حَدَّ ثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو ، عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ،عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا: أَنَّهُ سَمْعَ النُبِيّﷺ يَقُولُ:
((لَايَخْلُوَنْ رَجُلٌ بِامْرَ أَ ةٌ،وَلَاتُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلَّاوَمَعَهَامَحْرَمٌ)).
فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَارَسُولَ اللهِ! لكْتُتْبِتُ فِي غَزْوَةِ كَذَاوَكَذَاوَخَرَحَتِ
امْرَأَتِي حَاجَّةً،قَالَ: ((اذْهَبْ فَحْجُجْ مع امْرَأَتِكَ)). [ر اجع :١٨٦٢]
Artinya :
“ Qutaibah bin Sa’id
menyampaikan kepada kami dari Sufyan, dari Amr, dari Abu Ma’bad bahwa Ibnu
Abbas mendengar Nabi SAW bersabda, ‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat
(berduaan) dengan perempuan yang bukan mahramnya dan janganlah seorang
perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya.’ Seorang laki-laki bangkit dan
berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tercatat dalam perang ini dan ini, tetapi
istriku hendak berangkat haji`’ Beliau bersabda, ‘pergi dan berhajilah bersama
istrimu!’” ( Lihat kembali hadits no. 1862).[3]
b.
Pemahaman
Hadis
Islam telah
mengatur etika pergaulan. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang
dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus
diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para pelakunya. Perilaku yang menjadi
batasan dalam pergaulan adalah Menutup Aurat.
Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan
untuk menutup aurot demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurot
merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada
orang yang bukan mahramnya terutama kepada lawan jenis jenis agar tidak
membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah.
Aurat laki-laki yaitu anggota tubuh antara
pusar dan lutut sedangkan aurat bagi wanita yaitu seluruh anggota tubuh kecuali
muka dan kedua telapak tangan.
Di samping aurat, Pakaian yang di kenakan tidak
boleh ketat sehingga memperhatikan lekuk anggota tubuh, dan juga tidak boleh
transparan atau tipis sehingga tembus pandang.
Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman :
·
Q.S An-Nur Ayat ke-31
·
Q.S Al-Ahzab Ayat ke-59
Menjauhi
perbuatan zina
Pergaulan antara laki-laki
dengan perempuan di perbolehkan sampai pada batas tidak membuka peluang
terjadinya perbuatan dosa. Islam adalah agama yang menjaga kesucian, pergaulan
di dalam islam adalah pergaulan yang dilandasi oleh nilai-nilai kesucian. Dalam
pergaulan dengan lawan jenis harus dijaga jarak sehingga tidak ada kesempatan
terjadinya kejahatan seksual yang pada gilirannya akan merusak bagi pelaku
maupun bagi masyarakat umum.
Laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan
perempuan yang bukan mahramnya. Jika laki-laki dan perempuan di tempat sepi
maka yang ketiga adalah syetan, mula-mula saling berpandangan, lalu
berpegangan, dan akhirnya menjurus pada perzinaan, itu semua adalah bujuk rayu
syetan.
C.
Penutup
SIMPULAN
Dari ketiga hadis diatas yang bertemakan pendidikan anak kita dapat
mengambil sebuah kesimpulan yang dari sub tema pertama sampai ketiga saling
berkaitan.
Yang pertama : Menanamkan rasa cinta anak terhadap Nabi Muhammad SAW dan membaca
Al-qur,an. Pertama kali harus
dilakukan didalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan, Karena jika kita
menginginkan anak mencintai Nabi Muhammad SAW dan membaca Al-Qur’an, maka
jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi
secara baik dengan Kisah-kisah teladan Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur’an.
Metode-metode
yang bisa digunakan agar anak kita mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:
1.
Menjelaskan kepada anak tentang keutamaan Nabi
Muhammad SAW dan Al-Qur’an.
2.
Sabar dalam menghadapi anak.
3.
Nabi Muhammad SAW adalah teladan dan Al-Qur’an adalah peoman bagi seluruh manusia.
4.
Dengan Mencintai Rasulullah SAW dan Al-Qur’an berarti
mencintai Allah.
5.
Menggunakan sarana yang inovatif.
Yang kedua : Mengembangkan bakat dan minat. Tidak
seperti teorimPsiko-Behavouristik dan tabula Rasa Jhon Luck yang menyatakan
bahwa anak yang lahir ibarat kertas putih, tidak memiliki (membawa) potensi
apapun, namun dalam konsep fitrah Islam, justru sebaliknya. Menurut Islam,
dengan konsep fitrah manusia terlahir telah memiliki banyak potensi,
diantaranya adalah bakat minat.bakat merupakan kecenderungan khas yang terdapat
pada setiap orang. Bakat yang ada pada diri seseeorang umumnya karena factor
genetis, namun adakalahnya terbentuk melalui factor proses pendidikan. Hadis
diatas mengisyaratkan bahwa orang tua termasuk pendidik. Oleh karenanya orang
tua harus dapat mengungkap potensi bakat dan minat yang ada pada anak serta
mengembangkan dan mengarahkan bakat dan minat yang ada ada anak sesuia
jalurnya. Jika demikian, maka pemahaman hadis diatas jangan dilihat secara
tekstual akan tetapi secara kontekstual.[5]
Yang ketiga : Mengajarkan Etika Pergaulan dengan Lawan
Jenis. Dari hadis diatas, setidaknya ada pokok pelajaran sebagai upaya untuk
mengatasi gejolak nafsu seksual yang cenderung ingin bebas dan perbuatan zina.
Yaitu tidak membolehkan pergi berduaan atau duduk bersunyi-sunyian antara
laki-laki dan perempuan tanpa ada mahramnya.[6]
Daftar pustaka
Abu abdulah muhammad bin ismail al-bukhari , sahahih al-bukhari jakarta timur 2011.
Irli Sri Suciati, Mimbar Pustaka Jatim
No.01/Th.I/Januari-Maret 2007:13-15
Yusefri, M.Ag. Telaah tematik hadis
tarbawi.rejang
lebong :rejang lebong 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar