KATA PENGANTAR
Segala
puja, puji dan syukur hanya untuk Allah, karena dengan taufik dan hidayah-Nya
dapatlah diselesaikan penulisan makalah ini. Selamat dan sejahtera semoga
selalu tercurah kepada Muhammad, Rasul terakhir, pembawa ajaran Tuhan,
sebagai pembawa rahmat ntuk semesta alam. Juga selamt dan sejahtera
semoga senantiasa tercurah kepada keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut
beliau, yang begitu besar jasanya terhadap beliau dan perkembangan agama
islam..
Kehidupan
Nabi pada awal diangkat menjadi Rasul sudah sangat sederhana dilihat dari
keseharian nya yang hidup zuhd terhadap kehidupan dunia yang ditiru oleh para
sahabatnya yakni para Khulafaur Rasyidin, dengan diikuti oleh para sufisme
selanjutnya sehingga melahirkan keunggulan terhadap kesederhanan pada abad-abad
selanjutnya Semoga dengan tugas makalah ini, penulis semakin bertambah
rasa keingin tahuan terhadap kezuhudan para ulama dengan mengaplikasikan nya di
era modern ini.
penulis
A. PENDAHULUAN
Sejarah
timbulnya tasawuf dalam islam, yaitu semenjak Nabi Muhammad SAW diutus menjadi
rasul., untuk mengasingkan diri dari masyarakat kota mekkah yang sibuk dengan
hawa nafsu keduniaan ia bersemedi
di gua hira. Kehidupan nabi yang seperti itu bertujuan untuk
mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh seorang sufi. Corak kehidupan
kerohanian nabi itulah yang dijadikan sebagai pedoman dalam hidup kerohanian
sesudahnya sebagai materi dalam tasawuf Tasawuf itu merupakan ajaran yang
diikuti oleh orang sufi
Jika
mencermati sirah, sejarah hidup Nabi maka akan terpapar dengan jelas bahwa ada
hubungan erat antara pola hidup Rasulullah yang penuh kejuhudan dan kesederhanaan,
dengan kehidupan kaum zuhud dimasa permulaan Islam, kemudian kaum sufi sejati
setelah mereka yang menempa diri mereka dengan aneka macam riyadhah dengan
tujuan meminimalisir tuntutan-tuntutan fisik agar jiwa mereka mudah menjalankan
berbagai macam ibadah, berkomunikasi dengan Allah dan berdekatan dengan-Nya.
Tidak
ada yang lebih menunjukkan fakta ini daripada deretan khabar tentang perilaku
kehidupan beliau yang dimuat dalam sejumlah hadis shahih.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tasawuf
Masa Nabi
Sejarah
Tasawuf dimulai imam Ja’far Al-Shadiq ibnu Muhamad Bagir ibnu Ali Zaenal Abidin
ibnu Husain ibnu Ali bin Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai guru
dari keempat imam Ahlulsunnah, yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, dan
ibnu Hambali.
Kaitan
Imam Ja’far dengan tasawuf terlihat silsilah tariqah, seperti Naqsyabandiyah
yang berujung pada sayyidina Abu Bakar As-Syiddiq ataupun yang berujung pada
Imam Ali selalu melewati Imam Ja’far. Kakek buyut Imam Ja’far dikenal
mempunyai sifat dan sikap sebagai sufi. Bahkan (mesti sulit untuk dibenarkan)
beberapa ahli menyebutkan Hasan Ali Bashri, sufi-zahid pertama sebagai murid
Imam Ali. Sedangkan Ali Zaenal Abidin (ayah Imam Ja’far)”.
Tasawuf
lahir dan sebagai suatu yang disiplin ilmu sejak abad ke-2 H. Lewat pribadi
Hasan Al-Bashri, Sufyan As-Tsauri, Al-Harits ibnu As’ad Al-Muhasibi, Yazid
Busthami. Tasawuf tidak pernah bebas dari kritikan para ulama’ ahli fiqih,
Hadits, dll.
Praktik-praktik Tasawuf
dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama islam, yaitu Makkah dan
Madinah.
Lahirnya Tasawuf di
dorong oleh beberapa faktor berikut :
1. Reaksi
atas kecenderungan hidup hedonis (kesenangan) yang mengumbar syahwat.
2. Perkembangan
dari aspek moral spiritual.
3.
dari realitas umat yang secara politis didominasi oleh nalar kekerasan.
Menurut
Hamka, kehidupan sufistik sebenarnya lahir bersama dengan lahirnya islam itu
sendiri. Sebab, ia tumbuh dan berkembang dari pribadi Nabi Muhammad
Saw.Benih-benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan nabi Muhammad SAW. Hal
ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan perilaku
nabi Muhammad SAW.
Peristiwa
dan perilaku hidup nabi. sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau
berkhalawat (mengasingkan diri) di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadhan
disana nabi banyak berzikir dan bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
Pengasingan
diri Nabi SAW di gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam
melakukan khalawat. Kemudian puncak kedekatan Nabi SAW dengan Allah SWT
tercapai ketika melakukan Isra Mikraj. Di dalam Isra Mikraj itu nabi SAW telah
sampai ke Sidratulmuntaha (tempat terakhir yang dicapai nabi ketika mikraj di
langit ke tujuh), bahkan telah sampai kehadiran Ilahi dan sempat berdialog dgn
Allah. Dialog ini terjadi berulang kali, dimulai ketika nabi SAW menerima
perintah dari Allah SWT tentang kewajiban shalat lima puluh kali dalam sehari
semalam. Atas usul nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW memohon agar jumlahnya
diringankan dengan alasan umatnya nanti tidak akan mampu melaksanakannya.
Kemudian Nabi Muhammad SAW terus berdialog dengan Allah SWT. Keadaan demikian
merupakan benih yang menumbuhkan sufisme dikemudian hari.
Perikehidupan
(sirah) nabi Muhammad SAW juga merupakan benih-benih tasawuf yaitu pribadi nabi
SAW yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona dengan kemewahan dunia.
Dalam salah satu Doanya ia memohon: ”Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam
kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin” (HR.at-Tirmizi, Ibnu Majah
dan al-Hakim).
“Pada
suatu waktu Nabi SAW datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq.
Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterimanya dengan sabar,
lalu ia menahan lapar dengan berpuasa” (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i)
.
Ibadah
Nabi Muhammad SAW. Ibadah nabi SAW juga sebagai cikal bakal tasawuf. Nabi SAW
adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA
disebutkan bahwa pada suatu malam nabi SAW mengerjakan shalat malam,
didalam salat lututnya bergetar karena panjang dan banyak rakaat salatnya.
Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap
melaksanakan salat sampai azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat
nabi SAW demikian tekun melakukan salat,
Aisyah bertanya: ”Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang
terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah, mengapa engkau masih terlalu
banyak melakukan salat?” nabi SAW menjawab:” Aku ingin menjadi hamba yang
banyak bersyukur” (HR.Bukhari dan Muslim).Selain banyak salat nabi SAW banyak
berzikir. Beliau berkata: “Sesungguhnya saya meminta ampun
kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali”
(HR.at-Tabrani).
Akhlak
nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Akhlak nabi SAW
bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Hal ini dapat
dilihat dalam firman Allah SWT yang artinya: “Dan sesungguhnya kami (Muhammad)
benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS.Al Qalam:4) ketika Aisyah ditanya
tentang Akhlak Nabi SAW, Beliau menjawab: Akhlaknya adalah Al-Qur’an”(HR.Ahmad
dan Muslim). Tingkah laku nabi tercermin dalam kandungan Al-Qur’an sepenuhnya.
Dalam
diri nabi SAW terkumpul sifat-sifat utama, yaitu rendah hati, lemah lembut,
jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun
dan tidak mabuk pujian. Nabi SAW selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak
berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha.
Oleh
karena itu, Nabi SAW merupakan tipe ideal bagi seluruh kaum muslimin, termasuk
pula para sufi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab
ayat 21 yang artinya:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.”.
B. Tasawuf
Masa Sahabat
Kehidupan
para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para sahabat sebagai murid
langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan dan ucapan mereka senantiasa
mengikuti kehidupan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu perilaku kehidupan
mereka dapat dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, Setidaknya
kehidupan para sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang
dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW karena mereka menyaksikan langsung apa yang
diperbuat dan dituturkan oleh Nabi SAW. :
1. Abu Bakar as-Siddiq
Sejak
hari-hari pertama telah kelihatan bahwa diantara sahabat Nabi, Abu Bakar adalah
yang terdekat kepada Nabi. Ia yang pertama memeluk agama islam diantara orang
laki-laki yang dewasa, ia yang paling banyak memberikan pengorbanannya, baik
kepada Nabi khususnya, maupun kepada islam umumnya. Tidak saja ia melindungi
Nabi berdua dalam gua Hira’ waktu Hijrah ke Madina, tidak saja ia merupakan
orang yang pertama membenarkan Rasulullah sepulang dari Isra’ dan Mi’raj,
tetapi seorang yang telah memberi pengorbanan yang tidak terbatas kepada Nabi.
Pada
mulanya ia adalah salah seorang Kuraisy yang kaya. Setelah masuk islam, ia
menjadi orang yang sangat sederhana. Ketika menghadapi perang Tabuk, Rasulullah
SAW bertanya kepada para sahabat, Siapa yang bersedia memberikan harta bendanya
dijalan Allah SWT. Abu Bakar lah yang pertama menjawab:”Saya ya Rasulullah.”
Akhirnya Abu Bakar memberikan seluruh harta bendanya untuk jalan Allah SWT.
Melihat demikian, Nabi SAW bertanya kepada: ”Apalagi yang tinggal untukmu wahai
Abu Bakar?” ia menjawab:”Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya.”
Diriwayatkan
bahwa selama enam hari dalam seminggu Abu Bakar selalu dalam keadaan lapar.
Pada suatu hari Rasulullah SAW pergi kemesjid. Disana Nabi SAW bertemu Abu
Bakar dan Umar bin Khattab, kemudian ia bertanya:”Kenapa anda berdua sudah ada
di mesjid?” Kedua sahabat itu menjawab:”Karena menghibur lapar.”
Diceritakan
pula bahwa Abu Bakar hanya memiliki sehelai pakaian. Ia berkata:”Jika seorang
hamba begitu dipesonakan oleh hiasan dunia, Allah membencinya sampai ia
meninggalkan perhiasan itu.” Oleh karena itu Abu Bakar memilih takwa sebagai
”pakaiannya.” Ia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat rendah hati, santun,
sabar, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah dan zikir.
2. Umar bin Khattab
Umar
bin Khattab yang terkenal dengan keheningan jiwa dan kebersihan kalbunya,
sehingga Rasulullah SAW berkata:” Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah
dan hati Umar.” Ia terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya.
Diriwayatkan, pada suatu ketika setelah ia menjabat sebagai khalifah, ia
berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan.
Diceritakan,
Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khatab, ketika masih kecil bermain dengan
anak-anak yang lain. Anak-anak itu semua mengejek Abdullah karena pakaian yang
dipakainya penuh dengan tambalan. Hal ini disampaikannya kepada ayahnya yang
ketika itu menjabat sebagai khalifah. Umar merasa sedih karena pada saat itu
tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian anaknya. Oleh karena itu ia membuat
surat kepada pegawai Baitulmal (Pembendaharaan Negara) diminta dipinjami uang
dan pada bulan depan akan dibayar dengan jalan memotong gajinya.
Pegawai
Baitulmal menjawab surat itu dengan mengajukan suatu pertanyaan, apakah Umar
yakin umurnya akan sampai bulan depan. Maka dengan perasaan terharu dengan
diiringi derai air mata , Umar menulis lagi sepucuk surat kepada pegawai Baitul
Mal bahwa ia tidak lagi meminjam uang karena tidak yakin umurnya sampai bulan
yang akan datang.
Disebutkan
dalam buku-buku tasawuf dan biografinya, Umar menghabiskan malamnya beribadah.
Hal demikian dilakukan untuk mengibangi waktu siangnya yang banyak disita untuk
urusan kepentingan umat. Ia merasa bahwa pada waktu malamlah ia mempunyai
kesempatan yang luas untuk menghadapkan hati dan wajahnya kepada Allah SWT.
3.Usman bin Affan
Usman
bin Affan yang menjadi teladan para sufi dalam banyak hal. Usman adalah seorang
yang zuhud, tawaduk (merendahkan diri dihadapan Allah SWT), banyak mengingat
Allah SWT, banyak membaca ayat-ayat Allah SWT, dan memiliki akhlak yang
terpuji. Diriwayatkan ketika menghadapi Perang Tabuk, sementara kaum muslimin
sedang menghadapi paceklik, Usman memberikan bantuan yang besar berupa
kendaraan dan perbekalan tentara.
Diriwayatkan
pula, Usman telah membeli sebuah telaga milik seorang Yahudi untuk kaum
muslimin. Hal ini dilakukan karena air telaga tersebut tidak boleh diambil oleh
kaum muslimin.
Dimasa
pemerintahan Abu Bakar terjadi kemarau panjang. Banyak rakyat yang mengadu
kepada khalifah dengan menerangkan kesulitan hidup mereka. Seandainya rakyat
tidak segera dibantu, kelaparan akan banyak merenggut nyawa. Pada saat paceklik
ini Usman menyumbangkan bahan makanan sebanyak seribu ekor unta.
Tentang
ibadahnya, diriwayatkan bahwa usman terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur’an.
Tebasan pedang para pemberontak mengenainya ketika sedang membaca surah
Al-Baqarah ayat 137 yang artinya:…”Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka.
Dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ketika itu ia tidak
sedikitpun beranjak dari tempatnya, bahkan tidak mengijinkan orang
mendekatinya. Ketika ia rebah berlumur darah, mushaf (kumpulan lembaran)
Al-Qur’an itu masih tetap berada ditangannya.
4. Ali bin Abi Talib
Ali
bin Abi Talib yang tidak kurang pula keteladanannya dalam dunia kerohanian. Ia
mendapat tempat khusus di kalangan para sufi. Bagi mereka Ali merupakan guru
kerohanian yang utama. Ali mendapat warisan khusus tentang ini dari Nabi SAW.
Abu Ali ar-Ruzbari , seorang tokoh sufi, mengatakan bahwa Ali dianugerahi Ilmu
Laduni. Ilmu itu, sebelumnya, secara khusus diberikan Allah SWT kepada Nabi
Khaidir AS, seperti firmannya yang artinya:…”dan telah Kami ajarkan padanya
ilmu dari sisi Kami.” (QS.Al Kahfi:65).
Suatu
waktu ia tengah menjinjing daging di Pasar, lalu orang menyapanya:”Apakah tuan tidak
malu memapa daging itu ya Amirulmukminin (Khalifah)?” Kemudian dijawabnya:”Yang
saya bawa ini adalah barang halal, kenapa saya harus malu?”.
Abu
Nasr As-Sarraj at-Tusi berkomentar tentang Ali. Katanya:”Di antara para sahabat
Rasulullah SAW Amirulmukminin Ali bin Abi Talib memiliki keistimewahan
tersendiri dengan pengertian-pengertiannya yang agung, isyarat-isyaratnya yang
halus, kata-katanya yang unik, uraian dan ungkapannya tentang tauhid, makrifat,
iman, ilmu, hal-hal yang luhur, dan sebagainya yang menjadi pegangan serta
teladan para sufi.
Diantara
Ahl as-Suffah itu ada yang mempunyai keistimewahan sendiri. Hal ini memang
diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada mereka seperti Huzaifah bin Yaman yang
telah diajarkan oleh Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang Munafik. Jika ia
berbicara tentang orang munafik, para sahabat yang lain senantiasa ingin
mendengarkannya dan ingin mendapatkan ilmu yang belum diperolehnya dari Nabi
SAW. Umar bin Khattab pernah tercengang mendengar uraian Huzaifah tentang ciri-ciri
orang munafik.
Adapun
Abu Zar al-Giffarri adalah seorang Ahl as-Suffah termasyur yang bersifat
sosial. Ia tampil sebagai prototipe (tokoh pertama) fakir sejati. Abu Zar tidak
pernah memiliki apa-apa, tetapi ia sepenuhnya milik Allah SWT dan akan menikmati
hartanya yang abadi. Apabila ia diberikan sesuatu berupa materi, maka materi
tersebut dibagi-bagi kepada para fakir miskin.
Begitu
juga Salman Al Farisi salah seorang Ahli Suffah yang hidup sangat sederhana
sampai akhir hanyatnya. Beliau merupakan salah satu Ahli Silsilah dari Tarekat
Naqsyabandi yang jalur keguruan bersambung kepada Saidina Abu Bakar Siddiq
sampai kepada Rasulullah SAW.
BAB III
KESIMPULAN
Mudah-mudahan tulisan di atas menjadi informasi yang
bermanfaat bagi kita semua sehingga tidak ragu dalam berguru mengamalkan ajaran
Tasawuf yang merupakan inti sari Islam yang bersumber dari ajaran Rasulullah
SAW dan kemudian ajaran mulia ini diteruskan oleh Para Sahabat, Tabi’in, Tabi
Tabi’in serta para Guru Mursyid sambung menyambung dengan tetap menjaga
kemurniannya sehingga ajaran tasawuf zaman Rasulullah SAW sampai kepada
kita tetap dalam keadaan murni. Para Guru Mursyid adalah khalifah
Rasulullah SAW ulama Warisatul Anbiya yang menjaga amanah Rasulullah SAW, tidak
berani menambah dan mengurangi sehingga ilmu Tasawuf itu tetap terjaga
sepanjang zaman.
DAPTAR
PUSTAKA
1. Departemen
Agama RI, 1981/1982, Pengantar Ilmu Tasawuf, Proyek Pembinaan
Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Sumatera Utara. Medan.
2. Ris’an Rusli.
2013. Tasawuf dan Tarekat. Jakarta: Rajawali Pers.
4. Ahmad Bangun
Haji Nasution. 2013. Akhlak Tasawuf: Pengenalan, pemahaman, dan
pengaplikasiannya. Jakarta: Rajawali Pers.
5. Abubakar Aceh.
1996. Pengantar Ilmu Tarekat. Solo: Ramadhani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar